KKB Gelar Budaya Angkat Isu Perempuan, Demokrasi, dan Kebudayaan di Semarang

IMG-20260420-WA0094

LINGKARMEDIA.COM – Konsorsium Kerja Budaya (KKB) akan menggelar sebuah perhelatan seni dan pemikiran bertajuk Gelar Budaya untuk Perempuan, Demokrasi dan Kebudayaan yang berlangsung mulai 25 April hingga 10 Mei 2026. Kegiatan ini akan dipusatkan di dan menghadirkan berbagai rangkaian acara yang memadukan seni, diskusi, hingga pemutaran film.

Gelar budaya ini menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi atas kondisi perempuan dalam lanskap demokrasi dan kebudayaan di Indonesia saat ini. Melalui pendekatan seni dan dialog publik, KKB berupaya membuka ruang percakapan yang lebih luas dan kritis mengenai posisi perempuan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Koordinator KKB, , menyampaikan bahwa tema perempuan, demokrasi, dan kebudayaan dipilih karena melihat realitas yang masih jauh dari ideal. Ia menilai bahwa hingga saat ini, perempuan belum sepenuhnya mendapatkan ruang yang setara dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam ranah demokrasi dan kebudayaan.

Baca juga:  https://lingkarmedia.com/gerakan-kediri-berbudaya-asri-kolaborasi-asn-dan-masyarakat-jaga-kebersihan-lingkungan/

Menurutnya, situasi nasional masih kental dengan dominasi perspektif maskulinitas yang sering kali berkelindan dengan kepentingan kapitalisme global. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap bagaimana perempuan diposisikan dalam ruang publik, termasuk dalam kebijakan maupun praktik kebudayaan.

“Memang ada sejumlah tokoh perempuan yang muncul di ruang publik, tetapi itu belum cukup untuk menunjukkan adanya gerakan perempuan yang kuat dan masif,” ungkap Yuli.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia sejatinya memiliki sejarah panjang terkait gerakan perempuan yang pernah berperan aktif dalam memperjuangkan hak-haknya. Namun, dalam perjalanan waktu, gerakan tersebut sempat mengalami pembungkaman dan pembatasan ruang gerak.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

“Negeri ini pernah melahirkan gerakan perempuan yang mampu masuk ke ruang-ruang demokrasi dan kebudayaan secara kolektif. Tapi di sisi lain, kita juga pernah menyaksikan bagaimana perempuan kemudian didorong kembali ke ruang domestik dan dibatasi hanya dalam perspektif tubuh dan gender semata,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal KKB, , menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dalam gelar budaya ini dirancang tidak sekadar sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan dan kritik sosial.

Ia menjelaskan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyentuh kesadaran publik secara lebih luas dan mendalam. Oleh karena itu, KKB memanfaatkan berbagai bentuk ekspresi seni sebagai sarana untuk mengangkat isu perempuan, demokrasi, dan kebudayaan secara kreatif namun tetap kritis.

Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1AsvdQn4uw/

“Ini bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang untuk menyuarakan ide, pengalaman, dan refleksi bersama mengenai kondisi yang kita hadapi,” ujar Kelana.

Rangkaian kegiatan dalam gelar budaya ini cukup beragam dan melibatkan banyak pelaku seni serta komunitas. Salah satu agenda utama adalah pameran lukisan tunggal karya seniman Hartono bertajuk Sketsa Perempuan yang akan berlangsung sepanjang acara, mulai 25 April hingga 10 Mei 2026. Pameran ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif visual tentang pengalaman dan representasi perempuan dalam berbagai konteks kehidupan.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Selain pameran, pada 27 April 2026 akan digelar diskusi bertema “Perempuan, Demokrasi dan Budaya” yang menghadirkan berbagai narasumber dari organisasi dan lembaga terkait. Di antaranya adalah panitia Kongres Perempuan Nasional 2026, Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Semarang, serta perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.

Diskusi ini akan dimoderatori oleh dan diharapkan menjadi forum dialog yang konstruktif untuk membahas berbagai tantangan serta peluang dalam memperkuat peran perempuan di ruang demokrasi dan kebudayaan.

Pada hari yang sama, pengunjung juga akan disuguhkan pertunjukan seni dari komunitas Satoe Boemi Folk & Poetry yang menggabungkan musik dan puisi sebagai medium ekspresi. Pertunjukan ini diharapkan mampu menghadirkan suasana reflektif sekaligus memperkaya pengalaman artistik para peserta.

Memasuki awal Mei, tepatnya pada 1 Mei 2026, KKB akan menggelar Pentasastra yang menampilkan pembacaan puisi serta pertunjukan teaterikal berbasis karya sastra. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para seniman untuk menyampaikan pesan-pesan sosial melalui bahasa sastra yang ekspresif.

Selanjutnya, pada 5 Mei 2026, akan dilaksanakan pemutaran dan diskusi film berjudul Sebuah Titik atau Koma. Diskusi ini akan menghadirkan sutradara dan produser , yang akan berbagi perspektif mengenai proses kreatif sekaligus isu yang diangkat dalam film tersebut.

Rangkaian acara berlanjut pada 7 Mei 2026 dengan diskusi kesenian bersama komunitas DeKaSe yang akan membahas pemajuan kebudayaan, khususnya dalam konteks peran perempuan dan dinamika sosial saat ini.

Sebagai penutup, pada 10 Mei 2026 akan digelar pertunjukan musik oleh KPJS yang diharapkan menjadi puncak perayaan sekaligus refleksi dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah berlangsung.

Kelana menambahkan bahwa gelar budaya ini tidak hanya bertujuan sebagai ruang ekspresi seni, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran publik. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pelaksanaan Kongres Perempuan Nasional 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Semarang pada November mendatang.

Melalui kolaborasi antara seniman, aktivis, dan masyarakat, KKB berharap gelar budaya ini mampu menjadi momentum untuk memperkuat gerakan perempuan serta mendorong terciptanya ruang demokrasi dan kebudayaan yang lebih inklusif.

Dengan pendekatan yang menggabungkan seni dan diskusi, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat dalam memahami dan merespons isu-isu perempuan secara lebih kritis dan berkelanjutan.

 

Penulis : Ramses

Editor : Samsu