Mawar Di Hati Tantri (2)

IMG_20251026_092336

Mawar Di Hati Tantri (2)

“Are those yours?“ selidik sang Polisi curiga lagi.

“Ya.. this is mine Sir” jawab Tantri gugup sambil tangannya mencari-cari ID di dalam tasnya.

Ia mulai gusar, Supiyem tak datang-datang, pesannya tak dibalas-balas.

“Miss, are you okey, Do you need to see a Doctor?” tanya polisi mulai tidak sabar dan sedikit kuatir.

“O. o.. o. no Sir, thank you,” jawab Tantri tambah gugup.

“Addduuuhhh… dipikirnya aku sakit jiwa,” protesnya membatin.

“Are sure?” tanya polisi itu lagi meyakinkan dirinya sambil mencatat identitas di ID-ku.

“Next time don’t do anything dangers, you kicked the tin, it may cause damage or hurt people,” lanjut sang Polisi menasehatinya.

“Yes sir .. “ jawabnya sambil ngeyel dengan dalih kalengnya mau dimasukkan ke tong sampah. Emosi berhasil ditahannya karena dia tidak mau menanggung interogasi yang lebih banyak lagi dari polisi itu dan dia mendapatkan ID nya lagi.

“Ting..,” android utangannya berbunyi dan segera dibacanya, harapannya Supiyem sudah sampai dan mencari-carinya.

“Darling.. maafkan aku, please.. please.. aku tidak bisa menghentikan rasa sayangku kepadamu. Maksudku, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hubunganku dengan istriku yang sudah lama renggang. Tolong balas pesanku ini dan jangan tinggalkan aku Tantri sayang,” belum selesai membacanya, sudah dihapusnya pesan itu.

Kali ini bebannya lepas, sakit memang duri-duri itu menusuk jantungnya, tapi Mawar harus tetap tumbuh untuk melanjutkan pembelajaran. Supiyem lama sekali membalas pesannya. Ia putuskan segera naik taxi ke tempat perkumpulannya, meski perasaannya ketar ketir karena duit di dompetnya tak cukup.

Sesaat ia terbayang lagi ucapan dan pesan-pesan yang dikirim oleh Didik selama ini. Laki-laki itu seperti mutiara penguat baginya apalagi ia terbantu atas solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Jadilah Tantri yang kelihatan kuat dihadapan kawan-kawannya. Tantri bahkan banyak memberikan solusi atas arahan Didik terhadap masalah yang dihadapi kelompoknya. Banyak pekerjaan-pekerjaan organisasinya yang selama ini dibantu oleh laki-laki buaya itu.

“Untuk pengkhianatan nya aku tidak sudi memberi ampun!” sumpahnya.

Taxi berhenti, Tanti mengulurkan uang sambil menurunkan barangnya, ia menutup pintu dengan keras diiringi kesal di hatinya.

Supir taxinya bersuara keras, “Hey siu che… em kau jin aa…“

“Meaaaa… ko ti hai em sap man le kha..” balas Tantri tak kalah keras.

“Mei em sap man aaa… hai yi sap man aaaa..” supir taxi melotot.

Ternyata duit untuk membayar taxi adalah dua puluhan dollar dan hanya itu uang satu satunya..

”Aduh mumet lagi,” dan Supiyem dari kejauhan berlari menghampirinya.

“Ayaaa.. muyisi, ngo bangyau lei kan aa.. tang yat jan aa.. “ pintanya kepada supir untuk menunggu uang tambahan dari temannya Supiyem dengan Bill Taxi yang tidak dimatikan.

“Aduh mampus aku, billnya terus bergerak, alamat utang lagi,“ ia meringis membayangkan utang yang masih menumpuk.

“Lelaki penggombal tidak boleh dikasih hati, aku perempuan yang selalu menerima aduan tentang suami yang kerap tidak tahan dengan godaan hidup dan hasratnya dikampung. Ia sadar kini jadi korban dikibuli tukang gombal yang sudah punya istri. Dungu benar aku ini,“ batinnya kesal.

“Ting,“ pesan di WhatsApp nya berbunyi lagi. Ia tak mau membukanya.

“Ting, “ berbunyi lagi.

“Ting… ting.. ting..,” kali ini berurutan bahkan ber balapan, Tantri tetap tak mau membukanya. Ia yakin sekali itu dari si Wedhus Gibas, penjual ayat-ayat Tuhan yang telah berhasil mengibulinya. Ia sudah benar-benar tidak bisa memaafkan Didik setelah satu bulan masih berharap harap bahwa yang didengarnya adalah tidak benar.

#sastra #citizenmenulis #lingkarmedia #wargamenulis #sastradanbudaya #budayamenulis #tulisanpembaca