Pria Tanpa Identitas Tewas Tertemper KA Argo Parahyangan di Bandung Barat

IMG_20260503_211242

LINGKARMEDIA.COM – Seorang pria tanpa identitas dilaporkan meninggal dunia setelah tertemper kereta api di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (2/5/2026) sekira pukul 11.30 WIB. Peristiwa tragis ini terjadi di jalur rel yang melintasi jembatan di Kampung Cirangrang, RT 02/17, Desa Mandalasari, Kecamatan. Cikalongwetan.

Menurut informasi yang dihimpun, korban diduga berada di jalur rel saat kereta melintas dari arah Bandung menuju Gambir. Benturan tidak terhindarkan hingga menyebabkan korban terpental dan jatuh ke dalam jurang sedalam kurang lebih 50 meter yang berada di sisi jembatan rel tersebut. Kondisi geografis lokasi yang berupa jembatan tinggi di atas lembah memperparah dampak kecelakaan.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/misteri-ka-argo-bromo-anggrek-tetap-melaju-kencang-dugaan-gangguan-persinyalan-disorot/

Salah seorang saksi mata di lokasi, Sandi (32), mengaku sempat mendengar suara klakson panjang dari arah kereta sebelum kejadian terjadi. Ia yang saat itu berada di warung miliknya tidak jauh dari rel langsung menoleh ke arah sumber suara.

“Saya dengar klakson panjang, seperti peringatan. Pas saya lihat, ada seorang laki-laki berjalan di atas rel. Tidak lama kemudian, kereta datang dan langsung menabraknya,” ujar Sandi saat dimintai keterangan.

Ia menambahkan bahwa setelah tertemper, tubuh korban langsung terlempar ke bawah jurang di sekitar jembatan. Sandi mengaku tidak berani mendekat karena kondisi medan yang curam dan berbahaya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Informasi serupa juga disampaikan oleh pihak KAI. Berdasarkan laporan internal, masinis KA Argo Parahyangan telah memberikan peringatan dengan membunyikan klakson berulang kali saat melihat seseorang berada di jalur rel. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena korban tidak segera menjauh.

Setelah kejadian, masinis langsung melaporkan insiden tersebut kepada petugas keamanan KAI di stasiun terdekat. Petugas kemudian melakukan pengecekan ke lokasi kejadian untuk memastikan kondisi korban dan situasi di lapangan.

Saat tim keamanan tiba di lokasi, korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dasar jurang. Proses evakuasi pun dilakukan dengan melibatkan aparat kepolisian dan warga sekitar, mengingat medan yang sulit dijangkau.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Kapolsek Cikalongwetan beserta jajarannya langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta penanganan awal. Petugas juga mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi guna mengetahui kronologi pasti peristiwa tersebut.

Hingga saat ini, identitas korban masih belum diketahui. Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan dokumen pengenal seperti KTP atau kartu identitas lainnya pada tubuh korban. Kondisi ini menyulitkan pihak berwenang dalam proses identifikasi.

Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk keperluan visum serta proses identifikasi lebih lanjut. Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membantu mengungkap identitas korban, termasuk melalui pengecekan data orang hilang.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan di area perlintasan kereta api. Jalur rel merupakan area terbatas yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas umum, termasuk berjalan kaki. Selain berbahaya, tindakan tersebut juga melanggar aturan keselamatan transportasi.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Pihak KAI dalam berbagai kesempatan telah mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di jalur rel kereta api. Selain karena risiko kecelakaan yang tinggi, kereta api memiliki jarak pengereman yang panjang sehingga sulit berhenti secara mendadak ketika ada hambatan di jalur.

Kejadian serupa sebelumnya juga pernah terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia, di mana korban tertemper kereta api akibat berada di jalur rel tanpa izin. Faktor kelalaian, kurangnya kesadaran, hingga dugaan kondisi tertentu seperti gangguan kesehatan mental kerap menjadi latar belakang insiden semacam ini.

Meski demikian, pihak kepolisian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti korban berada di jalur rel dalam kasus ini. Penyelidikan masih terus dilakukan, termasuk kemungkinan adanya unsur kelalaian, kecelakaan murni, atau faktor lain.

Warga sekitar lokasi kejadian mengaku cukup terkejut dengan peristiwa tersebut. Mereka menyebut jalur rel di jembatan Cirangrang memang rawan karena berada di area terbuka dengan akses yang relatif mudah dijangkau oleh masyarakat.

“Kadang memang ada orang lewat situ, padahal berbahaya sekali karena itu jembatan tinggi,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Ke depan, masyarakat berharap adanya peningkatan pengawasan serta pemasangan rambu peringatan tambahan di area rawan tersebut. Hal ini dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Sementara itu, pihak kepolisian mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri tertentu untuk segera melapor ke kantor polisi terdekat. Informasi sekecil apa pun diharapkan dapat membantu proses identifikasi korban.

Kasus ini masih dalam penanganan aparat berwenang. Perkembangan lebih lanjut akan disampaikan setelah proses penyelidikan dan identifikasi korban menunjukkan hasil yang lebih jelas.

Penulis: Dasep Juarsa

Editor: Samsu