Istana Karya Difabel Rayakan HUT ke-6, Tegaskan Kesetaraan dan Ruang Berkarya bagi Penyandang Difabel

IMG_20260702_093658

LINGKARMEDIA.COM – Istana Karya Difabel (IKD), sebuah wadah pembinaan dan pengembangan potensi bagi penyandang difabel, merayakan hari jadinya yang ke-6 dengan penuh semangat dan kebersamaan. Mengusung tema “Membumi”, perayaan tersebut digelar di Angkringan Merah Putih, Kelurahan Sisir, Kota Batu, Rabu (1/7/2026).

Momentum ulang tahun ini menjadi refleksi perjalanan panjang IKD dalam mendampingi, membina, dan membuka ruang kreativitas bagi penyandang difabel agar mampu tumbuh, berkembang, dan menunjukkan potensi terbaiknya di tengah masyarakat.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/tradisi-siraman-air-kembang-warnai-kenaikan-pangkat-86-personel-polres-jombang/

Ketua IKD, Andik Elektrik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa saat ini IKD telah berkembang di dua wilayah, yakni Surabaya dan Kota Batu. Ia berharap IKD Batu mampu berkembang pesat seperti yang telah lebih dulu berjalan di Surabaya.

“Sekarang kita ada di dua wilayah, Surabaya dan Batu. Harapannya IKD Batu bisa terus berkembang dan berkibar seperti IKD Surabaya,” ujar Andik di hadapan para tamu undangan dan peserta binaan.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Andik menegaskan, enam tahun perjalanan IKD bukanlah waktu yang singkat. Banyak tantangan dan dinamika yang harus dihadapi dalam proses membangun kepercayaan, membina kemampuan, hingga mendampingi para penyandang difabel untuk menemukan jati diri dan potensi mereka.

Selama enam tahun itu pula, IKD telah menjadi rumah belajar sekaligus ruang aman bagi para penyandang difabel. Di tempat inilah mereka tidak hanya diajarkan keterampilan, tetapi juga diberi ruang untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut ataupun minder.

Wakil Ketua IKD Kota Batu, Dodik Supriyanto yang akrab disapa Cak Yanto memiliki keinginan besar penyandang difabel khususnya di Kota Batu dapat maju dan berkarya serta mandiri.

Cak Yanto yang juga Ketua Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Batu ini mengatakan, “berkarya itu penting, intinya untuk masa depan mereka”.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Sementara itu salah satu pengurus IKD Surabaya, Nur Pribadi yang akrab disapa Senden, mengungkapkan bahwa hal paling mendasar dalam mendampingi penyandang difabel adalah membangun rasa nyaman terlebih dahulu.

Menurutnya, pendekatan kepada anak-anak difabel tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan ketulusan agar mereka dapat membuka diri.

“Yang paling utama itu rasa nyaman. Mereka tidak bisa langsung diajak atau diarahkan begitu saja. Kita harus membangun hubungan dulu, membuat mereka percaya kepada kita,” jelas Senden.

Ia mengatakan, proses membangun kedekatan itu bisa memakan waktu yang berbeda-beda pada setiap individu. Ada yang hanya membutuhkan waktu dua minggu, ada pula yang sampai satu hingga tiga bulan.

“Kita harus menyelami dunia mereka. Tidak bisa dipaksakan. Setiap anak punya cara dan waktu masing-masing untuk merasa aman,” tambahnya.

IKD sendiri memiliki sejumlah divisi pembinaan yang dirancang untuk menggali bakat serta potensi para peserta didiknya. Mulai dari seni musik, tari, menggambar, hingga berbagai keterampilan kreatif lainnya.

Lihat juga; https://x.com/LingkarMed

Melalui berbagai divisi itu, para penyandang difabel diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai minat dan bakat mereka. Banyak dari mereka yang kemudian menunjukkan kemampuan luar biasa, bahkan di luar ekspektasi banyak orang.

Senden menilai, para penyandang difabel sejatinya memiliki kelebihan tersendiri yang sering kali tidak dimiliki oleh orang lain.

“Mereka punya kelebihan yang kadang di atas rata-rata orang normal. Bahkan ada hal-hal yang bisa mereka capai yang belum tentu bisa dilakukan orang lain,” tuturnya.

Namun demikian, perjalanan pembinaan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang kerap dihadapi para pengurus IKD justru datang dari lingkungan keluarga.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Senden mengungkapkan, masih ada sebagian orang tua yang belum sepenuhnya menerima kondisi anaknya sebagai penyandang difabel. Kondisi itu sering menjadi hambatan dalam proses pembinaan.

“Kadang yang paling sulit itu justru menghadapi orang tuanya, terutama ibu-ibunya. Ada yang belum bisa menerima atau belum move on dengan kondisi anaknya,” ungkapnya.

Bahkan, menurutnya, masih ada anak-anak difabel yang cenderung dikurung di rumah dan tidak diberikan ruang untuk bersosialisasi maupun mengembangkan potensinya.

Ia menilai tindakan tersebut justru menjadi bentuk pembatasan terhadap masa depan anak.

“Kalau anak terus dikurung di rumah, itu sama saja mengebiri potensinya. Padahal mereka punya hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkarya,” tegasnya.

IKD hadir untuk mematahkan stigma bahwa penyandang difabel adalah kelompok yang harus dikasihani. Sebaliknya, IKD ingin menunjukkan bahwa mereka adalah individu yang mampu berkarya, mandiri, dan berdiri sejajar dengan masyarakat pada umumnya.

Perayaan HUT ke-6 IKD dengan tema “Membumi” juga menjadi simbol bahwa keberadaan penyandang difabel harus semakin dekat dengan masyarakat, diterima tanpa diskriminasi, serta diberi kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan.

“Kesetaraan itu harus ada. Mereka berhak hidup berdampingan, berhak didengar, dan berhak menunjukkan kemampuan mereka,” pungkas Senden.

Dengan semangat enam tahun perjalanan, IKD berharap dapat terus memperluas jangkauan pembinaan, memperkuat solidaritas, serta membuka lebih banyak peluang bagi penyandang difabel untuk berkarya dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

 

Penulis : Shereen

Editor : Samsu