Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.046 per Dolar AS

14iNir6uj4

JAKARTA, Lingkarmedia.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026). Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp18.046 per dolar AS, terkoreksi 0,11 persen dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp18.027 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia. Pada perdagangan sore, sejumlah mata uang regional bergerak turun terhadap dolar AS, seiring dengan kenaikan indeks dolar yang mencerminkan penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut di pasar valuta asing internasional.

Mengutip data yang dilansir dari Investasi, rupiah berada di antara mata uang Asia yang mengalami pelemahan pada perdagangan awal pekan ini. Meski koreksinya relatif terbatas dibandingkan beberapa mata uang regional lainnya, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan terhadap dolar AS.

Baht Thailand Alami Pelemahan Terbesar

Dalam daftar mata uang Asia yang dipantau, baht Thailand mencatat pelemahan paling dalam pada perdagangan Senin. Mata uang Thailand tersebut turun 0,52 persen terhadap dolar AS.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/ihsg-bunuh-diri-rupiah-sekarat-pemerintah-cari-kambing-hitam/

Dolar Taiwan menyusul dengan penurunan sebesar 0,33 persen, sedangkan peso Filipina terkoreksi 0,15 persen. Rupiah berada di urutan berikutnya dengan pelemahan 0,11 persen.

Tekanan juga dialami yen Jepang yang melemah 0,08 persen. Sementara itu, dolar Singapura terkoreksi 0,04 persen dan ringgit Malaysia turun tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga sejumlah negara Asia lainnya.

Meski demikian, besaran pelemahan setiap mata uang berbeda-beda. Baht Thailand menjadi mata uang dengan koreksi terdalam dalam daftar tersebut, sedangkan ringgit Malaysia mengalami penurunan paling tipis di antara mata uang yang tercatat melemah.

Sejumlah Mata Uang Asia Masih Menguat

Di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang regional, beberapa mata uang Asia justru berhasil mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kenaikan terbesar dalam daftar tersebut, yakni sebesar 0,19 persen. Yuan China juga menguat 0,06 persen, sementara rupee India naik 0,02 persen.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Dolar Hong Kong turut mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,003 persen pada perdagangan sore.

Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan bahwa respons mata uang di kawasan Asia terhadap dinamika dolar AS tidak sepenuhnya seragam. Sejumlah mata uang masih mampu menguat, sementara sebagian lainnya mengalami koreksi.

Namun, data pergerakan harian tersebut belum cukup untuk menyimpulkan faktor spesifik yang mendorong penguatan atau pelemahan masing-masing mata uang.

Indeks Dolar AS Naik ke Level 102,03

Tekanan terhadap rupiah dan mayoritas mata uang Asia berlangsung bersamaan dengan kenaikan indeks dolar AS.

Berdasarkan data yang dilansir dari Investasi, indeks dolar AS berada di level 102,03 pada Senin (19/10/2026). Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 101,83.

Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1A1SqUKLWY/

Indeks dolar AS merupakan indikator yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kenaikan indeks ini mencerminkan penguatan dolar dalam cakupan mata uang yang menjadi komponennya.

Penguatan dolar menjadi salah satu konteks penting dalam membaca pergerakan rupiah di pasar valuta asing. Ketika dolar menguat, mata uang negara lain dapat mengalami tekanan, meskipun besarnya dampak bergantung pada kondisi masing-masing pasar.

Dengan penutupan di level Rp18.046 per dolar AS, rupiah mengawali pekan dengan pelemahan terbatas. Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk melihat apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau mata uang domestik mampu kembali menguat pada perdagangan berikutnya.

 

Penulis : Panji