Pakar Geologi Dwikorita: Lempung Biru (Blue Clay) Penyebab Longsor

IMG-20251122-WA0020

LINGKARMEDIA.COM – Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof Dwikorita Karnawati menyebut, material lempung biru (blue clay) menjadi penyebab utama pergerakan tanah yang merayap hingga berujung longsor besar di Banjarnegara.

Penyebab longsor besar di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara hingga pergerakan tanah yang tak kunjung berhenti, mengarah pada satu faktor geologi yang selama ini terabaikan.

Jenis tanah ini sangat sensitif terhadap air dan mengalami pembengkakan ekstrem saat jenuh air.

“Ketika kering, keras seperti batu. Saat menyerap air berubah menjadi material mirip pasta atau odol.”

“Ketika jenuh, tanah ini kehilangan kekuatan dan mudah bergerak merayap,” ujar Dwikorita, Kamis (20/11/2025).

Dirinya mengungkapkan, longsor di Majenang Cilacap dan Pandanarum Banjarnegara memperlihatkan pola geologi yang serupa meski pemicunya tidak sama.

Keduanya berada di lereng pegunungan selatan Jawa hingga deretan gunung di bagian tengah Pulau Jawa yang memiliki lapisan tanah lapukan tebal, gembur, dan rapuh di atas lapisan kedap air.

Kondisi alamiah ini menyebabkan tanah penutup mudah bergerak ketika volume dan tekanan air meningkat atau saat lereng menerima gangguan luar. “Polanya sama, pemicunya yang berbeda,”  terangnya lagi.

Pada beberapa lokasi, longsor dipicu curah hujan ekstrem yang meresap ke tanah dan meluncurkan bidang gelincir.

Namun di lokasi lain, pemicunya bisa dari getaran kendaraan besar, kendaraan berkecepatan tinggi, gempa bumi, atau aktivitas manusia seperti pemotongan kaki lereng untuk permukiman ataupun pertanian.

Dwikorita menyebut lagi, longsor nyaris selalu memberikan sinyal sebelum terjadi. Retakan tanah yang muncul mendadak, retakan berbentuk tapal kuda, dinding rumah bergeser, pohon atau tiang listrik condong, hingga keluarnya mata air baru dari lereng merupakan tanda bahwa tanah sedang bergerak.

“Begitu tanda-tanda itu muncul, jangan tunggu suara gemuruh atau material mulai turun. Itu sudah fase terlambat,” ujarnya memperingatkan.

Bencana longsor dalam dua pekan terakhir meninggalkan dampak besar. Di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, longsor menimbun beberapa rumah di Desa Cibeunying. Wilayah tersebut mengalami penurunan tanah hingga dua meter serta retakan sepanjang 25 meter.

Di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, longsor terjadi setelah hujan deras selama tiga jam. Menurut Dwikorita, pergerakan tanah di Banjarnegara sudah berlangsung lama dan memburuk karena keberadaan lempung biru dengan mineral smektit (terutama montmorillonite) yang mengembang ekstrem saat basah.

Penulis: Tim Respon Bencana

Editor: Panji