Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal, di Beberapa Daerah Harga Tembus Rp 40 Ribu Per Tabung
LINGKARMEDIA.COM – Kelangkaan dan melonjaknya harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi ukuran 3 kilogram (gas melon) mulai membuat resah masyarakat. Di beberapa wilayah, harga eceran dilaporkan menembus angka Rp35.000 hingga Rp40.000 per tabung.
Keresahan ini salah satunya mencuat melalui unggahan media sosial Instagram Pali Terkini.
Warga Desa Betung, Kecamatan Abab, mengaku sangat kesulitan mendapatkan pasokan gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
“Kami sangat kesulitan, harganya sudah naik jadi Rp35 ribu per tabung, barangnya pun susah dicari. Kami terpaksa beli karena butuh untuk memasak,” ungkap salah satu warga dalam kolom komentar, Senin (13/4/2026).
Tidak hanya warga Betung Abab, juga serupa dialami warga Kelurahan Talang Ubi, terutama di salah Rumah Makan, harga beli gas elpiji Rp 30 ribu per tabung, bahkan bisa mencapai Rp 35 ribu per tabung.
Hal senada dikatakan Yanti Salah satu pemilik Rumah Makan, mengeluhkan terkadang mencari gas elpiji 3 Kilo, sangat sulit, apalagi harga pun tidak sesuai diharapkan.
“Harga di eceran pada saat membeli Rp 30 ribu pertabung, dengan adanya kenaikan harga gas tersebut, kami pun terpaksa menaikan harga jual makanan,” ungkapnya, Senin (13/4/2026).
Warga Ngawi mengeluhkan kelangkaan tabung elpiji 3 kilogram. Kesulitan mendapatkan elpiji disebut sudah terjadi sejak sebelum Lebaran. Harga elpiji di tingkat pengecer kini melonjak hingga Rp 25 ribu sampai Rp 27 ribu per tabung. Kenaikan harga itu disebut akibat berkurangnya jatah pasokan. Sebelum terjadi kelangkaan, harga elpiji di tingkat pengecer masih berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung.
Di Banjarnegara, kelangkaan tabung gas elpiji (LPG) ukuran 3 Kg terjadi di sejumlah kecamatan, misalnya di Purwonegoro. Tidak hanya langka, harga per tabung gas melon itu juga melambung tinggi. Dari yang harga eceran per tabung Rp 17 – 19 ribu, kini bisa mencapai Rp 22-25 ribu.
Kelangkaan LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram atau “gas melon” juga terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kian meresahkan.
Kondisi ini tidak hanya memicu antrean panjang, tetapi juga membuat harga di tingkat pengecer melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp 35.000 per tabung. Harga tersebut jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, mengakui adanya ketidakteraturan harga di tingkat bawah. Secara data, Pertamina menyalurkan kuota normal sekitar 30.000 hingga 35.000 tabung per hari.
Hadi menyebutkan bahwa di tingkat pengecer, harga LPG 3 kg melambung hingga Rp 35.000. Lemahnya pengawasan dan keterbatasan kewenangan penindakan menjadi kendala utama Dinas Perdagangan.
Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkoordinasi dengan Hiswana Migas dan Pertamina Patra Niaga untuk melakukan tambahan penyaluran (extra dropping).
Sekretaris Dinas ESDM NTB, Niken Arumdati, menjelaskan bahwa tambahan pasokan mencapai 70 persen dari alokasi normal akan disalurkan selama tiga hari ke depan.
“Kebijakan ini difokuskan untuk memperkuat stok di wilayah dengan konsumsi tinggi seperti Lenek, Aikmel, Pringgasela, dan Wanasaba,” kata Niken.
Niken menegaskan bahwa pangkalan resmi dilarang menjual gas subsidi kepada pengecer untuk memastikan harga tidak melonjak ke angka Rp 35.000.
Penulis: Tim Ekopol
Editor: Ramses








