Kekuatan Gen Z Tumbangkan Pemerintahan di Negara Spartacus
LINGKARMEDIA.COM – Bulgaria, dengan nama resmi Republik Bulgaria (bahasa Bulgaria: България, Bǎlgarija (Република България), diromawikan menjadi Republika Bǎlgarija, adalah negara di Eropa Tenggara. Bulgaria berbatasan dengan lima negara: Rumania di utara (sebagian besarnya di sepanjang Sungai Donau), Serbia, dan Makedonia Utara di barat, dan Yunani dan Turkiye di selatan. Laut Hitam membatasi negara ini di sebelah timur.
Bersama sejumlah negara lain, Bulgaria termasuk dalam kategori Negara Balkan, istilah politik-kultural bagi negara-negara yang berada di kawasan semenanjung tersebut.

Didirikan pada abad ke-7, Bulgaria merupakan salah satu negara tertua di benua Eropa.
Wilayah negara ini sejak lama dilalui jalur-jalur penting yang menghubungkan Eropa utara dan timur dengan cekungan Mediterania, serta Eropa barat dan tengah dengan Timur Tengah.
Sebelum terbentuknya negara Bulgaria modern, wilayah ini berada di bawah pengaruh kuat Kekaisaran Romawi Kuno, Yunani, dan Bizantium, dengan lalu lintas manusia dan barang yang intens.
Setelah berabad-abad berada di bawah kekuasaan Ottoman, Bulgaria memperoleh kemerdekaan pada akhir abad ke-19.

Negara ini kemudian bergabung dengan pihak yang kalah dalam sejumlah konflik besar pada paruh pertama abad ke-20.
Meski condong ke kekuatan Poros dalam Perang Dunia II, Bulgaria akhirnya berada dalam orbit Uni Soviet pada pertengahan abad tersebut.
Aliansi dengan Uni Soviet berdampak besar terhadap negara dan identitas Bulgaria, memengaruhi berbagai aspek mulai dari penggunaan lahan dan praktik ketenagakerjaan hingga agama dan seni.
Ketika pemerintahan komunis runtuh di Eropa Timur pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, Bulgaria terbebas dari pengaruh Soviet dan memasuki masa pasca komunisme yang tidak stabil.
Kini orientasi Bulgaria tertuju ke Barat. Negara ini menjadi anggota Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) pada 2004 dan Uni Eropa (UE) pada 2007. Negara-negara UE menyumbang sebagian besar perdagangan Bulgaria.
Dengan luas wilayah 110.994 km², Bulgaria menjadi negara terluas ke-16 di Eropa. Beberapa kawasan pegunungan membatasi bentang alamnya, yang paling terkenal adalah Pegunungan Balkan dan Pegunungan Rodopi, juga Pegunungan Rila, padanya terdapat puncak tertinggi di kawasan Balkan, yaitu Puncak Musala.
Sebaliknya, Dataran Donau di utara dan Dataran Trakia Atas di selatan menjadi titik terendah sekaligus sebagai kawasan tersubur di Bulgaria. Pesisir Laut Hitam sepanjang 378 km meliputi seluruh batas timur negara ini. Pusat pemerintahan sekaligus kota terbesar Bulgaria adalah Sofia.
Cikal bakal negara dan bangsa Bulgaria yang bersatu bermula pada abad ke-7 Masehi. Semua entitas politik Bulgaria yang silih berganti memelihara tradisi (dalam nama etnisitas, bahasa, dan huruf) dari Kekaisaran Bulgaria Pertama (681–1018), yang pada masa itu meliputi sebagian besar Balkan dan sejatinya menjadi pusat kebudayaan bangsa Slavia pada Abad Pertengahan.
Sebelum menemukan diri sebagai negara Bulgaria modern, suku Thracia disebut sebagai kelompok Indo-Eropa pertama yang paling awal mendiami wilayah ini. Mereka terbagi menjadi beberapa suku dan pernah bersatu sekitar tahun 500 SM (Sebelum Masehi) membentuk Kerajaan Odrysian.
Melansir New World Encyclopedia, kerajaan ini pernah dihancurkan oleh Makedonia tetapi bangkit kembali ketika berada di bawah kepemimpinan Seuthes III. Sekitar 100 SM sampai awal Masehi, mereka bertempur melawan invasi Kerajaan Romawi tapi akhirnya kalah.
Salah satu tokoh pemimpin unggul yang menjadi pemberontak dari Bulgaria untuk melawan Kerajaan Romawi adalah Spartacus. Dia adalah orang Thracia yang lahir di wilayah Struma tengah.
Dibawah kekuasaan Romawi, Bulgaria menjadi salah satu pusat perdagangan penting. Ketika Romawi pecah, Bulgaria berada di bawah kekuasan Bizantium yang dominan dengan agama Kristen Ortodoks.

Seiring dengan kemunduran Kekaisaran Bulgaria Kedua (1185–1396/1422), wilayah Bulgaria menjadi di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah selama lima abad. Perang Rusia-Turki pada 1877–1878 mengarah pada pembangunan “negara Bulgaria ketiga” sebagai monarki konstitusional pada 1878, yang memperoleh kedaulatan penuh pada 1908.
Pada tahun 1945, setelah Perang Dunia II, negara ini menjadi negara komunis dan merupakan bagian dari Blok Timur sampai terjadinya perubahan-perubahan politik di Eropa Timur pada 1989/1990, ketika Partai Komunis Bulgaria mengizinkan pemilihan umum multipartai dan Bulgaria menjalani masa peralihan ke arah demokrasi dan kapitalisme pasar bebas dengan hasil campuran.
Bulgaria berfungsi sebagai demokrasi parlementer di dalam republik kesatuan konstitusional. Sebagai anggota Uni Eropa, NATO, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Majelis Eropa, WTO, dan negara pendiri OSCE dan Organisasi untuk Kerjasama Laut Hitam, Bulgaria memiliki Indeks Pembangunan Manusia 0,743, peringkat ke-58 di dunia pada 2010.
Meski telah bergabung bersama UE, tapi perkembangan Bulgaria belum meningkat secara signifikan. Negara itu masih tercatat sebagai negara anggota dengan tingkat rendah dalam hal upah, infrastruktur, sistem transportasi dan kesehatan. EU Observer menyebut Bulgaria masih menjadi negara anggota termiskin UE yang diikuti Rumania.
Bulgaria menawarkan berbagai atraksi wisata yang menarik. Sofia, ibu kota, memiliki Katedral Alexander Nevsky yang megah dan Museum Nasional Sejarah yang menampilkan artefak sejarah penting. Plovdiv, kota tertua di Eropa, menawarkan Kota Tua Plovdiv yang penuh dengan arsitektur Romawi dan Ottoman.
Kota Ruse, di tepi sungai Danube, adalah pintu gerbang ke Taman Nasional Rila, yang terkenal dengan Kastil Rila dan Danau Rila. Kota Varna dan Burgas di sepanjang pantai Laut Hitam adalah destinasi populer untuk liburan pantai dengan fasilitas resor yang nyaman.
Seperti negara Balkan lainnya, Bulgaria memiliki perpaduan budaya Timur dan Barat yang tercermin dalam kuliner, arsitektur, serta warisan keagamaannya.
Ibu kota Bulgaria, Sofia, meski terletak di bagian barat negara tersebut, berada dekat pusat geografis wilayah Balkan dan menempati posisi sentral dalam berbagai aspek kehidupan nasional.
Dengan lebih dari satu juta penduduk, Sofia memiliki populasi tiga kali lipat dibandingkan kota-kota terbesar berikutnya, yakni Plovdiv dan Varna.
Profil pemerintahan Bulgaria
Kepala Negara: Presiden Rumen Radev
Kepala Pemerintahan: Perdana Menteri Dimitar Glavchev
Ibu Kota: Sofia
Populasi: 6.442.000 jiwa (2025)
Mata Uang: Lev (Lv; jamak: leva)
Bentuk Pemerintahan: Republik multipartai kesatuan dengan satu majelis legislatif (Majelis Nasional)
Bahasa Resmi: Bulgaria
Agama Resmi: Tidak ada
Nama Resmi: Republika Bŭlgaria (Republik Bulgaria)
Luas Wilayah: 110.372 km persegi
Pembacaan Protes-Protes di Bulgaria
Pemerintahan Bulgaria runtuh pada Kamis (11/12/2025) setelah gelombang protes yang dilakukan para demonstran dari kalangan Generasi Z.
Gen Z turun ke jalan untuk memprotes dugaan korupsi pemerintah serta mengkritik para elite yang dinilai mementingkan kepentingan pribadi, mengutip Wall Street Journal.

Bulgaria menjadi titik panas terbaru protes pemerintah yang dilakukan oleh Generasi Z. Dalam beberapa bulan terakhir, protes kaum muda telah menggulingkan pemerintahan di Nepal dan Madagaskar.
Demonstrasi menentang hak istimewa yang dirasakan dimiliki elit politik juga memicu aksi massa di Indonesia dan Filipina.
Sementara di Tanzania, protes antipemerintah yang dipimpin kaum muda direspons dengan kekuatan pemerintah yang mematikan.
Pengunduran diri pemerintah koalisi Bulgaria, yang diumumkan Kamis oleh Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov, terjadi hanya beberapa minggu sebelum negara Balkan tersebut dijadwalkan bergabung dengan zona euro, serikat mata uang Uni Eropa.
Meski runtuhnya pemerintahan Bulgaria tidak akan menghentikan rencana peralihan dari lev ke euro pada 1 Januari, situasi ini memperpanjang krisis politik yang telah memicu tujuh pemilihan parlemen hanya dalam empat tahun terakhir.
Zhelyazkov mengambil alih kekuasaan pada Januari.
“Vox populi, vox dei,” kata Zhelyazkov di Parlemen pada Kamis, mengutip ungkapan Latin yang berarti “suara rakyat adalah suara Tuhan.”
“Kita harus bangkit untuk memenuhi tuntutan mereka. Dan tuntutan mereka adalah pengunduran diri pemerintah,” ujarnya.
Berakhirnya kabinet pro-Uni Eropa pimpinan Zhelyazkov diperkirakan akan dilanjutkan dengan pemilihan umum sela dalam beberapa bulan ke depan, yang berpotensi membentuk ulang arah geopolitik negara tersebut.
Salah yang paling diuntungkan dari situasi ini adalah Presiden Rumen Radev, kepala negara terpilih sekaligus politisi paling populer di Bulgaria.
Ia diperkirakan akan membentuk partainya sendiri dan dapat mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen berikutnya.
Pemicu langsung protes di Bulgaria adalah rencana anggaran pemerintah tahun 2026. Rencana tersebut mencakup upaya peningkatan pengeluaran negara.
Para kritikus menilai kebijakan ini justru memperkuat kendali politisi korup atas lembaga-lembaga negara. Korupsi telah lama merajalela di Bulgaria, bahkan setelah negara itu bergabung dengan Uni Eropa pada 2007.
Oleh Transparency International, Bulgaria dinilai sebagai salah satu negara anggota UE paling korup.
Negara ini juga dinilai gagal menjatuhkan vonis tingkat tinggi dalam kasus-kasus korupsi selama beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu kemarahan rakyat dan menuai kritik berulang terkait lemahnya penegakan hukum.
Kini, kemarahan rakyat Bulgaria pun memuncak. Puluhan ribu orang berunjuk rasa pada Rabu (10/12/2025) malam di Sofia dan sejumlah kota lainnya.
Aksi tersebut menjadi yang terbaru dalam rangkaian demonstrasi yang berlangsung selama beberapa minggu terakhir.
Dimobilisasi melalui TikTok dan berbagai platform media sosial, para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Generasi Z akan datang” dan “Generasi Z vs Korupsi.”
Bahkan dalam demonstrasi di luar gedung Parlemen Bulgaria, sebuah layar raksasa berhasil dibobol menayangkan video serta meme yang mengejek para politisi.
“Protes ini menunjukkan bahwa terdapat energi sipil yang cukup besar di kalangan generasi muda untuk melawan kesombongan elite politik dan ekonomi yang selama ini memanfaatkan praktik penguasaan negara demi mempertahankan kekuasaan,” ujar Martin Vladimirov, Direktur Program Geoekonomi di Pusat Studi Demokrasi, sebuah lembaga think tank berbasis di Sofia.
Bagi banyak peserta, aksi ini menjadi pengalaman protes besar pertama mereka. Generasi Z Bulgaria tumbuh tanpa pengalaman hidup di era komunis yang berakhir pada 1989 maupun krisis ekonomi parah yang menyusulnya.
Keluhan mereka mencakup berbagai isu, mulai dari impunitas elite politik, kondisi sistem kesehatan, hingga minimnya lapangan pekerjaan dengan upah layak.
Kemarahan juga meluas di dunia maya, muncul banyak perdebatan soal demokrasi, korupsi, dan kebebasan pers menjadi topik yang ramai diperbincangkan.
Sejumlah influencer dan aktor turut bergabung dalam demonstrasi. Berbagai meme baru pun bermunculan, termasuk plakat bertuliskan, “Ajak pacarmu berkencan ke demonstrasi.”
Angel Ignatov, manajer proyek di industri teknologi informasi di Sofia, mengatakan bahwa setelah menempuh pendidikan di Inggris, ia memutuskan kembali ke Bulgaria untuk membantu memperbaiki negaranya. Namun, korupsi yang kian mengakar serta serangkaian kesalahan pemerintah mendorongnya turun ke jalan.
“Ada seluruh generasi seperti saya. Kami hanya tidak menginginkan kondisi seperti ini untuk negara kami,” kata Ignatov.
Penulis: Tim Literasi Global
Editor: Ramses








