Perempuan Desa Karangsalam Ubah Sampah Jadi Rupiah

IMG-20251113-WA0082

LINGKARMEDIA.COM – Sampah juga menjadi masalah besar di desa, mengancam kesehatan juga pemicu banjir. Hal inilah yang memotivasi Elina untuk mengolah sampah di desanya bahkan kemudian mengubah sampah jadi rupiah.

Elina mengatakan, ide ini sudah dia lakukan bersama teman-temanya anggota PKK sejak 8 tahun lalu. PKK Desa sangat berperan dengan kesadaran ibu-ibu desa untuk peduli terhadap lingkungannya. Mengingat saat itu, banyak sampah berserakan di dusunnya.

“Kami memulainya tahun 2017 lalu karena begitu banyak sampah berserakan. Lalu muncul ide untuk mengolah sampah dan kami langsung memulainya,” ujarnya saat ditemui di Desa Karangsalam, Rabu (13/11/2025).

Selanjutnya kami mulai mengolah sampah dari dapur rumah masing-masing. Sampah menjadi organik dan non-organik kami pisahkan. Sejak itulah kami terus mengajak memilah sampah dari dapur anggota kami.

“Kami terus membangkitkan kesadaran ibu-ibu untuk memilah sampah dari dapur rumah tangga. Jadi nanti ada sampah organik dan ada sampah non-organik,” jelasnya.

Elina melanjutkan, untuk sampah organik dimanfaatkan untuk membuat kompos. Pembuatan kompos ini dilakukan di kebun atau pekarangan warga. Sedangkan sampah non-organik disetorkan ke bank sampah.

“Kalau yang organik ini dijadikan kompos. Jadi bisa untuk menyuburkan tanaman. Sedangkan yang non-organik ini disetorkan ke bank sampah. Karena yang non-organik ini masih ada nilai jualnya,” kata nya.

Bank sampah ini sebutan kepada pengepul sampah yang datang seminggu sekali. Saat ini rutin para pengepul membeli sampah dari RW 1, RW 2, RW 3, dan RW 4. Anggota yang terlibat pengolahan sampah ini baru 65 orang, belum diikuti oleh semua warga.

“Tentunya dari sampah non-organik itu menghasilkan rupiah. Maka dari itu ibu-ibu rajin menyetorkan sampah non-organik ke bank sampah. Setiap penjualan sampah pelastik, anggota kami bisa mendapatkan uang 5 – 10 ribu rupiah dan kemudian ditabung di kantor kepala desa,” terangnya.

Ia menambahkan, uang hasil dari sampah non-organik ini biasanya tidak langsung diambil oleh warga. Biasanya uang tersebut bisa dibagi saat mendekati hari raya Idul Fitri. Sehingga membantu untuk membeli sembako atau keperluan lainnya.

“Uangnya tidak langsung diambil. Jadi ditabung dulu, dari pengurus ada yang mencatat. Nah nanti biasanya pas mau lebaran baru diambil untuk keperluan, kaya sembako, roti-roti dan lainnya. jumlahnya beragam, ada yang Rp 250 ribu ada juga yang Rp 500 ribu,” sebutnya.

Elina juga menginformasikan mereka mendapatkan 3 mesin pengolahan sampah plastik menjadi bio solar. “Sayang biaya produksi mesin itu mahal karena menggunakan gas, tidak sebanding dengan hasilnya”, jelasnya lagi sambil menghitung uang simpanan hasil sampah.

Mesin pengolahan sampah jadi bio solar

Sementara itu, salah satu warga Desa Karangsalam, Parsinem mengaku terbantu dengan adanya pengolahan sampah ini. Selain lingkungan menjadi lebih bersih juga ada tabungan tak terduga yang bisa digunakan saat ada kebutuhan mendadak.

“Sekarang lingkungan jadi bersih, sudah gitu kita jadi punya tabungan yang tidak terasa. Tahu-tahu pas butuh bisa dipakai, lumayan bisa membantu kebutuhan,” katanya.

Kepala desa Karangsalam, Suwarto menghargai penuh kegiatan PKK desanya mengolah sampah pelastik. “Sepenuhnya kegiatan ini dilakukan secara mandiri bahkan bisa menghasilkan rupiah. Tidak menggunakan sedikitpun DD (Dana Desa-red), katanya mendukung.

“Kami berharap ke depan, desa dapat mengambil alih peran pengepul lewat Bumdes sehingga warga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar, ” harapnya dengan semangat.

Penulis: Sardiman

Editor: Ramses