Malari: Aksi Massa Menolak Modal Asing dan Korupsi

malari-aksi-massa-menolak-modal-asing-dan-korupsi

LINGKARMEDIA.COM – Malari adalah singkatan dari Malapetaka 15 Januari yang merupakan salah satu peristiwa kelam di zaman Orde Baru. Peristiwa Malari adalah demonstrasi mahasiswa dan aktivis yang berujung kerusuhan besar yang terjadi pada 15 Januari 1974.

Peristiwa Malari tidak muncul begitu saja, karena dipicu oleh ketidakpuasan mahasiswa sejak awal 1970. Para aktivis dan mahasiswa di Indonesia menilai kebijakan pemerintah Orde Baru lebih menguntungkan para pengusaha dan orang-orang di lingkaran kekuasaan daripada kepentingan rakyat jelata.

Awal 1970-an, Indonesia mengalami sejumlah aksi protes terhadap investasi Jepang. Protes ini terutama terfokus pada proyek-proyek industri besar yang melibatkan perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia. Beberapa faktor dan isu yang menyebabkan aksi protes tersebut, antara lain:

Ketidakpuasan terhadap Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Ketidaksetaraan Protes terhadap investasi Jepang kerap dikaitkan dengan ketidakpuasan terhadap cara pemerintah Indonesia dan perusahaan Jepang mengelola sumber daya alam.

Beberapa proyek industri besar, terutama dalam sektor pertambangan dan perkebunan, dianggap merugikan lingkungan dan merampas hak-hak tanah dari masyarakat lokal. Protes juga muncul karena terdapat ketidaksetaraan dalam pembagian hasil ekonomi. Aktivis menilai bahwa investasi asing lebih mendukung kepentingan korporasi dan pemerintahan Orde Baru daripada kepentingan rakyat.

Kondisi Kerja dan Hak Pekerja

Aksi protes juga mencakup isu-isu terkait kondisi kerja di perusahaan-perusahaan Jepang. Pekerja sering kali mengeluhkan upah rendah, kondisi kerja yang buruk, dan kurangnya perlindungan terhadap hak-hak pekerja.

Para aktivis dan mahasiswa juga melihat investasi Jepang sebagai bentuk imperialisme ekonomi, dimana perusahaan Jepang dianggap memanfaatkan ekonomi Indonesia untuk kepentingan mereka sendiri.

Penentangan terhadap investasi asing, termasuk di dalamnya dari Jepang, juga berkaitan dengan keprihatinan terhadap ketergantungan ekonomi Indonesia pada modal asing. Para aktivis merasa bahwa Indonesia seharusnya memiliki kontrol lebih besar terhadap ekonominya sendiri, tanpa terlalu tergantung pada modal asing.

Aksi protes juga mencerminkan kritik terhadap kebijakan pemerintah Indonesia yang dianggap terlalu bersahabat dengan perusahaan-perusahaan asing, termasuk perusahaan Jepang. Soeharto dinilai terlalu mendukung investasi asing, tanpa memperhatikan kepentingan rakyat.

Peristiwa Malari dipicu oleh penolakan para aktivis dan mahasiswa terhadap kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka pada 14 Januari 1974. Sebelumnya, pada 11 Januari, Presiden Soeharto menerima delegasi Dewan-Dewan Mahasiswa. Para perwakilan mahasiswa menyampaikan kecaman dan mempertanyakan kewibawaan presiden, yang dirongrong tingkah laku para pemimpin yang memperkaya diri. Mereka menilai operasi khusus atau opsus yang dipimpin Ali Moertopo memiliki kekuasaan yang terlampau besar melebihi pemerintah dan parlemen.

Kemudian mahasiswa melalui sebuah Apel Siaga Mahasiswa di kampus Universitas Kristen Indonesia pada 12 Januari 1974 mengajak masyarakat untuk menyambut Perdana Menteri Jepang dengan gerakan aksi.

Gerakan aksi penyambutan Perdana Menteri Tanaka bertujuan untuk memberitahu dunia bahwa bangsa Indonesia masih memiliki harga diri bangsa dan masih banyak masyarakat yang tidak bisa dibeli dengan harta benda. Pernyataan tersebut kemudian menjadi pembuka gerakan demonstrasi mahasiswa menyambut Tanaka pada 14 Januari 1974. Hal ini kemudian diwujudkan dengan demonstrasi besar-besaran pada tanggal yang ditentukan, sebagai protes atas kedatangan Perdana Menteri Jepang di bandara Halim Perdanakusuma.

Masa yang berkumpul di Universitas Trisakti akhirnya bergerak menuju di lapangan Monas dan daerah seputar istana, untuk menyampaikan tuntutan. Namun, kondisi pada akhirnya berubah menjadi chaos. Kerusuhan semakin melebar dengan pengrusakan dan pembakaran utamanya menyasar kendaraan buatan Jepang. Kantor Astra yang dikenal sebagai importir kendaraan Jepang juga diamuk massa. Menjelang sore, kerusuhan semakin meluas hingga Pasar Senen. Pusat pertokoan terbesar di Jakarta saat itu dirusak dan dijarah.

Di penjuru lain Jakarta, aksi massa juga berlangsung. Salah satu yang paling mencekam terjadi di Pasar Senen. Di sana massa membakar proyek kompleks pertokoan yang baru saja dibangun. Mereka mengajukan tiga tuntutan yang dinamakan “Tritura Baru 1974”: Pertama, bubarkan lembaga Asisten Pribadi Presiden (Aspri); kedua, turunkan harga; ketiga, ganyang korupsi.

Pasca-Peristiwa Malari, aparat keamanan menyebut mahasiswa sebagai dalang dibalik kerusuhan tersebut. Namun, mahasiswa menyanggahnya, serta menyebut aksi yang dilakukan dari Salemba ke Grogol berlangsung damai.

Setelah peristiwa Malari, Orde Baru menjadi lebih represif ketika warga negara mengekspresikan pendapat, termasuk melalui demonstrasi dan media. Dua belas surat kabar dan majalah dicabut izin terbitnya, termasuk Indonesia Raya.

Menurut berbagai sumber, dalam kerusuhan 15 dan 16 Januari itu, 11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 luka ringan dan 755 orang ditahan. Sementara itu 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 bangunan dan 1 pabrik rusak atau terbakar dan sejumlah 160 kilogram emas hilang dijarah.

Penulis: Tim Literasi Global
Editor: Ramses