Munas VIII FSPPMI, Wamenaker Tekankan Penguatan Skill & Kompetensi Pekerja
LINGKARMEDIA.COM — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa peningkatan keterampilan (skill) dan kompetensi tenaga kerja menjadi kunci utama bagi pekerja Indonesia untuk menghadapi persaingan di era transformasi digital. Menurutnya, dunia kerja saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat sehingga pekerja dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan agar tetap relevan dan memiliki daya saing.
Pernyataan tersebut disampaikan Afriansyah Noor saat berdialog dengan peserta Musyawarah Nasional (Munas) VIII Federasi Serikat Pekerja Percetakan, Penerbitan, dan Media Informasi (FSP PPMI) SPSI yang berlangsung pada Sabtu malam (1/8/2026) di salah satu hotel di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
Dalam suasana dialog yang berlangsung hangat dan penuh keakraban, Wamenaker menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu menjawab tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif, baik di dalam maupun luar negeri.
Menurut Afriansyah, perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai sektor industri. Perubahan tersebut tidak hanya menghadirkan peluang baru, tetapi juga menuntut pekerja untuk memiliki kemampuan yang lebih baik, termasuk penguasaan teknologi dan keterampilan sesuai kebutuhan industri.
“Para pekerja harus terus meningkatkan skill dan kompetensi agar mampu memenangkan persaingan dan memperluas peluang kerja di era digital saat ini,” ujar Afriansyah di hadapan peserta Munas.
Ia menjelaskan, salah satu langkah yang dapat ditempuh pekerja adalah mengikuti berbagai program pelatihan vokasi maupun peningkatan kompetensi yang telah disiapkan pemerintah melalui Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Kementerian Ketenagakerjaan.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menurutnya, BLK memiliki berbagai program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri saat ini.
“Kementerian Ketenagakerjaan melalui BLK siap memfasilitasi para pekerja yang ingin meningkatkan kompetensi. Dengan begitu mereka akan lebih siap bersaing dan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja,” katanya.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Selain keterampilan teknis, Afriansyah juga menyoroti pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai bekal tambahan bagi pekerja Indonesia yang ingin memperluas kesempatan kerja di luar negeri.
Menurutnya, kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu nilai tambah yang sangat penting karena banyak perusahaan internasional maupun negara tujuan penempatan tenaga kerja mensyaratkan kemampuan komunikasi yang baik.
“Selain keterampilan teknis, kemampuan bahasa juga menjadi nilai tambah, terutama bagi peserta yang ingin memanfaatkan peluang kerja di luar negeri,” tambahnya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Pada kesempatan tersebut, Wamenaker juga menekankan pentingnya membangun hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Ia berharap setiap persoalan hubungan industrial dapat diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan mufakat sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Afriansyah mengatakan, pendekatan Hubungan Industrial Pancasila harus terus dikedepankan sebagai fondasi dalam menciptakan hubungan kerja yang sehat, adil, dan saling menguntungkan bagi semua pihak.
“Di mana-mana saya selalu mendorong agar Hubungan Industrial Pancasila terus kita gaungkan. Penyelesaian setiap perselisihan hubungan industrial harus mengedepankan musyawarah dan mufakat,” tegasnya.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Menurutnya, komunikasi yang baik antara pekerja dan perusahaan akan mampu meminimalkan konflik serta menciptakan iklim kerja yang kondusif. Kondisi tersebut pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas perusahaan sekaligus memberikan kesejahteraan bagi pekerja.
Sementara itu, Ketua Umum PP FSP PPMI SPSI Arnold Sihite dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wamenaker di tengah peserta Munas VIII. Ia menilai Afriansyah Noor merupakan sosok yang dekat dengan kalangan pekerja karena memiliki pengalaman panjang sebagai aktivis organisasi serta aktif turun langsung ke lapangan.
Arnold bahkan menyebut Afriansyah sangat layak menjadi pembina organisasi serikat pekerja karena dinilai memahami berbagai persoalan yang dihadapi pekerja di tingkat akar rumput.
“Pak Wamenaker Afriansyah Noor cocok menjadi pembina serikat pekerja kami. Beliau memiliki latar belakang aktivis senior dan dalam kapasitasnya sebagai Wamenaker sering turun langsung ke unit kerja atau akar rumput untuk memastikan kondisi kerja yang baik serta hubungan industrial yang adil, harmonis, dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja,” ujar Arnold.
Ia juga berharap sinergi antara pemerintah dan serikat pekerja terus diperkuat sehingga berbagai tantangan ketenagakerjaan, mulai dari peningkatan kompetensi hingga perlindungan hak-hak pekerja, dapat diselesaikan melalui komunikasi yang konstruktif.
Dialog antara Wamenaker dan peserta Munas VIII FSP PPMI SPSI berlangsung dalam suasana santai namun produktif. Para peserta diberikan kesempatan menyampaikan berbagai aspirasi, masukan, maupun persoalan yang mereka hadapi di sektor ketenagakerjaan.
Dalam kegiatan tersebut, Wamenaker didampingi Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Indah Anggoro Putri, Direktur KPHI Decky, Wakil Kepala Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Ahmad Azis.
Melalui dialog tersebut, pemerintah berharap komunikasi dengan serikat pekerja semakin terbuka sehingga kebijakan ketenagakerjaan yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha sekaligus memberikan perlindungan dan peningkatan kesejahteraan bagi para pekerja Indonesia.
Penulis: Andy W
Editor: Samsu








