Banjir di Sumbar, Basarnas: Korban Tewas Capai 37 Orang
LINGKARMEDIA.COM – Bencana hidrometeorologi yang menerpa Provinsi Sumatra Barat hingga Rabu (26/11/2025), berdampak ke sejumlah wilayah seperti Padang, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, dan lainnya. Bencana ini juga telah mengakibatkan 37 orang tewas.
Di Agam ditemukan 19 korban, Tanah Datar 9 korban, Padang Pariaman 8 korban, dan Padang Panjang 1 korban.
“Update pagi ini secara total sudah dievakuasi 37 korban meninggal dunia dari 4 daerah,” kata Kepala Kantor Basarnas Padang, Abdul Malik ke media, Senin (13/5/2024).
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengatakan pada Rabu bahwa setidaknya terdapat 13 kabupaten/kota yang terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak beberapa hari belakangan.
Terkini, BMKG Minangkabau memperpanjang peringatan potensi bencana tersebut sampai 29 November. Peringatan itu tentang Perkembangan Bibit Silon Tropis 95B dan Dinamika Atmosfer serta Kewaspadaan terhadap Potensi Hidrometerologis di Sumatera Barat untuk Tanggal 26-29 November 2025.
“Dinamika perkembangan terus kita pantau, dan dukungan data dari BMKG masuk secara konsisten. Ternyata, durasi cuaca ekstrem di Sumbar lebih panjang dari perkiraan semula. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas kebencanaan,” ujar Sekda Arry dikutip dari ANTARA Sumbar, Rabu.
Kabar Terbaru Banjir di Sumbar 26 November, Dampak, & Korban
Bencana hidrometerologi seperti banjir terus meluas di Sumatra Barat imbas hujan deras yang terjadi sejak beberapa hari terakhir di wilayah tersebut. Di ibu kota provinsi, Padang, terdapat 27.433 warga yang terdampak banjir hingga Rabu (26/11/2025).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang melaporkan pada Rabu bahwa setidaknya 9 kecamatan di kota tersebut terdampak banjir. Kecamatan Koto Tangah menjadi wilayah dengan warga terdampak terbanyak yakni 20.983 orang.
Daerah lain yang terdampak di antaranya Kecamatan Nanggalo, Kecamatan Padang Utara, Kecamatan Lubuk Begalung, Kecamatan Kuranji, Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Timur, hingga Kecamatan Bungus Teluk Kabung.
Dampak lainnya, 2 rumah dilaporkan hanyut, 61 rumah rusak sedang, 17 rumah rusak ringan, 1 unit rumah ibadah rusak ringan, 2 lokasi jalan longsor, serta 2 petak sawah rusak berat.
“Itu data sementara. Kami akan terus memperbarui data terkait kondisi terkini banjir, longsor dan bencana lain di Kota Padang,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang Hendri Zulviton, dikutip dari ANTARA Sumbar, Rabu.
Sementara di Agam, BPBD kabupaten setempat melaporkan bencana banjir, angin kencang, dan tanah longsor terus meluas hingga menerpa 13 dari total 16 kecamatan. Hujan berintensitas cukup tinggi sebelumnya menerjang Agam selama 22-25 November.
“Sebelumnya hanya 8 kecamatan yang terdampak dan kini menjadi 13 kecamatan,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur di Lubuk Basung, Rabu, dikutip dari ANTARA Sumbar.
“Kerugian masih dalam pendataan. Kita telah menetapkan status tanggap darurat bencana ini,” tambahnya.
Hingga Rabu, satu orang tewas akibat bencana di Agam. Daud (35), warga Paninggiran Bawah, Nagari atau Desa Nan Limo, Kecamatan Palupuh, meninggal dunia akibat tertimbun material tanah longsor, Selasa (25/11/2025).
Korban jiwa akibat bencana juga dilaporkan di Pasaman Barat. Roki (14), meninggal dunia usai tertimbun longsor di Jorong Muaro Mais Nagari Batahan Tengah Kecamatan Ranah Batahan pada Rabu.
“Benar, informasi yang kita peroleh tiba-tiba kejadian longsor di daerah itu dan mengakibatkan seorang anak tertimbun longsor,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat Jhon Edwar di Simpang Empat, Rabu.
Menurut BPBD setempat, bencana banjir dan tanah longsor di Pasaman Barat terjadi di 10 dari 11 kecamatan. Lalu di Solok, hingga data terakhir bencana hidrometerologi berdampak bagi 559 KK dengan jumlah 1279 jiwa, dengan 93 di antaranya merupakan balita dan 62 lainnya adalah lansia,
Banjir di Sumbar berdampak ke sejumlah sektor seperti pertanian hingga pendidikan. Pada Selasa, puluhan hingga ratusan hektare sawah masing-masing di Agam dan Pasaman Barat, mengalami kerusakan.
Selanjutnya di sektor pendidikan, 23 sekolah yang terdampak banjir di Pasaman Barat harus diliburkan. Bupati setempat mengeluarkan keputusan keputusan nomor : 100..3.3.2/623/BUP-PASBAR/2025 tentang penetapan masa tanggap darurat bencana alam banjir dan longsor.
“Surat edaran telah kita layangkan ke masing-masing kepala satuan pendidikan yang ada. Anak-anak belajar di rumah sejak 26 sampai 29 November 2025,” kata Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan Pasaman Barat Imter Pedri, Rabu, dikutip dari ANTARA Sumbar.
Status Terbaru setelah Bencana Banjir di Sumbar
Akibat bencana hidrometerologi seperti banjir, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Alam yang berlaku 2 pekan dari 25 November sampai 8 Desember 2025.
“Dengan adanya 13 kabupaten/kota di Sumbar yang terdampak, kondisi ini menjadi dasar kuat bagi Pemprov untuk menetapkan status tanggap darurat bencana di tingkat provinsi. Itu mulai berlaku sejak 25 November sampai 8 Desember atau 14 hari, keputusan ini juga dapat diperpanjang sesuai kebutuhan penanganan darurat bencana di lapangan,” ungkap Arry.
Sebelum ini, 5 daerah terdampak bencana juga menetapkan status yang sama, yakni Kabupaten Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan, serta Kota Bukittinggi. Kini status Tanggap Darurat Bencana Alam ditetapkan secara menyeluruh di Sumbar.
Pemprov Sumatra Barat memprioritaskan tujuh langkah penanganan:
1. Pengkajian cepat situasi dan kebutuhan penanganan darurat bencana.
2. Aktivasi sistim komando penanganan darurat bencana
3. Penyusunan rencana operasi dengan memperhatikan rencana kontijensi yang pernah dibuat.
4. Evakuasi masyarakat terancam
5. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terancam.
6. Perlindungan kelompok rentan
Pengendalian terhadap sumber ancaman bencana.
7. Penyiapan dan pendistribusian bantuan logistik.
Penulis: Tim Tanggal Bencana
Editor: Ramses







