Upacara Adat Perlon Unggahan: Jalan Kaki Massal Ziarah Makan Leluhur
LINGKARMEDIA.COM – Ribuan masyarakat adat Kasepuhan Banokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali melaksanakan tradisi sakral Perlon Unggahan. Upacara adat ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, alam, serta Tuhan Yang Maha Esa menjelang bulan suci Ramadhan, Kamis (12/2/26). Ritual ini merupakan tradisi adat yang sudah berusia ribuan tahun.
Para peserta ini berjalan kaki puluhan kilometer dari tempat tinggalnya menuju makam leluhur di Desa Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Berpakaian adat Jawa dan membawa berbagai macam hasil bumi seperti beras dan sayur-sayuran.
Menurut Sudarno, salah satu anak dari juru kunci Bonokeling menyebutkan bahwa laku ritual tersebut sudah setiap tahun dilakukan menjelang bulan Ramadan. Tradisi ini sudah turun temurun dari ribuan tahun yang lalu.
“Di sepanjang perjalanan, peserta akan disambut oleh anak cucu dan keturunan Kyai Bonokeling. Ritual ini akan berpuncak pada hari Sabtu (14/2/2026),” katanya.
Ditambahkan, kegiatan adat Perlon Unggahan meliputi ziarah kepada para leluhur dan meminta keselamatan kepada yang maha kuasa, terlebih saat menjelang bulan Ramadan.
Rombongan punggahan berasal dari dua pasemuan (rumah adat), yakni Pasemuan Lor dan Pasemuan Kidul. Tahun ini, sebanyak 90 laki-laki dan sekitar 55 perempuan ikut dalam perjalanan tersebut.
Keberangkatan rombongan dilepas langsung oleh Camat Adipala, Firdaus Azi Mutia. Ia menyampaikan bahwa tradisi yang masih dijaga masyarakat Kalikudi ini menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang patut dipertahankan.
“Sesampainya nanti di Desa Pekuncen, Jatilawang, anak putu akan beristirahat di rumah-rumah Bedogol atau para tetua adat. Kemudian melakukan ritual ziarah ke sejumlah makam, yang paling utama adalah makam Kyai Bonokeling,” kata Sudarno.
Dalam prosesi ziarah, anak putu harus melepas alas kaki dan mengantre secara rapih sebelum masuk ke makam. Ini simbol menyatukan diri dengan alam dan ritual ini terus dilakukan sebagai wujud konsistensi masyarakat adat menjaga kearifan lokal.
Bagi anak putu Kalikudi, punggahan bukan sekadar ziarah, tetapi bagian dari tradisi yang terus dijaga sebagai persiapan batin menjelang bulan suci Ramadan.
“Tradisi ini rutin mereka lakukan menjelang bulan suci ramadan,” tandasnya.
Secara keseluruhan, jumlah anak putu di Pasemuan Lor sekitar 400 kepala keluarga, sedangkan di Pasemuan Kidul sekitar 200 kepala keluarga. Meski tidak semua ikut berjalan kaki, tradisi ini tetap diikuti dan didukung seluruh anggota pasemuan.
Aris Munandar, ketua Komunitas Masyarakat Adat dan Penjaga Tradisi Nusantara menyebut bahwa eksistensi masyarakat adat selalu seksi saat menjadi santapan di panggung politik.
“Kebetulan hari ini adalah tepat saat pelantikan Kepala Daerah. Saatnya kami, masyarakat adat menagih janji kampanye para Kepala Daerah terpilih,” kata Aris.
Tagihan janji kampanye masyarakat adat bukanlah hal yang muluk untuk kepentingan pribadi, misalnya menjadi staf khusus, staf ahli, komisaris dan sejenisnya. Janji yang ditagih lebih bersifat sistemik, pengadaan pupuk yang murah dan mudah, perlindungan terhadap eksistensi masyarakat adat dan penjaga lingkungan.
“Saya pikir itu bukan hal sulit. Kepala daerah terpilih, dalam hal di Jawa Tengah adalah Ahmad Luthfi sudah memiliki perangkat komplit,” kata Aris.
Untuk memenuhi janji kampanye itu, misalnya bantuan alat pertanian, peningkatan kesejahteraan masyarakat adat, dan juga anggaran untuk masyarakat adat yang besar tapi tak pernah mengucur ke bawah saatnya direalisasikan.
“Gubernur tak bisa leha-leha. Janji harus mulai dibayar sejak sekarang. Jangan banyak berkilah karena selama ini kami menjadi penjaga alam tanpa anggaran negara. Sementara mata anggaran itu entah siapa yang menikmati,” kata Aris.
Komandan Serikat Tani Merdeka, Don Mudzakir yang selama ini menjadi jembatan kepentingan masyarakat adat yang berkaitan dengan pertanian menyebut akan mengawal warga untuk menagih janji gubernur terpilih tersebut.
“Sebelumnya kami berterimakasih karena sudah mendapatkan sumur bor dengan kedalaman 60 meter di tiga titik. Ini sangat membantu saat musim kemarau. Namun janji mempermudah dan mempermurah pupuk adalah janji kampanye yang harus segera diwujudkan,” kata Don.
Harapannya, tradisi Perlon Unggahan Bonokeling ini bukan sekadar jadi tontonan budaya, tapi terus dijaga dan diteruskan ke generasi muda. Karena lewat tradisi inilah, kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan, kebersamaan, dan rasa cinta terhadap tanah kelahiran.
Penulis: Tim Literasi Global
Editor: Ramses








