Festival Kolaboraya, Cara Baru Membangun Perubahan Sosial

IMG_20251216_082608

LINGKARMEDIA.COM – Festival Kolaboraya 2025 yang digelar di Jogja National Museum (JNM Bloc) Yogyakarta pada 23–24 November 2025, telah menghadirkan suasana perayaan sekaligus perenungan kolektif tentang cara baru membangun perubahan sosial.

Mengusung tema Kita Berkumpul, Berkreasi, Berkolaborasi, Pasar Kolaboraya mengajak publik untuk menikmati pengalaman interaktif yang melibatkan seni, ide, dan kolaborasi nyata.

Sejak pembukaan, energi festival terasa bergemuruh, ruang-ruang diskusi penuh, lokakarya berlangsung intens menyibak refleksi para pegiat komunitas. Begitu pula di Pasar Kolaboraya mempertemukan beragam praktik komunitas dari berbagai daerah.

Pesan pembuka “Alam menyediakan ruang belajar untuk bertransformasi” tidak sekadar slogan, tetapi menjadi kesadaran bersama bahwa pengetahuan tumbuh ketika ruang sipil dibiarkan hidup, terbuka, dan menyenangkan.

Seorang fasilitator merangkum sentimen itu dengan lugas, “Ruang sipil itu tetap ada — dan ketika kita berkumpul, sesuatu selalu tumbuh.” Di Kolaboraya, berkumpul bukan rutinitas; berkumpul adalah cara mempertahankan harapan.

Pengunjung dapat merasakan atmosfer inspiratif di mana setiap sudut JNM Bloc hadir dengan energi positif, mulai dari pameran karya seni, lokakarya kreatif, diskusi publik, hingga pertunjukan musik yang memantik imajinasi.

Pemilihan JNM Bloc sebagai lokasi Pasar Kolaboraya bukan tanpa alasan. Kawasan kreatif ini dikenal sebagai titik kumpul para pelaku seni, budaya, dan komunitas kreatif yang konsisten membangun ruang kolaboratif. Dengan desain ruang yang modern namun tetap mempertahankan nuansa seni dan budaya, JNM Bloc kini menjelma menjadi rumah baru bagi aktivitas seni kontemporer.

Selama dua hari pelaksanaan, JNM Bloc disulap menjadi arena pertemuan berbagai komunitas kreatif. Mulai dari stan produk lokal, instalasi seni visual, panggung pertunjukan, hingga sudut interaksi yang memfasilitasi kolaborasi ide lintas bidang. Pengunjung disuguhkan pengalaman menyeluruh akan dunia seni, kreasi, dan makna kolaborasi itu sendiri.

Salah satu sorotan paling kuat datang dari partisipasi Arkom Indonesia yang memamerkan maket kampung kota dan mengulas gagasan arsitek komunitas sebagai “serangga penyerbuk” — agen yang bergerak ke berbagai titik komunitas untuk merawat sekaligus menghubungkan pengetahuan.

Arkom menegaskan pengetahuan tidak boleh menjadi milik eksklusif para ahli. “Pengetahuan itu milik bersama. Peran kami hanya merawat, menghubungkan, dan memastikan pengetahuan kembali ke komunitas,” ungkapnya.

Gagasan tersebut menemukan resonansi serupa di ruang lain, gerakan pangan lokal bertagar #PiringLokal, yang mengangkat tema kedaulatan pangan, relasi desa–kota, dan budaya kuliner sebagai identitas komunitas.

Pendekatan ini menunjukkan keseriusan, bahwa pangan bukan sekadar urusan nutrisi, melainkan soal memori kolektif dan keberlanjutan budaya. Persepsi pangan dibentuk oleh folklor, asal usul, dan tata hidup masyarakat.

Melalui praktik berbagi resep, benih, dan cerita, #PiringLokal menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak tumbuh dari pasar, melainkan dari relasi antar manusia. Kedua ruang, Arkom Indonesia dan gerakan pangan local, menyampaikan kesimpulan yang sama meski lewat jalur berbeda, perubahan sosial dimulai dari rasa memiliki, bukan dari instruksi.

Tahun ini, Kolaboraya meluncurkan 25 echo system builders yang bekerja di enam echo system berbeda dan terorganisir dalam tiga kluster besar bernama RAYA.

Kehadiran mereka memberikan gambaran baru tentang bagaimana gerakan sosial bekerja, tidak lagi ter kotak dalam isu spesifik, tetapi saling terhubung dalam jejaring yang cair.

Pada sebuah sesi refleksi, salah satu echo system builder menyampaikan pernyataan yang memantik banyak kepala mengangguk, “Kolaborasi bukan soal siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang mau mendengar dan menjadi jembatan.”

Selama dua hari festival, pernyataan itu terbukti berkali-kali. Orang-orang bertemu tanpa hierarki, tanpa dikotomi senior–junior, tanpa kompetisi panggung. Yang menjadi pusat bukan siapa yang berbicara paling lantang, melainkan bagaimana percakapan memunculkan keberanian untuk saling terhubung.

Di tengah dinamika festival, suara Budhita Kismadi, atau yang biasa di sapa Budhsi, Direktur Eksekutif Roemah Inspirit (Roemi) sekaligus salah satu pendukung Kolaboraya, menjadi jangkar arah.

Baginya, Kolaboraya bukan sekadar kumpul komunitas, tetapi ruang untuk memetakan ulang cara bangsa ini bekerja bersama. “Kolaboraya hadir bukan untuk bicara satu isu saja, tapi untuk memetakan ulang ekosistem kita — di mana komunitas, seni, lingkungan, dan solidaritas bisa bersatu dalam satu gerakan bersama,” ujarnya.

Tahun ini, ECOTON diundang sebagai tamu untuk memperluas perspektif tersebut. Amalia Fibrianty dari Divisi Komunikasi dan Branding ECOTON menekankan bahwa gerakan lingkungan akan relevan ketika berjalan bersama isu-isu sosial lainnya.

“Kampung kota, pangan lokal, seni, dan pendidikan komunitas. Pendeknya, ekologi tidak bisa berdiri sendiri,“ ujar Amelia memantik asa.

Pasar Kolaboraya membuka peluang agar siapa pun dapat berkontribusi dan menikmati pengalaman kolaboratif. Tidak ada batas antara penikmat seni, pelaku seni, dan komunitas. Semuanya berdiri di ruang yang sama, saling menguatkan dan berbagi ide. Acara ini menjadi bukti bahwa kreativitas bukan hanya milik mereka yang berkarya, tetapi juga milik mereka yang berani merayakan perbedaan dan keberagaman.

Kolaboraya 2025 melampaui format festival. Ia menjadi bukti bahwa perubahan sosial tidak lahir dari kompetisi, tetapi dari kemauan untuk mendengar, merawat talenta, dan berjalan bersama. Dari komunitas, dari seni, dari lingkungan, satu gerakan sosial lintas isu mulai menemukan bentuknya. Dan dari sinilah harapan Indonesia tumbuh.

Penulis: Tim Literasi Budaya

Editor: Ramses