Diduga Kontraktor Langgar Kesepakatan Jam Operasional, Warga Tutup Akses Jalan Proyek
LINGKARMEDIA.COM – Polemik pembangunan Villa Kayu di Jalan Gimbo RT 05 RW 06 Dusun Jurangkwali, Desa Sumberbrantas, Kota Batu kembali memanas. Setelah sebelumnya rencana pengeboran air di lokasi proyek menuai penolakan warga hingga berujung penutupan sementara proyek, kini persoalan baru kembali mencuat akibat aktivitas armada pengangkut material yang dinilai melanggar kesepakatan bersama.
Pada Kamis malam (14/5/2026), warga kembali melakukan penutupan akses jalan menuju proyek pembangunan Villa Kayu. Penutupan dilakukan dengan menumpahkan pasir di badan jalan sebagai bentuk protes terhadap armada dam truk pengangkut material yang masih beroperasi hingga larut malam.
Warga mengaku kecewa karena pihak kontraktor diduga mengabaikan aturan jam operasional kendaraan material yang sebelumnya telah disepakati bersama dalam pertemuan di kantor Desa Sumberbrantas pada pertengahan April 2026 lalu.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, kendaraan pengangkut material proyek hanya diperbolehkan melintas mulai pukul 07.00 WIB hingga maksimal pukul 19.00 WIB. Namun pada kenyataannya, armada dam truk masih datang ke lokasi proyek hingga sekitar pukul 21.00 WIB bahkan dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

Aktivitas kendaraan berat pada malam hari itu disebut mengganggu kenyamanan dan waktu istirahat warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek. Suara mesin truk yang lalu lalang di jalan kampung membuat sejumlah warga terbangun dari tidur.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Ketua RT 05 RW 06, Miseman, mengatakan bahwa kesepakatan pembatasan jam operasional armada material sebenarnya sudah jelas disampaikan kepada pihak kontraktor proyek.

“Pada kesepakatan dengan perusahaan kontraktor itu minimal pukul 19.00 armada khusus material sudah tidak boleh masuk. Kesepakatan itu ditandatangani di kantor desa pada pertengahan April 2026, tapi pak lurah tidak hadir,” ujar Miseman kepada awak media, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, pada malam kejadian dirinya sempat menegur sopir dam truk yang tetap masuk ke area proyek di luar jam yang telah ditentukan.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
“Kemarin itu armada material datang pada jam 20.30. Waktu itu sopir sudah saya tegur. Sopir saya tanyain katanya tidak tahu aturan di sini seperti itu, lantas saya suruh telepon pihak proyek, tapi pihak proyek tidak bisa,” jelasnya.

Miseman menegaskan bahwa warga bukan bermaksud menghambat pembangunan proyek, namun meminta pihak kontraktor menghormati aturan yang sudah disepakati bersama demi menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.
Keluhan serupa juga disampaikan Arifin, salah satu warga yang rumahnya berada tidak jauh dari lokasi proyek Villa Kayu. Ia mengaku terganggu dengan suara kendaraan proyek yang melintas hingga tengah malam.
“Itu pas malam saya tidur jam 00.00, karena dam truk lalu lalang jadi saya terbangun dan sopirnya saya tegur suruh kembali tapi gak mau, akhirnya pasir saya suruh diturunkan di tengah jalan biar tertutup,” ungkap Arifin saat ditemui di kediamannya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Arifin mengatakan, pada Kamis malam armada dam truk datang sebanyak dua kali, yakni sekitar pukul 20.00 WIB dan kembali datang sekitar pukul 00.00 WIB. Menurutnya, tindakan warga menutup akses jalan dilakukan sebagai bentuk peringatan agar pihak proyek menaati aturan yang telah disepakati sebelumnya.

“Intinya, biar kontraktor tahu kalau keluar masuknya kendaraan material proyek sampai jam 18.00 atau 19.00. Jadi itu sudah melebihi, proyeknya sudah menyalahi aturan yang sudah disepakati,” tegasnya.
Ia juga berharap pimpinan proyek turun langsung menemui warga untuk memberikan penjelasan dan solusi terkait aktivitas proyek yang dinilai meresahkan masyarakat sekitar.
“Pagi, pasir mau diambil sama orang proyek tetapi saya suruh berhenti. Saya ingin tahu kejelasan dari pimpinannya, kalau melalui mandor-mandor itu tidak akan sampai ke pimpinan proyeknya. Biar ke sini memberikan penjelasan kepada warga biar pasang banner pengumuman jam keluar masuknya pekerja itu,” tambah Arifin.
Sementara itu, Kepala Desa Sumberbrantas, Saniman, mengaku belum mengetahui adanya aksi penutupan akses jalan menuju proyek pembangunan Villa Kayu tersebut. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, dirinya menyebut akan segera mengecek langsung ke lokasi.
“Saya malah belum tahu kalau ada penutupan akses jalan menuju proyek saat ini, mungkin nanti saya akan segera ngecek ke lokasi,” kata Saniman.
Hingga berita ini diturunkan, akses jalan menuju lokasi proyek pembangunan Villa Kayu masih tertutup timbunan pasir yang sengaja diletakkan warga di badan jalan. Belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor maupun pengelola proyek terkait protes warga tersebut.
Persoalan ini menambah daftar polemik pembangunan Villa Kayu yang sebelumnya juga sempat mendapat penolakan warga terkait rencana pengeboran air di kawasan Jalan Gimbo. Warga berharap seluruh aktivitas proyek dapat berjalan sesuai aturan dan menghormati kenyamanan lingkungan sekitar agar konflik berkepanjangan tidak terus terjadi.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








