Bedak Baru Pasar Karangploso Diduga Mangkrak, Muncul Dugaan Nama Ganda Pemesan

IMG_20260605_111701

LINGKARMEDIA.COM – Pembangunan bedak baru di Pasar Karangploso, Kabupaten Malang, menuai sorotan dari sejumlah pedagang dan masyarakat. Pasalnya, bangunan yang telah berdiri selama lebih dari dua tahun tersebut hingga kini terlihat belum dimanfaatkan secara optimal dan banyak unit yang masih kosong.

Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan terkait pengelolaan serta mekanisme penempatan pedagang di area pasar yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Karangploso tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media di lokasi pada Jumat (5/6/2026), sejumlah pedagang mengaku keberatan dengan harga yang ditetapkan untuk mendapatkan satu unit bedak. Selain itu, muncul pula informasi mengenai dugaan adanya nama ganda atau pemesan ganda dalam proses pemesanan unit bedak baru tersebut.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/kantor-desa-beji-resmi-pindah-ke-gedung-baru-boyongan-jadi-simbol-awal-pelayanan-dan-pusat-ekonomi-warga/

Salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa harga satu unit bedak dinilai cukup tinggi dan memberatkan para pelaku usaha kecil.

“Harga bedak berkisar antara Rp100 juta sampai Rp125 juta per unit. Bagi pedagang kecil, angka itu sangat berat,” ujarnya kepada awak media.

Menurutnya, tingginya biaya yang harus dikeluarkan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak pedagang belum menempati bedak yang telah dibangun. Beberapa pedagang bahkan memilih tetap berjualan di lokasi lama sambil menunggu adanya kejelasan terkait kebijakan pengelola pasar.

Selain persoalan harga, awak media juga memperoleh informasi mengenai dugaan ketidaksesuaian data pemesan bedak. Seorang sumber lain yang berhasil ditemui menyebut jumlah pemesan yang telah melakukan pembayaran diduga melebihi jumlah unit yang tersedia.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

“Jumlah bedak ada 72 unit, tetapi yang sudah membayar disebut mencapai 102 pedagang,” ungkap sumber tersebut.

Informasi tersebut tentu menimbulkan tanda tanya di kalangan pedagang. Jika benar terdapat lebih banyak pemesan dibanding jumlah unit yang tersedia, maka perlu adanya penjelasan resmi dari pihak pengelola pasar mengenai mekanisme pendaftaran, verifikasi data, hingga penentuan penerima unit bedak.

Berdasarkan pantauan langsung awak media di lokasi, puluhan bedak yang telah selesai dibangun tampak masih kosong. Tidak terlihat aktivitas jual beli sebagaimana yang lazim terjadi di area pasar yang telah beroperasi. Kondisi ini membuat bangunan tersebut terkesan terbengkalai dan belum memberikan manfaat ekonomi secara maksimal.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Sejumlah pedagang berharap pemerintah daerah maupun pengelola pasar dapat memberikan penjelasan secara terbuka terkait kondisi tersebut. Mereka juga berharap ada solusi yang dapat memudahkan pedagang untuk menempati bedak baru sehingga fasilitas yang telah dibangun dengan anggaran besar tidak menjadi aset yang tidak produktif.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala UPT Pasar Induk Karangploso, Anton Apriansah, belum membuahkan hasil. Awak media telah beberapa kali mendatangi kantor UPT Pasar Induk Karangploso untuk meminta klarifikasi terkait keluhan pedagang dan informasi dugaan nama ganda pemesan bedak.

Namun saat didatangi, Anton Apriansah tidak berada di kantornya. Hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum dapat ditemui maupun memberikan keterangan resmi terkait berbagai informasi yang berkembang di tengah para pedagang.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Awak media akan terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait guna memperoleh penjelasan yang berimbang mengenai pembangunan dan pemanfaatan bedak baru di Pasar Karangploso tersebut.

 

Penulis: Samsu

Editor: Ramses