Mahasiswa UI Geruduk Mabes Polri Diwarnai Kericuhan

IMG_20260703_123329

LINGKARMEDIA.COM – Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026), sempat diwarnai ketegangan antara massa mahasiswa dan aparat kepolisian.

Aksi yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80 itu membawa tema #MatinyaReformasiPolri, sebagai bentuk kritik mahasiswa terhadap perjalanan reformasi di tubuh Polri yang dinilai belum berjalan sesuai harapan publik.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/latihan-militer-manajer-kopdes-resmi-disetop/

Sejak pagi hari, massa mahasiswa bergerak menuju kawasan Mabes Polri dengan membawa berbagai simbol aksi, seperti keranda jenazah, karangan bunga bertuliskan “Turut Berduka Cita atas Matinya Reformasi Polri”, serta bendera kuning sebagai simbol perkabungan.

Namun, setibanya di sekitar Jalan Trunojoyo, langkah massa tertahan setelah aparat kepolisian melakukan penghadangan dan tidak mengizinkan mereka melintas menuju gerbang utama Mabes Polri.

Mahasiswa sempat meminta agar dapat berjalan menuju pintu gerbang untuk menyerahkan langsung simbol aksi kepada pimpinan Polri sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara simbolis.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Akan tetapi, aparat mengarahkan massa ke lokasi lain yang telah disiapkan, yakni di sekitar Museum Polri dan Baharkam Polri. Polisi beralasan pengalihan lokasi dilakukan demi menjaga kelancaran lalu lintas dan pengamanan kawasan.

Perbedaan pandangan terkait titik aksi ini sempat memicu ketegangan. Massa mahasiswa bersikeras ingin bergerak lebih dekat ke Mabes Polri, sementara aparat tetap mempertahankan barikade.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Situasi pun sempat memanas dengan aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas keamanan. Beberapa peserta aksi terlihat berusaha mendorong barikade sambil membawa keranda dan karangan bunga.

Meski demikian, ketegangan tersebut tidak berlangsung lama dan berhasil dikendalikan. Demonstrasi kemudian tetap berjalan dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Kapolsek Kebayoran Baru menjelaskan bahwa pihak kepolisian tidak melarang mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi.

Menurutnya, kepolisian justru telah menyediakan ruang khusus agar aksi tetap dapat berjalan tertib tanpa mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar Jalan Trunojoyo.

“Mahasiswa tetap kami beri ruang untuk menyampaikan pendapat. Lokasi aksi sudah kami siapkan di depan Museum Polri agar kegiatan tetap berjalan aman dan tertib,” ujar Nugraha.

Ia menegaskan bahwa pembatasan akses ke Jalan Trunojoyo dilakukan semata-mata untuk alasan keamanan dan pengaturan arus kendaraan, mengingat kawasan tersebut merupakan akses vital menuju Mabes Polri.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Sementara itu, Koordinator Aksi BEM UI, Aqil, menegaskan bahwa demonstrasi ini bukan sekadar aksi seremonial, melainkan bentuk kritik keras terhadap kondisi reformasi Polri yang dinilai semakin menjauh dari cita-cita reformasi 1998.

Menurut Aqil, mahasiswa ingin menyampaikan desakan agar reformasi sektor keamanan kembali diperkuat, termasuk mendesak pencabutan Undang-Undang Polri yang dinilai memberi ruang terlalu besar bagi aparat.

“Kami membawa simbol perkabungan atas matinya agenda Reformasi Polri sekaligus menyampaikan pernyataan sikap terkait desakan reformasi sektor keamanan, pencabutan UU Polri, serta tuntutan agar aparat dijauhkan dari ruang sipil,” tegas Aqil.

Aksi tersebut menjadi salah satu sorotan publik karena digelar bertepatan dengan momentum Hari Bhayangkara, yang biasanya diisi dengan refleksi terhadap kinerja kepolisian.

Di sisi lain, pengamanan besar-besaran juga dilakukan aparat untuk mengawal jalannya demonstrasi.

Kepala Bagian Operasional Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP , mengatakan pihaknya telah menerima surat pemberitahuan aksi dan menyiapkan sekitar 100 personel untuk pengamanan di sekitar Mabes Polri.

“Benar bahwa ada pemberitahuan akan ada demo. Dan kami dari Polres Jaksel akan memberikan pelayanan penyampaian pendapat di muka umum sebanyak 100 personel,” ujar Tribuana.

Selain aksi di Mabes Polri, demonstrasi mahasiswa juga berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) menggelar aksi di Silang Selatan Monas sejak pukul 10.00 WIB.

Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu , membenarkan adanya aksi tersebut dan menyebutkan pihak kepolisian menurunkan sekitar 850 personel gabungan untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Pengamanan di kawasan Monas dilakukan secara ketat mengingat potensi berkumpulnya massa dalam jumlah besar.

Polisi juga menyiapkan skema rekayasa lalu lintas yang bersifat situasional, bergantung pada perkembangan di lapangan dan tingkat kepadatan kendaraan.

Masyarakat yang melintas di sekitar Jalan Trunojoyo, Raden Patah I, Palatehan, hingga kawasan Monas diimbau untuk menghindari titik-titik aksi dan menggunakan jalur alternatif guna mengurangi risiko kemacetan.

Aksi mahasiswa pada momentum Hari Bhayangkara ke-80 ini kembali menegaskan bahwa isu reformasi Polri masih menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan masyarakat sipil. Kritik terhadap institusi kepolisian dinilai menjadi bagian dari kontrol publik agar reformasi kelembagaan tetap berjalan sesuai prinsip demokrasi dan supremasi sipil.

 

Penulis: Ramses

Editor: Samsu