Sejumlah 50 Kontingen Ikut Ramaikan Spectacular Carnival Gunungsari
Kota Batu, lingkarmedia.com – Masih dalam rangka peringatan HUT RI ke-80, Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu menggelar Karnaval Budaya dengan mengangkat tema ” Spectacular Carnival Gunungsari” yang dilaksanakan pada Minggu (24/8/2025) pagi.
Pada event ini, menampilkan budaya lokal, mobil hias serta pawai sound horeg pada malam harinya. Ini merupakan rangkaian dari acara-acara sebelumnya dan karnaval budaya ini merupakan acara puncak.

Sebanyak 50 kontingen yang tampil dari 5 dusun yakni Brau, Jantur, Kapru, Pager Gunung dan Brombong. Dimana dari jumlah kontingen tersebut terdiri dari 23 sound horeg serta 27 budaya dan mobil hias.
Menurut Kepala Desa Gunungsari, Andi Susilo saat ditemui awak media mengatakan, “karnaval budaya ini dalam rangka memperingati HUT RI Ke-80 yang diikuti 10 RW, 5 dusun. Dimana masing-masing RW mengangkat temanya sendiri, jadi mereka sudah memiliki tema masing-masing”.

Menyinggung penampilan dari pada sound horeg dalam karnaval ini, Andi Susilo menegaskan,”sesuai komitmen penampilan sound horeg dengan enam sub. Harapannya semua kontingen dapat patuh, taat dengan aturan enam sub itu”.
“Dulu awal rapat kita itu belum ada aturan tersebut. Juni itu kita sudah rapat boleh sound tapi sepakat untuk tidak pakai dancer. RT, RW, tokoh agama dan masyarakat sepakat tetapi tidak ada tarian-tarian yang erotis”, ungkap Andi Susilo.

Sementara itu, anggota DPRD Komisi B , Sujono Joned kepada awak media menyampaikan bahwa Dusun Pager Gunung yang terdiri dari 2 RW menampilkan tema Among Sumpah Mukti Palapa dari RW 1, sedangkan RW 2 mengangkat tema Legenda Putri Gunung Banyak.
“Di Pager Gunung ini terdapat Dua RW, dan masing memiliki”, kata Andi Susilo.

Terkait adanya pro kontra terhadap penampilan sound horeg, Sujono Joned menyampaikan, “kita harus bisae membedakan antara teknologi dan budaya. Dengan Sound horeg ini cukup kita apresiasi, karena ini kemajuan teknologi. Yang menjadi persoalan adalah yang disetel “.
“Teknologi ini dulu ada di ruang tertutup, dimana musiknya memang untuk dikonsumsi di ruang tertutup. Yang jadi persoalan saat ini di keluarkan di ruang terbuka. Harusnya teknologi itu ada kemasan kalau memang ada yang perlu angkat atau disosialisasikan adalah teknologi nya mestinya kontes terkait teknologinya. Jadi ini hanya salah penempatannya”, imbuhnya.
(Ji)








