Jeritan Driver Kopi Keliling di Kota Malang
Kota Malang, lingkarmedia.com – Usaha dagang minuman kopi keliling dengan menggunakan gerobak kendaraan motor listrik kini mulai ngetren di Kota Malang. Hal ini nampak di beberapa tempat-tempat keramaian seperti alun-alun, depan kampus dan tempat lainnya banyak para driver yang menjajakan usaha ini mangkal.
Salah satunya di depan pintu masuk salah satu Universitas di Kota Malang. Terdapat beberapa brand atau merk driver kopi keliling ini mangkal, ada Go Kopi, Esay To Cofee dan Kopi Raja.

Salah satu driver kopi keliling, Reza Haikal (30) warga asli Jakarta Utara mengaku sudah 1 tahun menjalan usaha ini. Dirinya mengatakan untuk marketing usaha kopi keliling dengan menggunakan sepeda motor listrik dan brand tertentu khususnya di Kota Malang sangat bagus dibandingkan di Jakarta.
Reza yang seharinya menjual minuman kopi ini diambil dari pemilik nya yang berada di daerah Kecamatan Dau Malang. Ditambahkannya, hasil yang didapatkannya dari menjual minuman tersebut, dirinya mendapatkan 800 rupiah per cup nya dengan berbagai menu dan harga.
“Dijual per cup nya delapan ribu rupiah sampai dua belas ribu, dari per cup nya saya mendapatkan bonusnya delapan ratus rupiah per cup”, ujar Reza .
Namun demikian, dalam menjalankan usahanya tersebut tidak lepas dari operasi penertiban yang dilakukan pihak Satpol PP yang sering kali mengusir mereka.
“Kadang dilarang oleh satpol pp, bahkan diusir dan disita seperti baterai, payung. Memang ada himbauan tidak langsung diambil, kita dihimbau dulu, dua kali tiga kali baru diambil”, kata Reza.
“Cuma, kalau mau caranya seperti itu kita harus diberi wadah juga. Kalau diusir begini, kami akan kembali lagi, karena hidup kita di sini”, harapnya.
Berbeda dengan Reza, seorang yang berprofesi yang sama mengisahkan pengalaman pilunya saat menjajakan dagangannya. Sebut saja Rama (bukan nama sebenarnya) umur 21 tahun. driver salah satu merk minuman kopi, kepada awak media Rama mengaku sudah 4 kali dagangannya ditahan pihak Satpol PP.
“Sejak saya berdagang, sering kali diusir sama Satpol PP, bahkan sekarang mulai main ambil baterai, payung. Kalau mau ambil suruh bayar seratus ribu untuk payung dan seratus lima puluh untuk baterai”, ungkap Rama warga Malang Selatan ini kepada awak media.
Dari hasil dagangannya tiap harinya hanya mendapatkan bonus sebesar 500 rupiah per cup nya. Dimana satu harinya Rama membawa 50 cup untuk dijual. “Tiap harinya saya paling banyak habis tiga puluh cup terjual”, imbuhnya.
Mirisnya, dari hasil tersebut, Rama mengaku jika ada tindakan dari Satpol PP, dirinya yang harus menanggung beban biaya pengambilan barang berupa 4 buah baterai dan payung tanpa ada bantuan dari pihak owner.
“Saya sering kali mengalaminya, dan kalau ambil barang yang disita Satpol PP saya tanggung sendiri biayanya. Dengan hasil segitu, kalau kena sita barang dari Satpol PP kan gak bisa mencukupi, belum lagi untuk biaya hidup”, cerita Rama saat ditemui awak media di tempatnya mangkal.
Dirinya berharap, Satpol PP tidak menyita barang saat operasi penertiban dilakukan.
(Ji)








