GPM dan Kesbangpol DKI Kupas Tuntas Neokolonialisme
LINGKARMEDIA.COM – Isu sensitif mengenai penjajahan kembali mengemuka dalam Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) DKI Jakarta bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (22/11/2025).
Diskusi dhadiri kurang lebih 100 peserta di Kantor Pemerintahan Kota Jakarta Pusat, forum ini menyoroti bagaimana semangat kepahlawanan harus dihidupkan untuk melawan bentuk penjajahan baru yang lebih halus.
Ketua Umum GPM, Ir. H.L. Emir Moeis, M.Sc., melontarkan pernyataan mengejutkan yang menjadi inti pembahasan. Menjawab pertanyaan moderator Rio (Sekretaris DPD GPM DKI) tentang relevansi tema anti-penjajahan, Emir Moeis menegaskan bahwa bangsa Indonesia saat ini masih dijajah, namun bentuknya telah berubah drastis.
“Penjajahan hari ini berubah bentuk menjadi lebih soft, tidak tampak secara langsung, namun sangat terasa dampaknya,” ujar Emir Moeis.
Ia secara spesifik menunjuk ‘globalis dunia’ sebagai aktor yang memainkan kendali atas keberlangsungan suatu bangsa, yang ia sebut sebagai Neokolonialisme. Dampak nyata dari penjajahan model baru ini adalah kemiskinan dan tingginya angka pengangguran di tengah masyarakat.
Lima Pilar Penjajahan Modern di Era Global.
Pandangan tersebut diperkuat oleh narasumber dari pihak pemerintah, Husni, mewakili Muhamad Matsani, Kepala Badan Kesbangpol DKI Jakarta.
Menurut Husni yg juga dosen di perguruan tinggi swasta Universitas Muhammadiyah Jakarta prodi Ilmu Politik, penjajahan di era modern saat ini terbagi dalam lima domain utama yang harus diwaspadai:
1. Ekonomi
2. Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan)
3. Geopolitik
4. Regulasi
5. Sumber Daya Alam dan Budaya.
Dalam pandangannya “Pancasila yg merupakan ideologi bangsa Indonesia yang saat sebelum terbentuk ada 5 ideologi di Indonesia, yaitu 1. Liberal 2. Islam 3. Sosialis 4. Komunis 5. Pikiran-pikiran masyarakat Adat.”
Sementara itu, R.M.E Tjokrosantoso yang akrab disapa Bung Cokro, Sekretaris Jenderal Keluarga Besar Barisan Pelopor, memberikan pandangannya dari perspektif sejarah perjuangan. Bung Cokro menekankan bahwa penjajahan kontemporer membutuhkan respons yang setara dengan semangat perjuangan para pendahulu, khususnya dalam melawan hegemoni yang mengancam kedaulatan bangsa.
Dihadiri Tokoh Penerus dan Keluarga Pejuang Jakarta.
Acara Diskusi Kebangsaan yang diketuai Riswanda Yunus, S.H., M.Comm., ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi tokoh-tokoh penting dan keluarga pejuang.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Marsekal Madya Achmad Sajili (tokoh Betawi), Purnomo, putera walikota pertama Jakarta. Kehadiran mereka semakin memperkuat nilai historis diskusi ini.
Turut hadir Ditan Sudiro, adik kandung aktor Tora Sudiro, yang merupakan cucu dari Raden Sudiro. Raden Sudiro adalah figur penting dalam sejarah pemerintahan ibu kota, yang menjabat sebagai salah satu pemimpin Jakarta setelah kemerdekaan dan dikenal sebagai Gubernur DKI Jakarta pertama (sebelum perubahan status Jakarta).
Kehadiran keluarga pejuang dari barisan pelopor, memberikan nuansa sejarah yang kental, mengingatkan peserta akan perjuangan para pahlawan dalam meletakkan dasar bagi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Diskusi ini ditutup dengan seruan kepada seluruh peserta, khususnya generasi muda, untuk menyadari dan berani melawan segala bentuk Neokolonialisme dengan menghidupkan kembali Semangat Kepahlawanan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Penulis : Marindra
Editor : Samsu








