MBG Disebut Jadi Emerging Market yang Mendistorsi Pasar

IMG_20260919_152132

Kota Batu, Lingkarmedia.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut telah menciptakan emerging market atau pasar baru dengan skala permintaan yang besar terhadap berbagai komoditas pangan. Kondisi tersebut bahkan dinilai telah memberikan dampak terhadap dinamika pasar, khususnya komoditas protein hewani dan bahan pangan pokok.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Sudaryono, B. Eng., M. M., MBA, usai memberikan sambutan dalam acara Rembug Tani Nelayan Andalan Nasional yang digelar di Gedung Graha Pancasila, Kota Batu, Sabtu (19/9/2026).

Baca juga: https://lingkarmedia.com/batu-street-food-festival-2026-perkuat-identitas-kota-kreatif-gastronomi/

Sudaryono secara terbuka menyebut besarnya kebutuhan bahan pangan untuk program MBG telah memengaruhi pasar. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diikuti dengan penguatan sistem distribusi dan pengendalian rantai pasok agar kebutuhan dapur MBG dapat terpenuhi tanpa menimbulkan persoalan baru di lapangan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Sudaryono, B. Eng., M. M., MBA

“MBG ini emerging market, jadi dia mendistorsi pasar. Makanya salah satunya cara saya akan membangun marketplace tadi supaya kita bisa kontrol,” kata Sudaryono kepada awak media

Menurut Sudaryono, salah satu komoditas yang mengalami peningkatan permintaan cukup signifikan adalah protein hewani, khususnya daging ayam. Meningkatnya kebutuhan tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah dapur yang melayani program MBG di berbagai wilayah.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Kondisi itu, lanjutnya, berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga komoditas di pasar. Karena itu, diperlukan mekanisme yang mampu menghubungkan kebutuhan dapur MBG dengan para produsen maupun pemasok secara lebih terukur.

Stok Ayam di Sejumlah Daerah Menipis

Sudaryono mengungkapkan, dampak peningkatan permintaan tersebut bahkan mulai dirasakan di sejumlah daerah di luar Pulau Jawa. Di beberapa kabupaten, stok ayam beku maupun ayam dingin disebut tidak tersedia dalam jumlah yang mencukupi.

“Bahkan daerah di luar Jawa, di beberapa kabupaten stok ayam frozen atau ayam dinginnya enggak ada. Ini yang juga menyebabkan orang beli ayamnya asal di supplier pasar sehingga ayamnya sudah tidak fresh lagi, ini yang mengakibatkan gangguan,” ujarnya.

Persoalan tersebut menjadi perhatian karena kualitas bahan pangan merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan MBG. Selain memastikan jumlah pasokan mencukupi, bahan pangan yang digunakan juga harus memenuhi standar keamanan dan kualitas yang telah ditetapkan.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan peningkatan permintaan akibat program MBG diimbangi dengan kesiapan produksi, distribusi, penyimpanan, hingga pengawasan bahan pangan.

Petani Kota Batu Berpeluang Masuk Rantai Pasok MBG

Di sisi lain, besarnya kebutuhan bahan pangan untuk MBG dinilai dapat menjadi peluang bagi daerah penghasil komoditas pertanian, termasuk Kota Batu.

Kota Batu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Dengan kebutuhan bahan pangan yang terus meningkat, program MBG berpotensi membuka pasar baru bagi hasil produksi petani lokal.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Wali Kota Batu, H. Nurochman, SH MH, berharap program BGN dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat, terutama melalui kemitraan antara dapur MBG dengan penyedia bahan pangan lokal.

“Program BGN diharapkan punya dampak positif langsung terhadap masyarakat. Maka kemitraan antara dapur dengan penyedia yang berakibat pada dunia pertanian di Kota Batu sangat kami harapkan,” ungkap Nurochman.

Menurutnya, kerja sama konkret antara dapur MBG dan penyedia bahan pangan lokal akan memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi di Kota Batu.

Semakin banyak kebutuhan dapur MBG yang dipenuhi dari hasil produksi masyarakat Kota Batu, kata Nurochman, semakin besar pula peluang peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Semakin konkret kerja samanya dapur dengan penyedia, kemudian mengambil sayur dan buah dari Kota Batu serta kebutuhan-kebutuhan lain di Kota Batu, ini semakin memperbaiki pertumbuhan ekonomi Kota Batu,” imbuhnya.

Dapur MBG Diminta Penuhi Standar Higienis

Selain komoditas sayuran dan buah, potensi Kota Batu juga terdapat pada sektor peternakan sapi perah. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Batu, H. Heli Suyanto, SH MH, menyebut produksi susu sapi segar di Kota Batu dapat menjadi bagian dari rantai pasok MBG.

Heli mengatakan, berdasarkan informasi yang disampaikan Kepala BGN Sudaryono, ke depan akan terdapat ketentuan mengenai penggunaan susu segar dalam penyelenggaraan MBG.

“Seperti disampaikan Kepala BGN Mas Sudaryono bahwa nanti ada peraturan, entah Perpres atau keputusan setingkat menteri, bahwa dapur-dapur wajib menggunakan fresh milk atau susu segar,” jelas Heli.

Ia menyebut, sebelumnya terdapat ketentuan mengenai kandungan susu sekitar 20 persen. Namun, berdasarkan informasi terbaru yang diterimanya, penggunaan susu segar nantinya diarahkan hingga 80 persen.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Menurut Heli, kebijakan tersebut sekaligus dapat membuka peluang bagi peternak sapi perah di Kota Batu untuk memasok kebutuhan program MBG.

Di sisi lain, ia mengingatkan seluruh pengelola dapur MBG agar mematuhi standar kebersihan dan persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Makanya bagi pemilik dapur semuanya, terutama di wilayah Kota Batu, harus mematuhi aturannya, higienisnya, SLHS-nya harus ada,” tegasnya.

Heli juga menyebut masyarakat dapat ikut melakukan pengawasan. Apabila menemukan dapur MBG yang dinilai tidak memenuhi ketentuan atau standar kebersihan, masyarakat dipersilakan menyampaikan laporan kepada Pemerintah Kota Batu.

“Bagi masyarakat yang menemukan dapur-dapur yang nakal, silakan lapor ke Pemerintah Kota Batu,” tandasnya.

Dengan meningkatnya kebutuhan MBG, penguatan kemitraan antara dapur, petani, peternak, nelayan, dan penyedia bahan pangan menjadi salah satu aspek penting agar program tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan makanan bergizi, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat di daerah.

 

Penulis: Samsu