Global Sumud Flotilla: Ribuan Relawan Bersolidaritas Menembus Blokade Israel

LINGKARMEDIA.COM – Gerakan Solidaritas Global lewat misi kemanusiaan internasional bertajuk Global Sumud Flotilla resmi memasuki fase pelayaran menembus blokade Israel. Pada Ahad, 12 April 2026, sekitar 70 kapal yang membawa hampir 1.000 relawan dari 70 negara bertolak dari Barcelona, Spanyol, menuju Gaza.
Global Sumud Flotilla adalah sebuah inisiatif dari 15.000 partisipan terdaftar dari lebih dari 44 negara pimpinan masyarakat sipil internasional yang diluncurkan pada pertengahan 2025, yang ditujukan untuk mendobrak blokade Israel di Jalur Gaza. Kegiatan tersebut mengambil nama dari ṣumūd, Arab untuk ‘keteguhan’ atau ‘ketahanan’.
Empat koalisi besar berada di belakang misi ini yakni Global Movement to Gaza (GMTG), gerakan akar rumput internasional yang sejak lama mengorganisir aksi solidaritas global, Freedom Flotilla Coalition (FFC), berpengalaman 15 tahun dalam misi laut ke Gaza, termasuk flotilla legendaris Mavi Marmara, Madleen, dan Handala, Maghreb Sumud Flotilla, inisiatif dari Afrika Utara yang mengorganisir konvoi solidaritas dan Sumud Nusantara, armada rakyat dari Malaysia, dan delapan negara lain di Asia Tenggara, yang membawa semangat solidaritas negara-negara Global South.
Keberangkatan ribuan Relawan ini merupakan eskalasi nyata dari solidaritas global terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Armada tersebut membawa misi utama menembus blokade yang diberlakukan Israel sekaligus membuka akses bantuan bagi warga sipil yang terdampak konflik berkepanjangan.
Dalam pernyataan resmi Steering Committee Global Sumud Flotilla, Barcelona disebut sebagai titik balik antara duka dan tindakan. Pernyataan itu menegaskan bahwa menunggu tanpa aksi dinilai setara dengan membiarkan jatuhnya lebih banyak korban sipil di Palestina.
Kekuatan misi ini tidak hanya terletak pada jumlah relawan, tetapi juga pada dukungan organisasi internasional. Greenpeace mengerahkan kapal legendaris Arctic Sunrise untuk memperkuat operasi maritim. Kapal ini dikenal memiliki pengalaman panjang dalam misi lingkungan dan kemanusiaan, termasuk di wilayah konflik dan perairan berisiko tinggi.
Selain itu, kapal penyelamat Open Arms milik Proactiva Open Arms turut bergabung. Organisasi ini selama bertahun-tahun aktif dalam operasi penyelamatan pengungsi di Laut Mediterania. Kehadiran mereka menambah kapasitas evakuasi darurat serta perlindungan sipil bagi para relawan di tengah potensi risiko perjalanan.
Secara strategis, flotilla ini juga diposisikan sebagai bagian dari tekanan global terhadap kebijakan blokade Gaza. Steering Committee menegaskan bahwa armada ini bukan sekadar pengiriman bantuan, tetapi simbol perlawanan terhadap impunitas dan kebuntuan politik internasional.
Upaya mematahkan blokade lewat jalur laut sudah berulang kali dilakukan, namun hampir selalu dihadang Israel. Tahun 2008, dua kapal dari Free Gaza Movement berhasil menembus blokade, menjadi preseden pertama.
Tahun 2010, tragedi Mavi Marmara dimana pasukan Israel menyerbu di perairan internasional, menewaskan 10 aktivis dan memicu kecaman global.
Antara tahun 2011–2018, beberapa armada termasuk Freedom Flotilla II, Marianne of Gothenburg, dan Just Future for Palestine berlayar, tapi hampir semuanya diintersep.
Terakhir tahun 2025, serangkaian serangan kembali terjadi. Kapal Conscience dihantam drone di Laut Mediterania, Madleen dan Handala diserbu militer Israel di perairan internasional saat membawa bantuan.
Dan saat ini misi kemanusiaan internasional bertajuk Global Sumud Flotilla terus dilanjutkan. Pada Ahad, 12 April 2026, sekitar 70 kapal yang membawa hampir 1.000 relawan dari 70 negara bertolak dari Barcelona, Spanyol, menuju Gaza.
Keberangkatan ini menandai eskalasi nyata dari solidaritas global terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Armada tersebut membawa misi utama menembus blokade yang diberlakukan Israel sekaligus membuka akses bantuan bagi warga sipil yang terdampak konflik berkepanjangan.
Dalam pernyataan resmi Steering Committee Global Sumud Flotilla, Barcelona disebut sebagai titik balik antara duka dan tindakan. Pernyataan itu menegaskan bahwa menunggu tanpa aksi dinilai setara dengan membiarkan jatuhnya lebih banyak korban sipil di Palestina.
Kekuatan misi ini tidak hanya terletak pada jumlah relawan, tetapi juga pada dukungan organisasi internasional. Greenpeace mengerahkan kapal legendaris Arctic Sunrise untuk memperkuat operasi maritim. Kapal ini dikenal memiliki pengalaman panjang dalam misi lingkungan dan kemanusiaan, termasuk di wilayah konflik dan perairan berisiko tinggi.
Selain itu, kapal penyelamat Open Arms milik Proactiva Open Arms turut bergabung. Organisasi ini selama bertahun-tahun aktif dalam operasi penyelamatan pengungsi di Laut Mediterania. Kehadiran mereka menambah kapasitas evakuasi darurat serta perlindungan sipil bagi para relawan di tengah potensi risiko perjalanan.
Sejumlah relawan dan aktivis dari Indonesia telah berada di Barcelona untuk bergabung dengan peserta lain dari berbagai negara. Armada dijadwalkan berangkat secara serentak pada 12 April 2026 dari pelabuhan kota tersebut.
Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) memastikan akan mengirim tiga kapal dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla 2026 yang bertujuan menembus blokade Jalur Gaza. Salah satu kapal tersebut akan dinamai “Farizal Ramadhon”, diambil dari nama prajurit TNI yang gugur saat menjalankan tugas perdamaian di Lebanon.
Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, mengatakan kapal itu dibeli melalui penggalangan dana masyarakat Indonesia. “Sejauh ini kami berencana menamainya Kapal Farizal Ramadhon,” ujar Maimon saat berada di Barcelona, Spanyol, Sabtu (11/4/2026).
Penamaan ini, menurut Maimon, menjadi bentuk penghormatan terhadap Farizal Ramadhon, yang gugur saat bertugas sebagai bagian dari pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon Selatan. Ia dilaporkan meninggal saat serangan militer Israel di wilayah yang dikenal sebagai zona biru PBB.
Selain kapal tersebut, GPCI juga merencanakan dua kapal lain dengan nama tokoh nasional, yakni Kapal Malahayati dan Kapal Hasanuddin. Ketiganya akan bergabung dengan sekitar 100 kapal dari berbagai negara dalam armada Global Sumud Flotilla.
Secara strategis, flotilla ini juga diposisikan sebagai bagian dari tekanan global terhadap kebijakan blokade Gaza. Steering Committee menegaskan bahwa armada ini bukan sekadar pengiriman bantuan, tetapi simbol perlawanan terhadap impunitas dan kebuntuan politik internasional.
Keberangkatan armada terjadi kurang dari 24 jam setelah Amnesty International menyerukan jaminan keamanan bagi para relawan. Amnesty memperingatkan potensi penahanan atau tindakan represif yang bisa terjadi selama perjalanan, mengingat sensitivitas geopolitik di kawasan tersebut.
Di sisi lain, gerakan ini diperkuat oleh kampanye global bertajuk “We Rise”. Kampanye tersebut dirancang sebagai tekanan paralel di darat, melalui aksi penutupan pelabuhan yang terkait distribusi senjata, mobilisasi seni publik, hingga seruan boikot dan divestasi ekonomi.
Dengan dimulainya pelayaran dari Barcelona, Global Sumud Flotilla kini memasuki fase paling krusial. Perjalanan menuju Gaza tidak hanya menguji ketahanan logistik dan keselamatan maritim, tetapi juga menjadi ujian terhadap respons komunitas internasional terhadap krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.
Meski menghadapi risiko tinggi, aktivis internasional menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar simbolis. “Flotilla adalah cara langsung untuk menantang blokade,” ujar Abukeshek, “Dan pesan kami jelas: pengepungan Gaza harus berakhir.”
Penulis: Tim Ekopol
Editor: Ramses








