Kirab Tumpeng Suro Karang Mloko, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya di Tengah Modernisasi
LINGKARMEDIA.COM – Semangat gotong royong dan pelestarian budaya kearifan lokal terasa begitu kuat dalam perayaan bulan Suro di Dusun Karang Mloko, Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu, Minggu (28/6/2026). Ratusan warga setempat kompak menggelar tradisi tahunan Kirab Tumpeng Suro, sebuah ritual sakral yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa bersama demi keselamatan, kesejahteraan, dan keharmonisan masyarakat.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya masyarakat menjaga identitas budaya Jawa di tengah derasnya arus modernisasi. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Guyub Rukun Anggayuh Tentreming Warga”, yang bermakna kebersamaan dan kerukunan sebagai jalan untuk mencapai ketenteraman hidup.
Kirab tersebut melibatkan partisipasi aktif warga dari lingkungan RW 4, RW 5, dan RW 9 Dusun Karang Mloko. Sejak pagi hari, masyarakat tampak antusias mempersiapkan berbagai hasil bumi dan sajian tradisional yang akan diarak mengelilingi dusun.
Suasana penuh semangat dan kekeluargaan tampak mewarnai jalannya prosesi. Warga dari berbagai usia, mulai anak-anak, pemuda, hingga orang tua, berjalan bersama membawa aneka tumpeng dan hasil panen sebagai simbol keberkahan.

Sesepuh Dusun Karang Mloko, Tarsun (83), menjelaskan bahwa dalam kirab tersebut terdapat empat jenis Tumpeng Bumi yang masing-masing memiliki makna filosofis mendalam.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk doa bersama yang diwariskan leluhur sebagai pengingat akan pentingnya rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Sekul Punar dan tumpeng melambangkan kejernihan pikiran serta rezeki yang barokah. Sementara Sekul Kabuli menjadi simbol agar segala hajat masyarakat dapat dikabulkan,” jelas Tarsun.
Selain itu, ada pula Bubur Suro yang dimaknai sebagai bentuk permohonan ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Sajian lainnya berupa Polo Pendem atau hasil bumi yang tumbuh di dalam tanah menjadi simbol harapan agar segala bala, musibah, dan marabahaya dijauhkan dari wilayah dusun.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Tak hanya itu, tumpeng sayur, buah-buahan, serta jajan pasar yang turut diarak juga memiliki makna tersendiri. Semua itu menggambarkan harapan akan kehidupan yang subur, makmur, dan penuh keberkahan, sekaligus mempererat kasih sayang antarsesama warga agar tercipta lingkungan yang damai dan tenteram.
Lurah Dadaprejo, Fifi Rahmawati, memberikan apresiasi tinggi atas kekompakan masyarakat Karang Mloko dalam menyelenggarakan tradisi tersebut. Ia menilai, keberhasilan acara ini merupakan hasil nyata dari swadaya warga yang dilakukan secara bersama-sama.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Mulai dari persiapan, pengumpulan bahan, hingga pelaksanaan kirab, semuanya dilakukan dengan semangat kebersamaan tanpa mengandalkan bantuan besar dari luar.

“Ini adalah inisiatif murni dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Kami sangat bangga melihat antusiasme masyarakat Karang Mloko. Harapannya, melalui doa bersama ini, seluruh warga Dadaprejo dijauhkan dari marabahaya dan senantiasa hidup rukun,” ujar Fifi.
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Dwi Purwanto, menegaskan bahwa Kirab Tumpeng Suro memiliki makna lebih dari sekadar agenda tahunan.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Menurutnya, kegiatan ini merupakan media untuk mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar tradisinya.

“Kegiatan ini adalah upaya nyata untuk melestarikan budaya lokal sekaligus mempererat silaturahmi. Kami ingin warga saling mendukung dan kompak dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat,” kata Dwi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam perayaan tahun ini adalah adanya proses regenerasi pelestarian budaya. Panitia secara simbolis menyerahkan estafet kepada generasi muda melalui Karang Taruna dan Remaja Masjid Dusun Karang Mloko.
Langkah ini dinilai penting agar tradisi tidak berhenti di generasi tua saja, tetapi terus hidup dan berkembang di tangan anak-anak muda.
Wakil Remaja Masjid Shirotul Jannah, Afan Fadli (20), menyampaikan komitmennya bersama para pemuda untuk menjaga warisan budaya leluhur. Ia menilai, menjadi generasi muda bukan berarti meninggalkan identitas budaya sendiri.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, Afan menekankan pentingnya prinsip “mboten lali jowone” (tidak lupa Jawanya) dan “mboten supe budayane” (tidak lupa budayanya).
“Kami berkomitmen untuk mengamalkan karakter positif dan niat baik dalam setiap tindakan. Ini bukan sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga upaya kami menjadi agen perubahan yang bermanfaat bagi Kelurahan Dadaprejo dan Dusun Karang Mloko ke depannya,” pungkas Afan.
Kirab Tumpeng Suro di Dusun Karang Mloko diharapkan dapat terus menjadi agenda tahunan yang lestari. Lebih dari sekadar tradisi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa gotong royong, rasa syukur, dan kerukunan adalah fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai luhur seperti inilah yang menjadi perekat sosial sekaligus identitas budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








