Menyambut Idul Fitri 1447 H, “Tradisi Pasar Kembang”, Weleri Tak Lekang Waktu

IMG-20260320-WA0147

LINGKARMEDIA.COM – Tradisi unik menyambut  Idul Fitri 1447 H di Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal ini telah berlangsung lama. Tradisi “Pasar Kembang” di Pasar Desa Penyangkringan Kecamatan Weleri ini digelar sejak H-2 Lebaran.

Seperti biasanya, event yang digelar tiap tahun ini ramai dikunjungi pengunjung baik warga sekitar sampai warga yang baru pulang mudik dari perantauan.

Event yang digelar dari 19 hingga 20 Maret ini selain sebagai pertanda perayaan kemenangan bagi kaum muslim juga membawa berkah bagi warga yang berdagang menjajakan kembang.

Resti, warga Desa Tempel Bumiayu, salah satu pedagang kembang mengaku peminat kembang pada event tersebut sangat besar. Dirinya beserta tim nya sejak hari pertama buka sudah melayani pengunjung sejak pagi hingga siang.

Dari pantauan awak media di lokasi pada Jum’at (20/3/2026) nampak jenis bunga Sedap Malam yang paling diminati pengunjung khususnya anak muda. Hal ini seperti yang disampaikan Resti kepada awak media.

“Yang paling diminati pengunjung khususnya anak remaja itu bunga sedap malam, selain aromanya yang harum bunga ini juga memiliki makna tersendiri dalam tradisi menjelang Idul Fitri,” ungkapnya.

Dari harga sangat bervariasi disesuaikan jenis kembangnya, mulai dari Rp. 30.000 hingga Rp. 50.000 per paketnya. Ia berharap antusiasme masyarakat terhadap pasar kembang terus meningkat setiap tahunnya. Baginya, tradisi ini bukan hanya soal berdagang, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang harus tetap dijaga.

“Saya berharap semakin banyak yang membeli, dan pasar kembang ini bisa terus lestari,” ujarnya penuh harap.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga menjadi bagian dari budaya menyambut hari kemenangan umat Muslim dengan penuh makna.

Sementara itu, Najwa salah satu pengunjung yang berhasil ditemui awak media mengungkapkan kedatangannya bersama dua rekannya untuk belanja kembang untuk menghiasi ruang tamu sebagai simbol kebersihan dan keindahan dalam menyambut Idul Fitri.

Najwa warga Desa Tambaksari ini mengatakan, “ini memang tradisi dari nenek moyang kami. Setiap satu hari sebelum Lebaran, kami selalu ke pasar untuk membeli bunga,” ujar Najwa dengan senyum sumringah.

Tingginya antusiasme warga menunjukkan bahwa tradisi Pasar Kembang masih terjaga dengan baik hingga kini. Selain mempererat kebersamaan, tradisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Namun demikian, meski adanya variasi kembang yang dijual di pasar kembang ini, jenis kembang untuk ditabur di makam keluarga yang telah meninggal tetap ada dan terpelihara dengan apik.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun awak media, ada dua jenis kembang yang dipasarkan. Ada jenis kembang untuk ditabur di makam yang lebih dikenal dengan kembangnya orang tua, dan kembang rangkai yang dikenal dengan kembangnya anak muda.

Kemeriahan pasar kembang nampak mana kala diwarnai penampilan seni budaya tradisional Singo Barongan dan Dawangan di sekitar pasar kembang.

Di tengah hiruk pikuk pasar dan semangat menyambut Idul Fitri, Pasar Weleri tak hanya menjadi pusat transaksi, tetapi juga ruang hidup bagi tradisi yang terus berdenyut dari generasi ke generasi.

 

Penulis : Shereen Mulya

Editor : Samsu