Walhi: Negara Gagal Lindungi Warga Cisarua Dari Kerusakan Ekologis

IMG-20260128-WA0036

LINGKARMEDIA.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menegaskan bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat menilai negara gagal melindungi warganya dari kerusakan ekologis.

Menurut Walhi, longsor di Cisarua merupakan konsekuensi langsung dari kejahatan tata ruang dan pembiaran kerusakan ekologis di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Abi, tim Desk Disaster Walhi Jawa Barat menegaskan tragedi ini justru kembali membuktikan bahwa kebijakan pembangunan yang mengorbankan ruang terbuka hijau telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.

Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Cisarua selama dua hari sering dijadikan alasan utama terjadinya longsor.

“Namun narasi tersebut adalah satu kesalahan berpikir yang sangat fatal, karena pada faktanya hujan hanyalah salah satu pemicu, sementara penyebab sesungguhnya adalah rusaknya daya dukung lingkungan akibat alih fungsi lahan dan penyusutan ruang terbuka hijau yang dibiarkan berlangsung secara sistematis,” kata Abi ke media, Sabtu (24/1/2026).

“Longsor Cisarua memperlihatkan kehancuran ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di Bandung Utara yang selama ini dibiarkan. Ketika fungsi ekologis dihancurkan, bencana bukanlagi kemungkinan, tetapi keniscayaan,” tegas Abi.

Kawasan Bandung Utara sejatinya merupakan wilayah lindung strategis yangberfungsi menjaga keseimbangan ekologis Bandung Raya.

Namun fungsi tersebut telah dikorbankan demi kepentingan pembangunan yang eksploitatif.

“Negara gagal menjalankan mandat perlindungan lingkungan, sementara warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan dipaksa menanggung risiko yang tidak mereka ciptakan,” ucapnya.

Tanah longsor yang melanda kawasan lereng Gunung Burangrang, tepatnya di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat yang terjadi pada Sabtu (24/1) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB ini dipicu oleh intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sepanjang malam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengonfirmasi bahwa hingga Sabtu pagi, tercatat 10 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dalam pencarian tim gabungan.

Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Jabar, korban tewas longsor Cisarua ditemukan di dua lokasi berbeda yang terdampak material longsoran. Sebanyak delapan korban meninggal dunia berasal dari Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Sementara itu, dua korban tewas lainnya ditemukan di Kampung Sukadami, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang.

Selain menelan korban jiwa, longsoran tanah juga menghantam permukiman warga. Sebanyak 30 rumah dilaporkan terdampak material tanah, dengan satu unit rumah mengalami kerusakan berat. Kondisi tanah yang masih labil memaksa sekitar 400 warga dievakuasi oleh petugas gabungan ke tempat yang lebih aman untuk mencegah jatuhnya korban susulan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jabar, Bambang Imanudin, menyatakan bahwa tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI/Polri, dan relawan telah bergerak cepat ke lokasi kejadian. Fokus utama saat ini adalah pencarian 82 orang yang dinyatakan hilang serta penanganan pengungsi.

Penulis: Tim Respon Bencana

Editor: Ramses