IHSG Bunuh Diri, Rupiah Sekarat, Pemerintah Cari Kambing Hitam
Oleh :
Rosadi Jamani
Banyak minta saya membahas soal ambruknya IHSG. Pengikut Partai Koptagul mesti tahu apa sebenarnya terjadi? Apakah ekonomi negeri ini yang sedang karhutla, antre BBM di mana-mana, listrik padam, ikut ambruk? Simak narasinya sambil seruput cairan hitam pekat no sugar, wak!
Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG mendadak kesurupan. Indeks ambruk 11,57 persen, kehilangan 678,67 poin, lalu terkapar di level 5.185. Ini titik terendah enam tahun terakhir, sekaligus kejatuhan harian terburuk sejak krisis moneter 1998. Bursa menghentikan perdagangan 30 menit setelah indeks jeblok 8,01 persen saat pembukaan. Kapitalisasi pasar menguap hampir Rp1.000 triliun. Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS. Saham masuk ICU, rupiah pakai infus, investor mendadak rajin berdoa.
Baca juga: https://lingkarmedia.com/gubernur-jateng-tunjuk-mahanni-yulindha-pratiwi-sebagai-plt-bupati-klaten/
Penyebabnya bukan gempa, tsunami, atau tuyul lulusan Harvard. Biangnya pengumuman MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Tenang, bahasa warkopnya begini, Indonesia terancam diusir dari pergaulan investor dunia, disuruh duduk sendirian di halte sambil menunggu angkot tak kunjung datang.
MSCI menyoroti kepemilikan saham tidak transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan penegakan aturan dinilai belum meyakinkan. Keputusan final dijadwalkan paling lambat Juni 2027. Namun, investor tak mau menunggu sampai Lebaran kuda. Mereka menjual saham seperti penumpang berhamburan ketika sopir berteriak rem blong.
Estimasi dana asing yang berpotensi keluar mencapai Rp105–132 triliun. Ini setara 5,8–7,3 miliar dolar AS. Kalau dana aktif ikut panik, angkanya bisa lebih mengerikan. Ini bukan sekadar cut loss, melainkan cut hubungan. Investor pergi, meninggalkan grafik merah dan kenangan pahit.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui pengumuman MSCI menjadi pemicu utama. Namun, ia mempertanyakan waktunya karena pengumuman datang Oktober, bukan November seperti yang diharapkan. Ia juga menyinggung pertemuan di Thailand sepekan sebelumnya tidak membahas persoalan ini. Reformasi, katanya, harus konkret. Betul, Pak! Investor tidak bisa makan PowerPoint reformasi. Mereka butuh bukti, bukan seminar motivasi agar tetap setia meski dompet kebakaran. Mereka sepertinya tak percaya rapat tak rapat melulu.
OJK membalas dengan denda total Rp2,1 triliun. PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dikenai Rp1,5 triliun terkait manipulasi perdagangan saham terencana sepanjang 2023–2026. PT Barito Renewables Energy (BREN) kena Rp500 miliar. Sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) Rp100 miliar terkait pelanggaran proses penawaran umum saham. Sanksi juga menyasar pelaku perdagangan, penjamin emisi, dan pemilik manfaat akhir terbukti terlibat. Regulator akhirnya mengeluarkan taring. Sayangnya, harimau baru mengaum ketika investor sudah kabur naik whoosh.
Bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets menyusut dari sekitar 1,1 persen menjadi 0,4 persen sepanjang tahun ini. Jika status Standalone Market diterapkan, saham Indonesia berisiko tersingkir dari radar dana pasif global. Likuiditas menipis, biaya modal naik, rupiah melemah, impor makin mahal. Perusahaan megap-megap, rakyat ikut pusing. Yang punya saham minum obat, yang tak punya saham ikut sakit kepala.
Media sosial pun berubah menjadi ruang tunggu kiamat. Netizen mengaitkan kejatuhan ini dengan krisis 1998, antrean BBM, karhutla, hingga pemadaman listrik. Tinggal alien turun membawa toa, lengkaplah paket bencana nasional.
Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1A1SqUKLWY/
Masalahnya bukan sekadar saham merah, melainkan kepercayaan. Kalau transparansi dipertanyakan dan reformasi cuma menjadi mantra, investor bisa memilih pergi.
Waduh, wak! Jangan sampai Indonesia menjadi pasar modal jomblo internasional. Emiten ada, bursa ada, regulator ada, pejabat lengkap, tetapi investor memilih tetangga. Kalau Rp1.000 triliun bisa menguap, rakyat pantas waswas. Jangan-jangan besok kepercayaan rakyat ikut delisting. Kalau begitu, celengan ayam pun tampak lebih menjanjikan daripada bursa!
“Bang, yang beginian mana peduli pemerintah. Yang penting dana MBG dan Kopdes aman.”
“Kita tunggu dalam beberapa hari ini, siapa kambing hitamnya, wak!” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmen
yapa
#JYM
Red. Lingkarmedia.com








