Marsinah Diusulkan Jadi Calon Pahlawan Nasional 2025

IMG-20251026-WA0036

Jakarta, ingkarmedia.com – Kementerian Sosial (Kemensos) resmi mengusulkan 40 tokoh untuk mendapat gelar pahlawan nasional tahun 2025.

Di antara nama-nama tersebut, terdapat figur penting dari berbagai bidang seperti aktivis buruh, ulama, hingga mantan presiden. Salah satu nama yang mencuri perhatian publik adalah Marsinah, aktivis buruh perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur.

Usulan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf kepada Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Fadli Zon, di Kantor Kementerian Kebudayaan.

Begitupun ada kontroversial terkait usulan nama Soeharto yang menolak dijadikan pahlawan karena catatan sejarah masa lalunya.

Usulan ini sudah diserahkan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf kepada Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Fadli Zon, di Kantor Kementerian Kebudayaan.

Menurut Saifullah Yusuf, proses pengusulan calon pahlawan nasional dilakukan melalui mekanisme seleksi berlapis dan transparan. Setiap nama terlebih dahulu dibahas di tingkat kabupaten dan provinsi, melibatkan masyarakat, ahli sejarah, dan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).

“Usulan itu harus didukung bukti-bukti kuat, dibahas di daerah, lalu diteruskan ke provinsi dan Kemensos sebelum naik ke Dewan Gelar,” ujar Saifullah, dikutip dari Antara, Jumat (24/10/2025).

Setelah melalui kajian mendalam, berkas usulan diserahkan kepada Ketua Dewan Gelar Fadli Zon untuk dibahas bersama tim lintas lembaga.

Sidang penetapan akhir nantinya akan merekomendasikan nama-nama yang layak diajukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk disahkan sebagai pahlawan nasional 2025.

Tokoh-tokoh Utama dalam Usulan Tahun 2025

Usulan Baru Tahun 2025

1. KH Muhammad Yusuf Hasyim – Jawa Timur

2. Demmatande – Sulawesi Barat

3. KH. Abbas Abdul Jamil – Jawa Barat

4. Marsinah – Jawa Timur

Usulan Tunda (2010-2024)

Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – Sumatera Barat (2011), Abdoel Moethalib Sangadji – Maluku (2023),

Jenderal TNI (Purn) Ali Sadikin – Jakarta (2010), Letkol (Anumerta) Charles Choesj Taulu – Sulawesi Utara (2023), Mr Gele Harun – Lampung (2023), Letkol Moch Sroedji – Jawa Timur (2019), Prof Dr Aloei Saboe – Gorontalo (2021),

Letjen TNI (Purn) Bambang Sugeng – Jawa Tengah (2010), Mahmud Marzuki – Riau (2022), Letkol TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar – Aceh (2021), Drs Franciscus Xaverius Seda – Nusa Tenggara Timur (2012), Andi Makkasau Parenrengi Lawawo – Sulawesi Selatan (2010), Tuan Rondahaim Saragih – Sumatera Utara (2020),

Marsekal TNI (Purn) R. Suryadi Suryadarma – Jawa Barat (2024),

KH Wasyid – Banten (2024),

Mayjen TNI (Purn) dr Roebiono Kertopati – Jawa Tengah (2024),

Usulan Memenuhi Syarat Diajukan Kembali (2011-2023)

Syaikhona Muhammad Kholil – Jawa Timur (2021)

KH Abdurrahman Wahid – Jawa Timur (2010)

HM Soeharto – Jawa Tengah (2010)

KH Bisri Syansuri – Jawa Timur (2020)

Sultan Muhammad Salahuddin – Nusa Tenggara Barat (2012)

Jenderal TNI (Purn) M Jusuf – Sulawesi Selatan (2010)

HB Jassin – Gorontalo (2022)

Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja – Jawa Barat (2022)

M Ali Sastroamidjojo – Jawa Timur (2023)

dr Kariadi – Jawa Tengah (2020)

RM Bambang Soeprapto Dipokoesoemo – Jawa Tengah (2023)

Basoeki Probowinoto – Jawa Tengah (2023)

Raden Soeprapto – Jawa Tengah (2010)

Mochamad Moeffreni Moe’min – Jakarta (2018)

KH Sholeh Iskandar – Jawa Barat (2023)

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli – Sumatera Barat (2022)

Zainal Abidin Syah – Maluku Utara (2021)

Prof Dr Gerrit Augustinus Siwabessy – Maluku (2021)

Chatib Sulaiman – Sumatera Barat (2023)

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri – Sulawesi Tengah (2010)

Pertimbangan dan Harapan Pemerintah

Saifullah Yusuf menegaskan bahwa perbedaan pendapat di masyarakat mengenai daftar nama calon pahlawan nasional merupakan hal yang wajar.

Menurutnya, proses penilaian tokoh harus tetap berpegang pada syarat formil dan historis yang telah ditetapkan pemerintah.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga memastikan bahwa Dewan Gelar akan menelaah seluruh masukan dari masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan perwakilan daerah secara objektif sebelum membuat keputusan akhir.

Penulis: Ramses

Editor: samsu