Festival Nyusu Bareng Angkat Potensi Wisata Edukasi Dusun Brau Kota Batu
Kota Batu, Lingkarmedia.com – Festival “Nyusu Bareng” yang digelar di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mendapat apresiasi dari Wali Kota Batu H. Nurochman, SH., MH. Kegiatan yang mengangkat potensi peternakan sapi perah tersebut diikuti ribuan anak-anak mulai tingkat TK hingga SLTA bersama warga setempat, Minggu (4/10/2026).
Festival “Nyusu Bareng” menjadi salah satu upaya memperkenalkan potensi Dusun Brau sebagai kawasan yang memiliki kekuatan di sektor peternakan sapi perah sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis edukasi dan potensi lokal.
Baca juga: https://lingkarmedia.com/undang-30-travel-agent-fordewi-perkenalkan-dusun-wisata-brau/
Kegiatan tersebut merupakan inisiatif Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu dengan menggandeng Kelompok Peternak Sapi Perah Margo Makmur. Konsep festival dirancang untuk memperkenalkan aktivitas peternakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus mengangkat produk susu segar yang dihasilkan masyarakat Dusun Brau.
Ketua Fordewi Kota Batu, Muchamad Dadi, mengatakan Dusun Brau memiliki potensi peternakan yang sangat besar. Salah satu indikatornya terlihat dari populasi sapi perah yang jumlahnya bahkan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk di dusun tersebut.
Kondisi tersebut membuat produksi susu segar di Dusun Brau cukup melimpah. Potensi inilah yang dinilai perlu dikembangkan dan diperkenalkan secara lebih luas kepada masyarakat maupun wisatawan.
“Melihat potensi yang ada, kami dari Forum Desa Wisata Kota Batu ini menganggap perlu untuk mengangkat, mempromosikan kemudian memperkenalkan,” ungkap Dadi.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menurutnya, festival tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Dusun Brau sebagai salah satu destinasi wisata berbasis peternakan dan edukasi di Kota Batu.
Kehadiran peserta dalam jumlah besar menjadi salah satu gambaran tingginya antusiasme masyarakat terhadap konsep wisata yang mengangkat aktivitas peternakan secara langsung. Anak-anak yang mengikuti kegiatan dapat memperoleh pengalaman mengenal proses peternakan sapi perah sekaligus melihat potensi ekonomi yang berkembang dari sektor tersebut.
Festival ini juga mendapat perhatian dari pelaku industri pariwisata. Sebanyak 30 travel agent dari wilayah Jawa-Bali turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran para agen perjalanan diharapkan dapat membuka peluang agar potensi Dusun Brau nantinya masuk dalam paket wisata Kota Batu.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Apresiasi terhadap pelaksanaan Festival “Nyusu Bareng” disampaikan langsung oleh Wali Kota Batu Nurochman. Dalam sambutannya, ia menilai kegiatan tersebut merupakan sebuah inisiatif positif untuk mengangkat potensi lokal yang selama ini belum sepenuhnya dikemas sebagai daya tarik wisata.

“Atas nama Pemerintah Kota Batu memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif yang luar biasa ini di Dusun Brau,” kata Nurochman.
Menurutnya, Festival “Nyusu Bareng” menghadirkan sebuah konsep baru dalam pengembangan pariwisata di Kota Batu. Kegiatan yang menggabungkan potensi peternakan, edukasi dan wisata tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.
“Ini dalam rangka mengangkat potensi yang ada di Dusun Brau. Ada 2.500 ekor sapi penghasil susu dengan jumlah 10 ribu liter per harinya. Ini adalah potensi yang harus dipotret dan dikelola,” tandasnya.
Nurochman menilai besarnya potensi produksi susu tersebut perlu diikuti dengan tata kelola yang baik agar memberikan dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat. Pengembangan wisata peternakan juga diharapkan tidak menghilangkan karakter serta aktivitas utama masyarakat Dusun Brau sebagai peternak.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Karena itu, Pemerintah Kota Batu mendorong adanya pendampingan secara berkelanjutan terhadap pengembangan Desa Wisata Dusun Brau. Nurochman meminta Dinas Pariwisata untuk turut mendampingi masyarakat dalam membangun tata kelola destinasi wisata agar lebih terarah dan mampu memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan.
Selain aspek tata kelola, persoalan akses dan konektivitas juga menjadi perhatian. Nurochman meminta perangkat daerah terkait, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, memberikan dukungan terhadap infrastruktur dan akses menuju Dusun Brau.
Menurutnya, potensi wisata yang besar harus ditunjang dengan akses yang mudah, aman dan nyaman sehingga wisatawan dapat berkunjung tanpa menghadapi kendala konektivitas.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wakil Wali Kota Batu, Kabid Disparpora Kabupaten Situbondo Tian Pramusinta yang mewakili Bupati Situbondo, Forkopimda, Forkopimcam Bumiaji, jajaran Disparta Kota Batu, Disperkim, PHRI, Kepala Desa Gunungsari, Fordewi serta sejumlah sponsor.
Dengan digelarnya Festival “Nyusu Bareng”, Dusun Brau diharapkan tidak hanya dikenal sebagai sentra peternakan sapi perah, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Onny Ardianto, S. Sos., M M, saat ditemui awak media menyampaikan dukungannya atas dilaksanakannya kegiatan tersebut.
Onny mengatakan, “secara kegiatan kami sangat mendukung kegiatan ini. Karena kami percaya bahwa dengan event-event yang semakin banyak maka kita bisa menambah jumlah wisatawan ke Kota Batu”.
Menurut Onny, kegiatan “Nyusu Bareng” ini lebih menggiatkan lagi pada wisata edukasi susu.

“Kegiatan ini sebenarnya lebih pada menggiatkan lagi terkait dengan wisata edukasi susunya”, ungkapnya.
Kolaborasi antara pemerintah, kelompok peternak, pengelola desa wisata, pelaku industri pariwisata dan masyarakat menjadi faktor penting agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Festival ini pun diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan lebih luas potensi Dusun Brau, sekaligus memperkaya pilihan destinasi wisata di Kota Batu yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kekuatan ekonomi dan budaya masyarakat lokal.
Penulis: Samsu








