Tergerusnya Budaya Kentongan Pada Bulan Suci Ramadhan

musik_patrol_dulu

Di beberapa daerah, kentongan masih dipertahankan sebagai bentuk perlawanan terhadap arus modernisasi yang mengancam keberadaan budaya lokal

Tradisi kentongan dalam patrol saur selama bulan Ramadan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kentongan, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu, digunakan untuk membangunkan warga agar bersiap-siap makan sahur. Suaranya yang ritmis dan bergema di tengah malam membawa nostalgia tersendiri bagi banyak orang.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, tradisi ini mulai tergerus. Banyak daerah kini lebih memilih menggunakan sound sistem atau media elektronik lainnya untuk menggantikan kentongan. Alasan praktis, seperti kemudahan dan volume suara yang lebih besar, seringkali menjadi pertimbangan utama.

Perubahan ini dapat dilihat sebagai bagian dari modernisasi. Akan tetapi, di balik kemajuan tersebut, ada kekhawatiran bahwa kita kehilangan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi kentongan. Kentongan bukan hanya alat untuk membangunkan sahur; ia adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas komunitas.

Di beberapa daerah, kentongan masih dipertahankan sebagai bentuk perlawanan terhadap arus modernisasi yang mengancam keberadaan budaya lokal. Komunitas yang tetap menggunakan kentongan seringkali melakukan inovasi dengan menggabungkan unsur-unsur tradisional dan modern, seperti mengiringi kentongan dengan musik modern atau mengadakan lomba patrol kentongan.

Meskipun sound sistem menawarkan kepraktisan, kentongan memiliki daya tarik tersendiri yang tidak bisa digantikan. Suara kentongan yang khas mampu membangkitkan kenangan masa lalu dan mempererat hubungan sosial di masyarakat. Setiap ketukan kentongan adalah panggilan untuk berkumpul, berbagi cerita, dan merayakan kebersamaan.

Kolaborasi antara tradisi dan teknologi mungkin menjadi solusi terbaik. Menggunakan sound sistem tidak harus berarti meninggalkan kentongan sepenuhnya. Sebaliknya, integrasi kedua elemen ini dapat memperkaya pengalaman budaya sahur kita. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuatnya relevan bagi generasi muda yang tumbuh di era digital.

Pudarnya budaya kentongan pada tradisi patrol saur seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai dan melestarikan tradisi yang ada. Bukan hanya sebagai warisan nenek moyang, tetapi juga sebagai bagian dari identitas kita yang unik dan berharga.

Penulis : 

Asrofi, S. Pd M. Pd 

Kabid Pendidikan dan Riset DPD KNPI Kota Batu 

Dosen / Pusat Budaya dan Bahasa Universitas Merdeka (UNMER) Malang