Prosesi Keris Pora Warnai Karnaval Budaya Hari Jadi ke-108 Desa Pandanrejo

IMG_20261018_161759

KOTA BATU, Lingkarmedia.com – Perayaan hari jadi ke-108 Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berlangsung meriah dengan menggelar karnaval budaya yang melibatkan puluhan kontingen, Minggu (18/10/2026). Mengusung tema “Harmoni Alam dan Gotong Royong Menuju Pandanrejo Raharjo”, kegiatan ini menjadi momentum pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Sebanyak kurang lebih 70 kontingen turut ambil bagian dalam karnaval budaya tersebut. Kemeriahan acara semakin terasa dengan keikutsertaan 17 kontingen sound kreasi yang ikut menyemarakkan peringatan hari jadi desa.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/hari-jadi-ke-25-kota-batu-nurochman-ajak-lanjutkan-estafet-pembangunan-dan-jaga-kelestarian-alam/

Namun, ada pemandangan berbeda yang menjadi perhatian masyarakat dalam perayaan kali ini. Puluhan orang dari keturunan Wongso Negaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, hadir menampilkan prosesi adat Keris Pora untuk menyambut kedatangan Kepala Desa Pandanrejo, Abdul Manan, di panggung kehormatan.

Prosesi tersebut menghadirkan nuansa tradisi keraton yang kental. Para peserta mengenakan pakaian adat dan menjalankan ritual sesuai pakem yang berlaku dalam tradisi budaya Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kehadiran prosesi Keris Pora menjadi salah satu daya tarik dalam perayaan hari jadi Desa Pandanrejo tahun ini. Selain menambah kekayaan atraksi budaya, ritual tersebut juga menjadi bentuk upaya mengenalkan kembali tradisi leluhur kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Keris Pora sebagai Simbol Penghormatan

Wakil Demang Malang Raya, Kanjeng Raden Tumenggung H. Ir. Rochman Dipuro (60), menjelaskan bahwa Keris Pora merupakan prosesi yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada pihak maupun simbol yang dianggap layak dihormati.

Menurutnya, prosesi tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari pertunjukan dalam sebuah acara, tetapi juga mengandung nilai penghormatan dan pelestarian adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur.

“Keris Pora itu sebuah acara penghormatan kepada perangkat dan pataka yang layak untuk dihormati,” ungkap Rochman kepada awak media.

Ia menambahkan, pelaksanaan prosesi tersebut harus tetap memperhatikan ketentuan adat yang berlaku. Hal itu penting agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Rochman menegaskan, pihaknya berupaya menjaga keberlangsungan tradisi leluhur melalui pelaksanaan berbagai prosesi adat yang masih relevan untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

“Kami hanya membangkitkan atau uri-uri budaya leluhur. Sedangkan upacara-upacara seperti ini harus ada pakemnya bagaimana. Kita di Wongso Negaran atau Kasunanan Surakarta Hadiningrat juga punya pakem,” tambahnya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal keberagaman tradisi Nusantara sekaligus memahami pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan kehidupan modern.

Diharapkan Mendorong Ekonomi Masyarakat

Kepala Desa Pandanrejo, Abdul Manan, S.Sos., menyambut baik pelaksanaan perayaan hari jadi desa yang dikemas melalui karnaval budaya. Menurutnya, kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki potensi untuk memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga.

Dengan keterlibatan puluhan kontingen dan kehadiran masyarakat yang menyaksikan karnaval, kegiatan tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha bagi pelaku ekonomi lokal.

“Dengan hadirnya perayaan hari jadi Desa Pandanrejo ke-108 ini dapat mendukung peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Abdul Manan.

Perayaan hari jadi desa menjadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan potensi wilayah kepada masyarakat yang lebih luas. Selain kekayaan budaya, Desa Pandanrejo juga memiliki potensi lokal yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kemasyarakatan dan agenda wisata berbasis budaya.

Karena itu, penyelenggaraan kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan tetap mengedepankan kebersamaan, pelestarian tradisi, serta manfaat nyata bagi masyarakat.

Usia ke-108 Desa Pandanrejo Mengacu pada Temuan Sejarah

Sementara itu, Sekretaris Panitia Pelaksana, Efendi Dwi Santoso, mengungkapkan bahwa penetapan usia Desa Pandanrejo yang kini memasuki 108 tahun didasarkan pada penelusuran informasi dari para sesepuh desa.

Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1A1SqUKLWY/

Menurut Efendi, panitia berupaya menggali keterangan dari tokoh-tokoh masyarakat untuk menemukan dasar historis yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan usia desa.

Salah satu informasi yang diperoleh berasal dari Mbah Bakin dari Pandan. Berdasarkan penuturan yang diterima, dahulu terdapat sebuah kayu bertuliskan angka tahun 1918 di rumah salah seorang sesepuh.

Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu rujukan dalam menentukan usia Desa Pandanrejo.

“Kami sudah ke sesepuh-sesepuh, sempat ditemukan oleh Mbah Bakin dari Pandan, dulu di rumah Mbah-nya itu ada kayu bertuliskan angka kalau tidak salah 1918. Itu yang menjadi tolak ukur kami, otentik buktinya,” kata Efendi.

Ia menjelaskan, informasi tersebut menjadi dasar bagi panitia untuk memperingati hari jadi Desa Pandanrejo yang ke-108 pada tahun 2026.

Meski demikian, penelusuran sejarah desa tetap menjadi bagian penting yang dapat terus dikembangkan agar dokumentasi mengenai asal-usul dan perjalanan Desa Pandanrejo semakin lengkap.

Karnaval Tematik Jadi Rencana Pengembangan ke Depan

Efendi juga menyampaikan bahwa pelaksanaan karnaval tahun ini menjadi bahan evaluasi bagi panitia untuk menyelenggarakan kegiatan yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, berbagai masukan dari masyarakat akan menjadi pertimbangan dalam menentukan konsep karnaval berikutnya agar kegiatan tetap meriah, tetapi juga nyaman dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Ke depannya, mungkin akan kita sempurnakan lagi karena karnaval ini kita juga menjajaki untuk tahun-tahun ke depannya bentuk karnaval apalagi yang lebih soft lagi di masyarakat, ini menjadi tolak ukur kami,” imbuhnya.

Ia menambahkan, salah satu konsep yang dipertimbangkan adalah karnaval tematik dengan menampilkan ciri khas dari masing-masing dusun di Desa Pandanrejo.

Melalui konsep tersebut, setiap dusun diharapkan dapat menunjukkan potensi, kreativitas, serta kekayaan budaya yang dimiliki. Dengan demikian, karnaval tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana memperkuat identitas dan kebersamaan antara warga.

Efendi menegaskan bahwa panitia tetap mendukung berbagai kegiatan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dijaga keberlangsungannya.

“Bagi kami sangat mendukung dengan adanya kegiatan budaya ini, artinya kita beragama juga berbudaya agar seimbang. Antara beragama dan berbudaya akan kita giatkan kegiatan agama, kegiatan budaya harus kita dukung,” pungkasnya.

Perayaan hari jadi ke-108 Desa Pandanrejo ini sekaligus menjadi bagian dari suasana peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 Kota Batu. Momentum tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong, menjaga warisan budaya, serta mendorong kemajuan desa yang selaras dengan potensi alam dan kehidupan masyarakatnya.

 

Penulis: Samsu