Hujan Mikroplastik, Ancaman Nyata Bagi Kota-kota di Indonesia

IMG_20251025_130507

Jakarta, lingkarmedia.com – Bencana baru berupa hujan mikroplastik kini membawa kabar buruk bagi Indonesia. Dari langit, turun partikel-partikel halus yang bukan sekadar debu atau polutan udara biasa, melainkan serpihan plastik berukuran mikro atau yang disebut mikroplastik.

Fenomena ini terdeteksi bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di 18 kota besar lain di Indonesia yang mewakili enam pulau utama Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Semakin banyak penduduknya, semakin tinggi aktivitasnya, semakin tinggi pula mikroplastik yang ditemukan. Baik di udara maupun di air, termasuk pada biota.

Fenomena hujan mengandung mikroplastik merupakan penemuan baru di Indonesia, dan menjadi alarm penting bagi kota-kota besar yang memiliki tingkat konsumsi plastik tinggi.

BRIN sudah meneliti fenomena bencana ini sejak 2015, namun hasil paling mencolok muncul pada riset yang dilakukan selama 12 bulan pada 2022 di wilayah Jakarta. Tim mengambil sampel air hujan menggunakan rain gauge, alat penangkap hujan untuk mengetahui berapa banyak partikel plastik yang terbawa air dari langit.  Hasilnya, mikroplastik terdeteksi turun bersama air hujan, dengan jumlah rata-rata antara 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari.

Sumber mikroplastik di udara beragam mulai dari pakaian sintetis seperti polyester dan nylon, roda kendaraan, hingga plastik sekali pakai yang masih banyak digunakan masyarakat.

Aktivitas membakar sampah juga menjadi penyumbang utama, terutama di wilayah dengan pengelolaan sampah rendah seperti Bogor, Depok, dan Bekasi.

Dari TPA dan pembakaran sampah, BRIN menemukan keterkaitan langsung antara tingginya kadar mikroplastik di udara dan keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping.

Semakin terbuka sistemnya, semakin tinggi pula mikroplastik yang dihasilkan. Dari air lindinya saja, peningkatan mikro dan mesoplastik bisa mencapai 3 sampai 9 kali lipat.

Di musim kemarau, proses fotodegradasi akibat sinar ultraviolet membuat plastik terurai menjadi partikel kecil yang mudah terbawa angin. Saat hujan turun, partikel itu ikut terbawa turun menciptakan fenomena hujan mikroplastik.

Di Jakarta, fenomena ini semakin mencolok. BRIN mencatat, kandungan mikroplastik di Muara Angke meningkat lima kali lipat antara 2015 dan 2022.

Sementara Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko menjelaskan kepada media, mikroplastik kini bisa dikategorikan sebagai bagian dari aerosol atmosferik partikel padat atau cair yang ter suspensi di udara.

Aerosol dapat berpindah secara horizontal maupun vertikal tergantung pola angin dan kondisi atmosfer. Dua mekanisme utama yang menyebabkan mikroplastik turun ke bumi adalah deposisi kering (karena gravitasi) dan deposisi basah (melalui hujan).

Menariknya, BMKG mencatat bahwa partikel aerosol dapat mencapai ketinggian hingga 15 kilometer di atmosfer, dan bisa berpindah lintas wilayah melalui angin. Mikroplastik di Jakarta bisa saja berasal dari daerah lain, dan sebaliknya.

Letak Indonesia di garis ekuator membuat paparan sinar matahari tinggi dan kondisi atmosfer dinamis ideal bagi proses degradasi plastik di udara. Ketika musim kemarau, pembakaran sampah meningkat, polutan naik ke atmosfer, lalu saat musim hujan turun kembali dalam bentuk hujan mikroplastik.

Alarm bagi kesehatan

Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara maupun air minum yang terkontaminasi.

Kalau ukurannya besar, efeknya mungkin hanya iritasi di saluran pernapasan. Tapi kalau ukurannya sangat kecil mikro atau nano dia bisa masuk ke peredaran darah, bahkan ke organ vital seperti jantung.

Mikroplastik juga bisa menjadi faktor risiko tambahan bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, karena memicu peradangan jangka panjang. Begitupun masyarakat tidak perlu panik. Tubuh kita punya mekanisme perlindungan. Kalau ada benda asing masuk lewat pernapasan, refleks batuk dan bersin membantu mengeluarkannya. Kalau tertelan, serat dari makanan bisa membantu mengeluarkannya melalui pencernaan.

Dalam sejumlah riset, mikroplastik dapat masuk ke sistem tubuh manusia melalui saluran pencernaan, permukaan kulit, hingga saluran pernapasan.

Mikroplastik juga sudah masuk ke plasenta bayi hingga pembuluh darah.

Penelitian BRIN bisa jadi pengingat tentang efek berulang ‘udara mikroplastik’ yang bisa dihirup manusia setiap harinya.

Dalam penelitian lainnya pada 2018 lalu, mikroplastik terdeteksi dalam debu yang jatuh dari atmosfer di area Paris dan sekitarnya. Penelitian itu menyebut penghirupan serat dan partikel mikroplastik seringkali menyebabkan sesak napas, akibat respons peradangan di saluran napas dan paru-paru.

Meski, menurut WHO, perlu lebih banyak penelitian untuk mengetahui dampak mikroplastik di dalam tubuh manusia.

Menurut dokter spesialis paru, Wiwin Is Efendi, ada efek paling ringan hingga jangka panjang jika seseorang sudah terpapar mikroplastik di udara. Apalagi mikroplastik itu bergabung dengan polutan udara lainnya dalam bentuk PM2.5 dan PM10.

“Kalau sistem mukus kita sudah mendeteksi ada jumlah tertentu mikroplastik yang masuk dalam saluran pernapasan, maka sistem itu akan memberikan sinyal seperti patuk dan untuk mengeluarkannya,” kata dokter Wiwin ketika menggambarkan gejala paling ringan paparan mikroplastik saat terhirup manusia.

Saran untuk mencegah terdampak Mikroplastik ini adalah menggunakan masker saat polusi tinggi, serta menjaga kebersihan rumah karena mikroplastik banyak menumpuk di debu rumah tangga.

Sementara langkah lain yang bisa dilakukan adalah menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan yang bergizi dan berolahraga, sehingga pertahanan tubuh dalam kondisi siap ketika ada ‘serangan’ mikroplastik masuk ke dalam tubuh kita.

Respon Terhadap Bencana Mikroplastik

Menanggapi hasil riset BRIN,  Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyatakan, Pemprov DKI akan memperkuat kolaborasi lintas lembaga untuk menekan pencemaran plastik di udara.

DLH DKI telah melakukan pemantauan mikroplastik di Teluk Jakarta dan sungai-sungai utama sejak 2022, dengan hasil kelimpahan mencapai 9.891 hingga 12.489 partikel permeter kubik air.

Edukasi publik tentang bahaya mikroplastik dan memperkuat pengawasan terhadap pembakaran sampah perlu lebih digencarkan lagi karena dari situlah polutan udara, termasuk mikroplastik, paling banyak berasal.

Ancaman nyata Fenomena hujan mikroplastik adalah alarm ekologis baru bagi kota-kota besar di Indonesia. Plastik yang dulu hanya dianggap masalah di darat dan laut, kini telah memasuki atmosfer dan turun bersama hujan. Bagi para peneliti, ini menjadi tanda bahwa polusi plastik telah mencapai tahap paling kompleks melintasi batas ekosistem dan wilayah.

Udara yang kita hirup sekarang bukan hanya berdebu, tapi juga ber plastik. Dan satu-satunya cara menguranginya adalah mengubah perilaku manusia itu sendiri.

Penulis: Ramses

Editor : Samsu