OKupansi Hotel di Kota Batu Tembus 90 Persen Pada Liburan Sekolah 2026
LINGKARMEDIA.COM – Menurunnya daya beli masyarakat masih menjadi tantangan besar bagi industri perhotelan di Kota Batu sepanjang 2026. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat pelaku usaha hotel harus bekerja lebih keras untuk menjaga tingkat hunian kamar atau okupansi agar tetap stabil, terutama di tengah persaingan sektor pariwisata.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan penurunan daya beli masyarakat merupakan dampak berkelanjutan dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang telah dimulai sejak tahun sebelumnya. Pemangkasan anggaran, baik di tingkat APBN maupun APBD, tidak hanya mengurangi kegiatan pemerintahan yang biasanya diselenggarakan di hotel, tetapi juga berdampak terhadap pendapatan masyarakat secara umum.
Baca juga: https://lingkarmedia.com/puncak-selamatan-desa-bumiaji-ditandai-ritual-ider-dungo/
Menurut Sujud, berkurangnya belanja pemerintah secara langsung ikut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak proyek pemerintah yang berkurang sehingga kesempatan kerja ikut menurun. Akibatnya, kemampuan masyarakat untuk berwisata maupun menginap di hotel juga ikut terkoreksi.

“Di sisi lain ketika belanja pemerintah menurun otomatis belanja masyarakat terkoreksi juga. Ketika proyek-proyek pemerintah tidak ada sehingga pekerjaan makin sedikit, akhirnya daya beli masyarakat yang selama ini mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tersebut semua terkoreksi,” ujar Sujud Hariadi saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Senin (6/7/2026).
Meski menghadapi tantangan tersebut, Sujud menilai musim liburan sekolah tahun ini membawa angin segar bagi industri perhotelan di Kota Batu. Tingkat okupansi hotel selama masa liburan mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan dibandingkan tahun sebelumnya.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Ia mengungkapkan, pada puncak liburan sekolah, tingkat hunian hotel di Kota Batu bahkan mampu menembus angka 90 persen. Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa Kota Batu masih menjadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat.
“Pada musim liburan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, hingga tembus 90 persen. Ini sedikit lebih baik daripada tahun lalu,” katanya.
Peningkatan okupansi tersebut terutama terjadi pada akhir pekan atau weekend, dengan puncaknya berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026. Tingginya jumlah wisatawan yang datang membuat sebagian besar hotel menikmati tingkat hunian yang sangat tinggi.
Namun, kondisi tersebut belum berlangsung merata setiap hari. Setelah akhir pekan usai, okupansi hotel kembali berada di kisaran 50 hingga 60 persen.
“Ramainya kita tetap di malam minggunya atau weekend meskipun ini masih masa liburan sekolah. Untuk hari-hari biasa seperti sekarang masih cukup lumayan, mungkin karena orang tuanya juga ikut mengambil libur sehingga bisa berwisata dan menginap di Kota Batu,” jelas Sujud.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Menurutnya, karakter wisatawan yang datang ke Kota Batu masih didominasi keluarga yang memilih berlibur pada akhir pekan. Karena itu, lonjakan okupansi biasanya hanya terjadi pada Jumat hingga Minggu, sedangkan hari kerja relatif lebih landai.
Selain mengandalkan momentum liburan sekolah, pelaku usaha perhotelan di Kota Batu juga melakukan berbagai strategi promosi agar wisatawan tetap tertarik berkunjung. Salah satu upaya yang kini dijalankan adalah penerapan sistem bundling atau paket harga terpadu antara hotel dan tempat wisata.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Program tersebut merupakan inisiatif dari JTP Group yang kemudian disambut oleh pelaku usaha hotel di bawah koordinasi PHRI Kota Batu. Melalui program ini, wisatawan dapat memperoleh harga yang lebih hemat karena biaya menginap dan tiket masuk objek wisata digabung dalam satu paket.
“Kemarin kita kompak semua melaksanakan bundling yang diinisiasi dari JTP Group. Walaupun ini belum berjalan maksimal, bundling harga semua hotel dan park di Kota Batu, jadi antara park dengan hotel langsung ada kesatuan harga sehingga tarifnya lebih ringan dibandingkan jika menginap di hotel dan membeli tiket park secara terpisah,” jelasnya.
Sujud mengakui implementasi program bundling tersebut masih belum sepenuhnya berjalan optimal. Masih diperlukan penyesuaian di berbagai sisi agar seluruh hotel maupun pengelola destinasi wisata dapat menjalankannya secara maksimal.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Meski demikian, ia menilai program tersebut mulai memberikan dampak positif terhadap peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu selama musim liburan sekolah.
“Walaupun belum maksimal berjalan dengan lancar, tapi ini sedikit mempengaruhi juga dan Alhamdulillah kunjungan wisatawan ke Kota Batu untuk liburan saat ini lebih baik. Kita tertolong dua minggu liburan ini memang ada peningkatan yang cukup signifikan untuk tingkat hunian hotel,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pada minggu pertama masa liburan sekolah, okupansi hotel berada di kisaran 60 hingga 70 persen. Memasuki akhir pekan meningkat menjadi sekitar 80 persen, sebelum akhirnya mencapai puncak hingga 90 persen pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Bagi pelaku usaha hotel, capaian tersebut sudah cukup menggembirakan mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih. Walaupun tarif kamar atau room rate tidak mengalami kenaikan signifikan, tingginya tingkat hunian mampu membantu menjaga pendapatan hotel.
“Dengan tingkat okupansi ini kami sudah cukup puas walaupun rate tidak terlalu naik tinggi. Tetapi kita cukup puas dengan tingkat hunian yang cukup luar biasa terutama di minggu kedua ini,” tutur Sujud.
Saat ditanya mengenai sejauh mana efektivitas program bundling terhadap peningkatan okupansi hotel, Sujud mengaku belum dapat menyimpulkan adanya dampak yang benar-benar signifikan. Namun, ia menilai langkah tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama pelaku industri pariwisata untuk menarik lebih banyak wisatawan.
Menurutnya, peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota Batu kemungkinan juga dipengaruhi oleh promosi yang dilakukan secara masif oleh pelaku usaha wisata dan perhotelan. Berbagai promosi melalui media digital maupun kerja sama dengan destinasi wisata dinilai berhasil menjaga minat masyarakat untuk datang ke Kota Batu.
“Saya sendiri belum melihat efek yang signifikan dari bundling itu, tapi kita sudah bergerak dan berusaha. Mungkin ini juga dampak dari promosi kita yang cukup masif, karena sekarang kita benar-benar berharap dari tamu wisata. Industri hotel saat ini memang sangat bergantung pada kunjungan wisatawan,” pungkasnya.
PHRI Kota Batu berharap tren positif selama musim liburan sekolah dapat terus berlanjut hingga periode libur panjang berikutnya. Di tengah tantangan melemahnya daya beli masyarakat, sinergi antara pelaku usaha hotel, pengelola destinasi wisata, dan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk menjaga geliat sektor pariwisata sekaligus mempertahankan tingkat okupansi hotel di Kota Batu.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








