Gebyakan Perdana Sanggar Purba Laras Pujon Jadi Momentum Regenerasi Seni Wayang Kulit di Kota Batu
LINGKARMEDIA.COM – Upaya melestarikan kebudayaan Jawa, khususnya kesenian wayang kulit, terus dilakukan oleh para pelaku seni di wilayah Malang Raya. Salah satunya melalui penyelenggaraan gebyakan perdana yang digelar Keluarga Besar Sanggar Seni Purba Laras Pujon.
Gebyakan tersebut menjadi momentum penting bagi para pelaku seni di bawah bimbingan dalang senior Ki Purba Asikin. Selain sebagai pertunjukan seni, acara ini juga dimaknai sebagai bentuk pengukuhan atau “wisuda” bagi para seniman yang telah mendapatkan pembinaan dan pendampingan dalam dunia pedalangan.
Salah satu penampil dalam pagelaran tersebut, Muhammad Hafiz Argan, mengungkapkan bahwa lakon yang dibawakan mengisahkan kondisi Negara Ngamarta yang tengah dilanda huru-hara akibat ulah para dewa. Konflik tersebut kemudian berakhir setelah tokoh Semar turun tangan untuk mengingatkan para dewa.
Menurut Hafiz, sosok Semar dalam lakon tersebut menjadi simbol kebijaksanaan dan pengingat agar setiap persoalan dapat diselesaikan dengan mengedepankan ketenteraman serta nilai-nilai kebaikan.

Hafiz yang juga merupakan anak angkat Ki Purba Asikin menyampaikan bahwa gebyakan tersebut merupakan agenda perdana yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Purba Laras. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari keberlanjutan pembinaan seni tradisional, khususnya wayang kulit, di wilayah Pujon dan sekitarnya.
“Harapannya, semoga rekan-rekan semua bisa terus melestarikan budaya Jawa, khususnya wayang kulit di daerah sini,” ujar Hafiz.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Semangat pelestarian budaya tersebut juga mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat. Raman Dodik, orang tua dari dalang cilik Muhammad Hafiz, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan berbagai pihak terhadap bakat seni putranya.
Ungkapan tersebut disampaikan dalam sebuah acara yang digelar di kediamannya di wilayah Sabrang Gendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji. Acara tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, SH., MH., bersama jajaran pejabat Pemerintah Kota Batu, Muspika Kecamatan Bumiaji, tokoh masyarakat, serta para sesepuh Desa Giripurno.

Kehadiran berbagai pihak tersebut dinilai menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya pelestarian budaya sekaligus dukungan terhadap generasi muda yang memiliki minat terhadap kesenian tradisional.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Dalam sambutannya, Raman Dodik menyampaikan apresiasi khusus kepada Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum, Hj. Darul Nikmah, S.Pd., beserta para guru. Menurutnya, pihak sekolah memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan, nasihat, serta ruang bagi Hafiz untuk mengembangkan bakatnya.
“Saya selaku orang tua daripada Muhammad Hafizdani ingin menyampaikan terima kasih banyak atas kehadirannya, atas support-nya,” ujarnya di hadapan para undangan.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto memberikan apresiasi tinggi terhadap munculnya generasi penerus seni tradisi di Kota Batu. Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, Heli menghadiri pagelaran “Gebyak Budaya” yang menampilkan aksi dalang cilik Ki Argani di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Heli menilai pilihan Ki Argani untuk menekuni dunia pedalangan sejak usia dini merupakan sebuah kebanggaan. Terlebih, di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, tidak banyak anak-anak yang memiliki ketertarikan untuk mendalami kesenian tradisional seperti wayang kulit.

“Ini suatu kebanggaan bagi kami di Pemerintah Kota Batu bahwa ada adik-adik kita generasi penerus mencintai wayang,” kata Heli saat menyaksikan penampilan Ki Argani dan para penari cilik lainnya.
Menurut Heli, wayang kulit merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat. Kesenian tersebut juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.
Karena itu, ia menilai keberadaan anak-anak yang mau belajar dan menekuni seni pedalangan harus mendapatkan dukungan dari keluarga, sekolah, masyarakat, maupun pemerintah.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Heli juga memberikan apresiasi kepada orang tua Ki Argani, Dodi Mulyono, serta pihak MI Miftahul Ulum yang telah memberikan ruang bagi perkembangan bakat anak. Menurutnya, dukungan orang tua dalam memfasilitasi minat positif anak jauh lebih penting daripada sekadar memberikan fasilitas teknologi seperti telepon seluler atau permainan elektronik.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya, Pemerintah Kota Batu berencana memperluas ruang ekspresi bagi anak-anak melalui kerja sama antara Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya sanggar-sanggar seni baru sekaligus memperkuat regenerasi pelaku seni tradisional.
Upaya tersebut menjadi bagian dari visi “Batu SAE”, yakni mewujudkan Kota Batu yang maju dan berdaya saing tanpa meninggalkan akar budaya serta kearifan lokal.
Dengan adanya gebyakan dan pagelaran budaya yang melibatkan generasi muda, seni wayang kulit diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di masa depan.
Penulis : Shereen Mulya
Editor: Samsu








