Selametan Desa Oro-oro Ombo ke-113, Tradisi Leluhur yang Terus Dijaga di Tengah Perkembangan Zaman

IMG-20260525-WA0081

LINGKARMEDIA.COM – Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu kembali menggelar tradisi tahunan Selametan Desa yang tahun ini memasuki usia ke-113. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 23 hingga 25 Mei 2026 tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk menjaga warisan budaya leluhur sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Rangkaian acara diawali dengan pentas seni budaya dan pameran karya anggota PKK Desa Oro-oro Ombo pada Sabtu (23/5/2026). Berbagai pertunjukan tradisional serta keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan membuat suasana desa tampak meriah dan penuh nuansa kekeluargaan.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/mocopat-warisan-budaya-jawa-yang-terus-dijaga-di-tengah-modernisasi/

Memasuki hari kedua, Minggu (24/5/2026), acara inti mulai dilaksanakan dengan ritual adat yang sarat makna spiritual dan budaya Jawa. Tradisi pembacaan Mocopat menjadi pembuka prosesi malam itu sebelum dilanjutkan dengan ritual di sejumlah punden yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Kepala Desa Oro-oro Ombo, Wiweko, mengatakan bahwa ritual malam tersebut merupakan bagian penting dalam rangkaian selametan desa yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Pada malam ini adalah mulai acara inti, ritual di beberapa punden yang kebetulan ada empat punden yang kami kunjungi yakni Punden Bedah Krawang di Krajan Dua, kemudian Gondorejo Satu, dan Dresel Satu. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan Mocopat,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Menurutnya, tradisi Mocopat memiliki nilai budaya yang sangat tinggi karena menjadi bagian dari sastra Jawa klasik yang kini mulai jarang dikenal generasi muda. Oleh sebab itu, pemerintah desa bersama masyarakat berupaya menghidupkan kembali budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

“Mocopat ini merupakan budaya Jawa yang dulu sempat tidak ada, sekarang kita hidupkan lagi supaya anak-anak muda paling tidak tahu bahwa budaya Jawa ini adi luhung,” tambahnya.

Pembacaan Mocopat berlangsung khidmat dengan lantunan tembang Jawa yang menggambarkan nilai kehidupan, spiritualitas, hingga pesan moral bagi masyarakat. Warga dari berbagai usia tampak antusias mengikuti jalannya ritual yang berlangsung hingga larut malam.

Usai pembacaan Mocopat, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama di kawasan Sumber Darmi yang merupakan sumber mata air penting bagi masyarakat Desa Oro-oro Ombo. Tepat menjelang tengah malam, warga bersama perangkat desa memanjatkan doa agar desa senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari berbagai bencana.

“Pada jam dua belas malam kami melakukan ritual di sumber mata air, yaitu doa bersama yang tujuannya memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa supaya Desa Oro-oro Ombo diberkahi, baik sumber mata airnya maupun lingkungannya, serta dijauhkan dari bala musibah,” jelas Wiweko.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Tradisi selametan desa kemudian berlanjut pada Senin dini hari (25/5/2026). Mulai pukul 04.00 WIB setelah Salat Subuh, masyarakat menggelar hajatan di masing-masing punden yang ada di wilayah Krajan dan Gondorejo.

“Besok jam empat pagi setelah Subuh kita ada hajatan di masing-masing punden di Krajan dan Gondorejo, biasanya serentak sekitar jam lima pagi,” katanya.

Setelah prosesi selametan selesai, warga kembali disuguhkan hiburan tradisional berupa Langen Beksan atau Tayuban yang digelar di Punden Krajan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu hiburan rakyat yang selalu dinanti masyarakat setiap pelaksanaan selametan desa.

“Setelah selamatan itu dilanjutkan dengan Langen Beksan atau Tayuban yang dilaksanakan di Punden Krajan, setelah selesai di punden kemudian dilanjutkan di rumah,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, kemeriahan acara juga semakin terasa dengan digelarnya pagelaran Wayang Kulit yang menghadirkan Dalang Ki Bagas Guno Carito dari Gunung Kawi. Dalam pertunjukan tersebut dibawakan lakon “Wahyu Kastubo Urip” yang memiliki makna harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Selain wayang kulit, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan Jok Klitik atau dagelan khas Tulungagung yang menghibur masyarakat hingga dini hari.

Wiweko berharap tradisi selametan desa dapat terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai identitas budaya masyarakat Jawa yang kaya akan nilai kehidupan dan kebersamaan.

“Harapannya masyarakat lebih paham bahwa budaya adat istiadat ini harus tetap dijaga. Meskipun banyak budaya luar masuk, jangan sampai budaya yang diwariskan leluhur kita tertelan perkembangan zaman. Sehingga anak-anak muda masih tahu bahwa kita punya budaya yang luar biasa,” ungkapnya.

Pada pelaksanaan tahun ini, Selametan Desa Oro-oro Ombo mengusung tema “Bersama-sama Masyarakat Membangun Desa”. Tema tersebut menggambarkan pentingnya gotong royong serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus membangun kemajuan desa.

Salah satu ritual yang juga menjadi perhatian dalam rangkaian selametan adalah Siraman Perangkat. Ritual tersebut dilakukan sebelum acara Tayuban dan dipercaya sebagai tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang.

“Sebelum acara Tayuban ada ritual Siraman Perangkat yang sudah dilakukan nenek moyang kita dulu dan kita tinggal melanjutkan saja,” kata Wiweko.

Ritual Siraman Perangkat sendiri memiliki filosofi mendalam dalam budaya Jawa, yakni konsep “Sedulur Papat Kelimo Pancer”. Filosofi tersebut menggambarkan keseimbangan hidup manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

“Makna siraman sendiri ada filosofi bahwa siraman dilakukan ke beberapa arah, ada arah utara, timur, selatan, dan barat. Tujuannya bahwa kita mempunyai sedulur papat kelimo pancer, agar kerukunan masyarakat benar-benar tercipta dan kemakmuran bisa dirasakan bersama,” pungkasnya.

Pelaksanaan Selametan Desa Oro-oro Ombo ke-113 ini menjadi bukti bahwa tradisi budaya lokal masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat. Di tengah derasnya modernisasi, warga Desa Oro-oro Ombo menunjukkan bahwa nilai adat, spiritualitas, dan gotong royong tetap menjadi pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Penulis : Samsu

Editor : Ramses