“Musium Cilik”, Destinasi Edukasi Baru di WDK Tulungrejo Kota Batu
LINGKARMEDIA.COM – Libur panjang tahun ini menjadi momen istimewa bagi para wisatawan yang berkunjung ke Wisata Desa Kuliner (WDK) di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Selain menikmati suasana pedesaan yang sejuk dan berbagai kuliner khas, pengunjung kini dapat merasakan pengalaman baru melalui hadirnya destinasi edukatif bernama “Musium Cilik”.

Destinasi baru tersebut menjadi pelengkap berbagai wahana yang telah tersedia di kawasan wisata yang dikenal mengusung konsep budaya, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat desa. Dengan luas bangunan sekitar 8 x 25 meter, Musium Cilik menghadirkan nuansa masa lalu yang sarat nilai sejarah dan budaya.
Berbeda dengan museum pada umumnya, Musium Cilik dirancang dengan konsep sederhana namun kaya makna. Di dalamnya tersimpan berbagai alat pertanian tradisional yang pernah digunakan masyarakat pedesaan pada masa lalu. Tidak hanya itu, museum ini juga menampilkan beragam peralatan produksi logam dan baja yang dahulu dimanfaatkan untuk membuat perkakas pertanian.

Setiap sudut ruangan ditata sedemikian rupa agar menyerupai suasana kehidupan masyarakat tempo dulu. Pengunjung yang memasuki area museum seakan diajak kembali ke masa ketika teknologi modern belum hadir dan kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada alat-alat tradisional.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah replika dapur tradisional lengkap dengan tungku berbahan bakar kayu. Berbagai peralatan memasak kuno, meja, serta kursi berbahan kayu turut melengkapi suasana, memberikan gambaran nyata tentang kehidupan keluarga pedesaan pada masa lampau.
Building Properti Wisata Desa Kuliner, Rinto, menjelaskan bahwa Musium Cilik merupakan gagasan yang mulai diwujudkan sejak tahun 2025 sebagai bagian dari upaya menghadirkan wisata edukasi bagi masyarakat.

“Pada tahun 2025 saya mencoba membuat wisata edukasi berupa museum yang kita beri nama Musium Cilik. Isinya tentang alat-alat pertanian zaman dulu agar pengunjung mengingat alat-alat tradisional yang pernah ada dan saat ini sudah hampir tidak kita jumpai,” ujar Rinto kepada Lingkarmedia.com, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, proses menghadirkan museum tersebut tidaklah mudah. Berbagai koleksi yang kini dipamerkan merupakan benda-benda asli yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Ia mengaku membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mendapatkan koleksi yang autentik dan memiliki nilai sejarah.
“Untuk mendapatkan barang-barang ini tidak mudah dan membutuhkan waktu kurang lebih 15 tahun untuk mengumpulkannya. Alat-alat itu kita dapatkan dengan keliling di beberapa wilayah kota dan kabupaten di Pulau Jawa,” katanya.
Dedikasi tersebut terlihat dari beragam koleksi yang tersimpan di dalam museum. Mulai dari alat pengolah tanah, alat panen, peralatan rumah tangga tradisional, hingga perlengkapan pandai besi yang dahulu digunakan masyarakat untuk membuat berbagai kebutuhan pertanian.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Tidak sekadar memajang benda-benda bersejarah, Musium Cilik juga menghadirkan narasi budaya yang menghubungkan kehidupan masyarakat masa lalu dengan generasi saat ini.
Saat memasuki museum, pengunjung akan disambut berbagai tulisan yang berisi doa-doa dan harapan para petani zaman dahulu. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bertani bukan hanya pekerjaan ekonomi semata, tetapi juga bagian dari hubungan spiritual manusia dengan Tuhan dan alam.

“Kita mulai masuk ada semacam pembuka doa-doa para petani zaman dulu. Jadi mereka itu menanam tidak hanya menanam, tetapi mereka berdoa kepada Tuhan dan alam semesta. Lalu masuk lagi ada beberapa alat untuk mengolah tanah yang memang alat-alat yang ada di museum ini benar-benar otentik dan pernah digunakan oleh para petani zaman dahulu,” ungkap Rinto.
Kehadiran elemen budaya tersebut membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih bermakna. Pengunjung tidak hanya melihat benda-benda kuno, tetapi juga memahami filosofi kehidupan masyarakat agraris yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia.

Meski koleksi yang ditampilkan merupakan hasil pencarian selama belasan tahun, proses penataan dan pembangunan Musium Cilik sendiri berlangsung relatif cepat. Rinto menyebutkan bahwa persiapan display museum dilakukan selama kurang lebih dua bulan.
“Kita membuat museum ini persiapan display-nya kurang lebih dua bulan, lalu kita menambah sedikit narasi sambil berjalan hingga saat ini,” jelasnya.
Keberadaan Musium Cilik mendapat respons positif dari sejumlah pengunjung yang datang ke Wisata Desa Kuliner. Banyak di antara mereka yang merasa tertarik karena dapat melihat langsung alat-alat yang sebelumnya hanya diketahui melalui cerita orang tua atau buku pelajaran.

Bagi generasi muda, museum ini menjadi sarana pembelajaran yang menarik untuk mengenal sejarah pertanian dan kehidupan masyarakat desa di masa lalu. Sementara bagi generasi yang lebih tua, keberadaan museum menghadirkan nostalgia terhadap berbagai peralatan yang pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Rinto berharap Musium Cilik dapat terus berkembang dan menjadi pusat edukasi budaya yang lebih besar di masa mendatang. Ia ingin museum tersebut menjadi ruang belajar yang mampu menjembatani generasi muda dengan akar budaya dan sejarah pertanian Indonesia.
“Musium Cilik ini mempunyai harapan semoga menjadi museum yang lebih besar. Motivasi kami bisa memberikan informasi kepada generasi penerus bahwa proses bercocok tanam dan bertani itu seperti apa melalui alat-alat yang ada di tempat ini. Jadi tidak lebih dari memberikan edukasi kepada generasi penerus,” tuturnya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Ke depan, pihak pengelola berencana terus menambah koleksi agar informasi yang disajikan semakin lengkap dan beragam. Saat ini sebagian besar koleksi berasal dari wilayah Jawa Timur hingga Solo, Jawa Tengah.
Rinto mengatakan pihaknya masih membuka peluang untuk mencari dan mengumpulkan benda-benda bersejarah dari daerah lain seperti Yogyakarta dan Jawa Barat agar museum semakin kaya akan representasi budaya Nusantara.
“Ke depannya pasti kita akan menambah koleksi. Barang-barang di sini lebih banyak berasal dari daerah Jawa Timur hingga Solo. Kami belum masuk ke wilayah Jawa Barat dan Jogja,” pungkasnya.
Dengan konsep yang unik dan mengedepankan edukasi budaya, Musium Cilik di Wisata Desa Kuliner Batu diharapkan menjadi salah satu destinasi wisata alternatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengetahuan serta pengalaman berharga bagi para pengunjung dari berbagai kalangan.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








