Sejarah dan Peringatan Apa Saja Pada 25 Desember?

IMG-20251225-WA0005

LINGKARMEDIA.COM – Dua Puluh Lima Desember dikenal luas sebagai hari raya besar Natal yang diperingati di berbagai belahan dunia. Namun, di balik satu tanggal ini, terdapat pula beberapa peristiwa lain yang lahir dari latar belakang agama, sejarah, budaya, hingga sains.

Oleh karena itu, 25 Desember juga menandai sejumlah peringatan penting lain yang menarik untuk disimak. Apa saja?

Hari Raya Natal (Christmas Day)

Menurut catatan sejarah, perayaan kelahiran Yesus pertama kali digelar di wilayah Romawi. Ini berkat jasa seorang Kaisar Romawi pertama yang beragama Kristen.

Dilansir Encyclopaedia Britannica, Flavius Valerius Constantinus lahir pada 27 Februari 280 di Naissus (sekarang Serbia) dan besar di istana Nicomedia (sekarang Turki). Dia adalah Kaisar Romawi pertama yang memeluk agama Kristen dan memilih 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, menggantikan perayaan pagan yang sudah ada sekaligus membuka jalan bagi perkembangan Kristen di Eropa.

Sebelumnya, 25 Desember juga menjadi peringatan Sol Invictus atau Hari Matahari yang tak terkalahkan dalam kebudayaan Romawi Kuno sebelum menjadi perayaan Natal. Pemimpin gereja kemudian menetapkan tanggal ini sebagai kelahiran Yesus Kristus, sang ‘Terang Dunia’ yang datang membawa harapan baru bagi manusia.

Tahun 274 Masehi, Kaisar Romawi Aurelius sebenarnya sudah menggelar perayaan Dies Natalis Solis Invicti atau Kelahiran Sang Matahari Yang Tak Terkalahkan, meski terkadang jatuh pada bulan Oktober.

Perayaan Dies Natalis Solis Invicti sendiri adalah festival pagan sebagai bentuk penghormatan kepada dewa matahari untuk merayakan kemenangan matahari atas kegelapan. Festival ini sangat populer di kalangan masyarakat Romawi kuno dan berpengaruh besar pada perayaan Natal yang kemudian ditetapkan gereja.

Konstantinus Aurelius kemudian memeluk agama Kristen dan memilih 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, menggantikan perayaan pagan yang sudah ada. Keputusan ini jadi titik penting penyebaran agama Kristen di seluruh Kekaisaran Romawi.

Alkitab sendiri tidak memberi tahu tanggal berapa Yesus lahir. Namun penentuan tanggal Yesus lahir pada 25 Desember diperkirakan diukur berdasarkan Kabar Suka Cita (Anunsiasi) yang disampaikan malaikat ke Maria pada 25 Maret, bahwa dia akan melahirkan Yesus. 25 Maret juga merupakan masa titik musim semi matahari (vernal equinox) di belahan bumi utara termasuk Eropa. Sembilan bulan setelah 25 Maret adalah 25 Desember, maka Yesus diperkirakan lahir pada 25 Desember.

Paus Julius I memilih tanggal ini sebagai kelahiran Yesus diduga berkaitan dengan upaya gereja untuk mengadopsi dan menyerap tradisi festival Saturnalia dari budaya pagan yang sangat dihormati di Romawi Kuno.

Meskipun beberapa bukti Alkitab menunjukkan kelahiran Yesus yang mungkin terjadi pada musim semi, Paus Julius I tetap berusaha untuk menghubungkan tradisi Kristen dan pagan ini.

Tradisi Natal pun mulai menyebar. Pada 432 Masehi, perayaan ini sampai ke Mesir, dan pada akhir abad keenam, Natal diterima di Inggris. Oleh karena itu, penetapan tanggal 25 Desember sebagai kelahiran Yesus Kristus juga mengarah pada penyebaran luas perayaan Natal di seluruh dunia.

Kini, Natal diperingati secara global dan lintas budaya. Bahkan di negara dengan penduduk mayoritas non-Kristen, 25 Desember sering dimaknai sebagai hari kebersamaan, toleransi, dan berbagi kebaikan. Nilai universal inilah yang menjadikan Natal relevan bagi banyak kalangan.

LINGKARMEDIA.COM mengucapkan: “Happy Holidays! May your New Year be filled with new achievements and success. Thank you for inspiring us.” (Selamat berlibur! Semoga Tahun Baru Anda dipenuhi dengan pencapaian dan kesuksesan baru. Terima kasih telah menginspirasi kami.

Quaid-e-Azam Day (Pakistan)

Selain Natal, tanggal 25 Desember juga diperingati sebagai Quaid-e-Azam Day di Pakistan. Peringatan ini bertepatan dengan hari kelahiran Muhammad Ali Jinnah, tokoh pendiri dan bapak bangsa Pakistan. Jinnah lahir pada 25 Desember 1876 dan dikenang sebagai sosok sentral dalam perjuangan kemerdekaan Pakistan.

Pada tanggal ini, masyarakat Pakistan mengenang jasa dan pemikiran Jinnah yang menjunjung tinggi prinsip kebebasan, persatuan, dan keadilan. Berbagai kegiatan kenegaraan seperti upacara resmi, pidato, dan ziarah ke makam Jinnah dilakukan sebagai bentuk penghormatan.

Quaid-e-Azam Day menjadi pengingat akan pentingnya kepemimpinan visioner dan pengabdian terhadap negara. Bagi Pakistan, 25 Desember bukan hanya hari libur, tetapi juga momentum refleksi kebangsaan dan komitmen terhadap cita-cita pendirian negara.

Newtonmas.

Pada 25 Desember juga memiliki makna unik dalam dunia sains melalui peringatan Newtonmas. Hari ini merujuk pada kelahiran ilmuwan besar Isaac Newton, yang lahir pada 25 Desember 1642 menurut kalender Julian. Newton dikenal luas atas kontribusinya dalam fisika, matematika, dan astronomi.

Newtonmas berkembang sebagai perayaan sekuler yang dirayakan oleh komunitas pencinta sains dan akademisi. Alih-alih bernuansa religius, Newtonmas diisi dengan diskusi ilmiah, humor sains, hingga pertukaran hadiah bertema pengetahuan.

Menariknya, Newtonmas sering diposisikan bukan sebagai tandingan Natal, melainkan sebagai pelengkap. Perayaan ini menunjukkan bahwa sains dan tradisi keagamaan dapat hidup berdampingan dalam satu tanggal yang sama.

National Pumpkin Pie Day

Di Amerika Serikat, 25 Desember juga diperingati sebagai National Pumpkin Pie Day. Hari ini merayakan pai labu, hidangan penutup khas yang populer pada musim gugur dan musim dingin, terutama saat Thanksgiving dan Natal.

Pumpkin pie memiliki nilai nostalgia dan budaya yang kuat, karena sering disajikan dalam momen kebersamaan keluarga. Hidangan ini menjadi simbol kehangatan rumah dan tradisi kuliner yang diwariskan lintas generasi.

Peringatan ini menunjukkan bahwa 25 Desember tidak hanya sarat makna spiritual dan historis, tetapi juga menyentuh aspek sederhana kehidupan sehari-hari, seperti makanan dan kebersamaan di meja makan.

Penulis: Tim Literasi Global

Editor: Ramses