Tiyo Ardianto Buka Suara Soal Aksi Penolakan di UGM, Singgung Dugaan Massa Bayaran
LINGKARMEDIA.COM – Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, akhirnya buka suara terkait aksi penolakan terhadap dirinya yang sempat viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Aksi tersebut menjadi perhatian publik setelah sejumlah video dan foto yang memperlihatkan massa membentangkan poster kritik terhadap Tiyo beredar luas di berbagai platform media sosial. Dalam aksi itu, para peserta menyampaikan penolakan terhadap Tiyo dan menilai dirinya tidak lagi mewakili suara mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Baca juga: https://lingkarmedia.com/koalisi-sipil-kritik-pengerahan-tni-dan-komcad-saat-aksi-mahasiswa/
Massa juga meminta agar Tiyo tidak membawa-bawa nama UGM dalam berbagai pernyataan maupun aktivitasnya di ruang publik. Polemik semakin berkembang setelah muncul dugaan bahwa sebagian peserta aksi merupakan massa bayaran yang sengaja dikerahkan untuk melakukan demonstrasi tersebut.
Menanggapi hal itu, Tiyo menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengatasnamakan institusi UGM dalam setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik. Menurutnya, penyebutan dirinya sebagai mantan Ketua BEM UGM hanya merupakan bagian dari identitas dan rekam jejak organisasi yang pernah melekat pada dirinya.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
“Saya tidak pernah mengatasnamakan diri sebagai UGM. Bahwa saya punya histori atribusi sebagai ketua BEM yaitu adalah cara orang untuk mengenali saya, tapi secara institusional tidak ada hubungannya saya dengan BEM UGM,” ujar Tiyo saat ditemui di sela-sela aksi Gejayan, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa statusnya sebagai mantan Ketua BEM UGM merupakan fakta historis yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan aktivismenya. Namun demikian, hal tersebut tidak berarti dirinya berbicara atau bertindak atas nama institusi kampus maupun organisasi kemahasiswaan yang ada saat ini.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Tiyo juga mengingatkan bahwa struktur organisasi mahasiswa di UGM telah mengalami perubahan. Organisasi yang dahulu dikenal sebagai BEM UGM kini telah bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa UGM.
Karena itu, ia menilai dirinya sudah tidak memiliki hubungan organisatoris dengan lembaga kemahasiswaan yang saat ini berjalan di lingkungan kampus tersebut.
“Apalagi BEM UGM sekarang sudah bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa UGM,” katanya.
Meski menjadi sasaran kritik dalam aksi tersebut, Tiyo mengaku tetap menghargai kebebasan berekspresi dan hak setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Ia menilai kritik merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus diterima secara terbuka.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Namun, di balik aksi tersebut, Tiyo mengaku mendapatkan informasi yang membuat dirinya merasa prihatin. Ia menyinggung adanya dugaan bahwa sebagian peserta aksi terlibat karena faktor ekonomi dan kebutuhan hidup, termasuk untuk membiayai pendidikan mereka.
Menurut Tiyo, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang menghadapi tekanan ekonomi dalam menjalani perkuliahan. Oleh karena itu, ia memilih untuk melihat persoalan tersebut dari sisi kemanusiaan daripada sekadar mempersoalkan kritik yang ditujukan kepadanya.
“Saya kasih bocoran deh, bahwa demonstrasi itu punya semacam rekayasa situasi lah yang memang itu terjadi karena mereka punya kebutuhan untuk hidup, kebutuhan untuk melanjutkan perkuliahan dan saya rasa enggak apa-apa,” ungkapnya.
Tiyo menegaskan bahwa dirinya tidak menyimpan kemarahan terhadap peserta aksi. Sebaliknya, ia memilih memahami kondisi yang mungkin sedang mereka hadapi.
Ia bahkan menyatakan tidak keberatan apabila dirinya menjadi sasaran kritik maupun hinaan selama hal itu dianggap dapat membantu orang lain memenuhi kebutuhan hidup mereka.
“Kalau untuk hidup sebagian orang harus menghina saya, hinalah saya. Tapi sesudahnya saya harap mereka semua menjadi manusia,” katanya.
Lebih lanjut, Tiyo berharap mahasiswa yang diduga terlibat dalam aksi tersebut tetap mampu menjaga nilai-nilai moral dan kemanusiaan setelah persoalan yang mereka hadapi terselesaikan. Ia menekankan pentingnya mempertahankan nurani dan integritas dalam setiap tindakan.
Menurutnya, perbedaan pandangan politik maupun sikap kritis terhadap seseorang seharusnya tidak membuat individu kehilangan harga diri atau mengorbankan prinsip moral yang dimiliki
“Saya berharap rekan-rekan yang terpaksa melakukan demonstrasi itu sesudah dia dapatkan apa yang mereka butuhkan selanjutnya dia akan jadi manusia yang punya nurani, yang bisa hidup bermoral tanpa harus menggadaikan harga diri,” pungkasnya.
Pernyataan Tiyo tersebut kembali memicu beragam respons di media sosial. Sebagian warganet menilai sikapnya menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi kritik, sementara sebagian lainnya mempertanyakan dugaan adanya rekayasa massa dalam aksi penolakan tersebut.
Hingga kini, polemik mengenai aksi penolakan terhadap Tiyo Ardianto masih menjadi perbincangan publik dan terus memunculkan berbagai pandangan dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat luas.
Penulis: Vara
Editor: Samsu








