Banjir dan Longsor Landa Indonesia Di Awal Tahun, 17 Meninggal

IMG-20260108-WA0054

LINGKARMEDIA.COM – Diawal tahun 2026, banjir dan longsor terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Banjir bandang menerjang Pulau Siau Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Senin dinihari (5/1/26) yang mengakibatkan 17 orang meninggal.

Secara nasional, banjir memang menyumbang lebih banyak kejadian bencana yang melanda Indonesia setahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total bencana tahun 2025 per 31 Desember 2025 sebanyak 3.223 kejadian. Dari total kejadian bencana itu, didominasi banjir yang terjadi sebanyak 1.644 pada tahun 2025.

Bencana alam ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi di daerah tersebut. Air dengan volume besar bercampur material batu, lumpur, tanah, serta kayu meluap. Sehingga, menerjang permukiman warga di sepanjang bantaran sungai.

Sejauh ini, korban bencana banjir di Siau ada 37 orang, terdiri 17 meninggal, 18 luka, 2 orang masih dinyatakan hilang.

Selain di Sitaro, banjir yang terjadi setelah hujan deras ini juga merendam sejumlah desa di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Sejumlah warga pun terpaksa naik ke atas atap rumah mereka untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, di beberapa titik juga dilaporkan terjadi longsor.

Adapun berapa desa terdampak yang berada di wilayah pesisir Teluk Jailolo, yakni Desa Tongute Ternate Asal, Tongute Ternate, Gam Lamo, Gam Ici, Duono dan Desa Goin. Teluk Jailolo berada di antara pulau Ternate, Tidore dan Pulau Halmahera yang sudah dikenal dengan keindahan alam wisata bawah laut yang menakjubkan.

Merespons banjir di Halmahera, Gubernur Maluku Utara Sherly Laos langsung menggelar pertemuan khusus bersama seluruh balai teknis Kementerian PUPR di wilayah Maluku Utara.

Sherly Laos menjelaskan, pertemuan lintas balai digelar untuk memastikan solusi yang dihasilkan bersifat permanen, bukan sekadar penanganan darurat. Sekaligus mencari upaya mencari akar persoalan.

Sejumlah akses jalan di beberapa desa tidak dapat dilalui akibat banjir. Seperti jalur penghubung Kecamatan Jailolo menuju Kecamatan Ibu, tepatnya di kawasan Gunung Batu, mulai dari Transkoal, Jailolo, hingga Kampung Baru, Ibu. Beberapa fasilitas umum juga dilaporkan rusak akibat banjir tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Halmahera Barat mencatat, sebanyak 178 rumah yang dihuni 662 kepala keluarga di Halbar terdampak banjir bandang.

“Semalam kami sudah menuju ke lokasi hanya saja, jalan menuju di kecamatan Ibu tergenang air yang tinggi, sehingga tidak bisa ditembus. Dan hari ini juga macet karena, airnya masih tinggi,” ucap Gunawan.

Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Halmahera Utara (Halut) sejak pagi hingga sore menyebabkan ratusan rumah warga di tiga kecamatan terendam banjir yang menimbulkan kepanikan. Pemerintah Daerah Halmahera Utara merespons cepat dengan meninjau lokasi dan menetapkan sebagai tanggap darurat bencana banjir dan longsor.

“Setelah saya bersama wakil bupati dan Forkopimda Halmahera Utara meninjau lokasi bencana, maka pemerintah menetapkan sebagai tanggap darurat bencana banjir,” ungkap Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, didampingi Wakil Bupati Kasman Hi Ahmad saat konfrensi pers di Kantor Bupati di Kota Tobelo, Rabu (7/1/2026) sore.

Orang nomor satu di Hibua Lamo ini menyebutkan ada tiga wilayah yang ditetapkan Pemda Halmahera Utara sebagai tanggap darurat bencana, yakni wilayah kecamatan Kao Barat, kecamatan Galela Utara dan kecamatan Loloda Utara.

Bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor sejak akhir Desember 2025 hingga pekan pertama Januari juga melanda Provinsi Gorontalo.

Curah hujan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah wilayah di beberapa kabupaten terdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat, bencana terjadi berulang di tengah masuknya wilayah Gorontalo ke fase puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.

Hujan lebat diketahui sudah terjadi sejak Desember 2025 dan memicu banjir serta longsor di sejumlah kabupaten. Dampak bencana mulai dirasakan warga Kabupaten Pohuwato sejak akhir Desember 2025, khususnya di Desa Teratai dan Desa Hulawa.

BPBD mencatat, sedikitnya tiga kejadian banjir selama sepekan pertama Januari, meliputi Kecamatan Limboto Barat, Tibawa, Telaga, dan Boliyohuto.

Kecamatan Limboto Barat, banjir merendam Desa Tunggulo dan Desa Haya-Haya akibat hujan lebat yang menyebabkan Sungai Marisa meluap.

Di Desa Tunggulo, banjir berdampak pada 146 kepala keluarga atau 453 jiwa, dengan 120 unit rumah terendam. Selain permukiman, banjir juga merusak Sekolah Lukmanul Hakim serta sekitar 40 hektare lahan warga.

Sementara di Desa Haya-Haya, banjir menggenangi SDN 12 Limboto Barat dan TK Anggrek Mekar. Tanah longsor juga terjadi di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga, yang mengakibatkan akses jalan menuju Desa Dulamayo Utara tertutup material longsoran. Tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Desa Olole, Kecamatan Kabila Bone.

Banjir terjadi pada Sabtu, (3/1/26), sekira pukul 18.30 Wita, di Desa Kuala Lumpur, Kecamatan Paguyaman. Sehingga, berdampak pada 24 kepala keluarga atau 70 jiwa, serta menyebabkan satu unit jembatan mengalami kerusakan. BPBD menerima laporan adanya korban hanyut di Desa Sosial, Kabupaten Boalemo. Lantas korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Sementara, di Pontianak, Kalimantan Barat, Wali Kota Pontianak Edi Kamtono  meliris laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait puncak pasang air laut yang mencapai ketinggian hingga 2 meter. Warga juga diimbau waspada terhadap potensi banjir rob.

Edi menjelaskan, fenomena banjir rob merupakan dampak dari pasang maksimum air laut dan Sungai Kapuas yang sudah mulai dirasakan masyarakat sejak beberapa hari terakhir.

“Memang sejak tanggal 4 sampai tanggal 7, kan BMKG sudah merilis bahwa puncak air pasang rob kita tingginya sampai 2 meter dari permukaan air rata-rata atau DPL, air Sungai Kapuas atau air laut rata-rata,” kata Edi di Kantor Wali Kota Pontianak, Jl Zainuddin, Senin (5/1/2026).

“Nah kita sudah alami ini dari tanggal 4, tanggal 5, terus nanti sampai tanggal 7. Selama, dan jamnya kan sudah dilihat tuh, memang puncaknya di jam 6, jam 7 pagi,” ucapnya.

Penulis: Tim Respon Bencana

Editor: Ramses