Kongres III SARBUPRI Serukan Buruh Perkebunan Bersatu dalam Organisasi Serikat
LINGKARMEDIA.COM – Federasi Sarekat Buruh Perkebunan Patriotik Indonesia (SARBUPRI) melalui pelaksanaan Kongres III menyerukan pentingnya persatuan seluruh buruh perkebunan dalam wadah organisasi serikat buruh. Seruan tersebut disampaikan sebagai upaya memperkuat perjuangan kolektif pekerja dalam menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan yang masih terjadi di sektor perkebunan.
Kongres yang menjadi forum tertinggi dalam organisasi serikat buruh tersebut dinilai memiliki peran strategis untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, menyusun program kerja ke depan, memilih kepemimpinan baru, serta merumuskan arah perjuangan dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan pekerja perkebunan di Indonesia.
Ketua Umum Konfederasi Barisan Buruh Indonesia (KBBI), Karmanto, menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya Kongres III SARBUPRI. Menurutnya, momentum tersebut sangat penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mempertegas komitmen perjuangan buruh dalam menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan yang terus berkembang.
“Atas nama keluarga besar Konfederasi Barisan Buruh Indonesia, kami mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya Kongres III Federasi SARBUPRI. Semoga kongres ini berlangsung dengan lancar, demokratis, dan menghasilkan kepemimpinan yang amanah serta semakin memperkuat perjuangan kaum buruh,” ujar Karmanto dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
KBBI menilai sektor perkebunan masih menjadi salah satu sektor yang menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Sejumlah isu seperti rendahnya tingkat kesejahteraan pekerja, ketidakpastian hubungan kerja, pelanggaran hak-hak normatif, lemahnya perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga praktik-praktik yang menghambat kebebasan berserikat masih ditemukan di berbagai wilayah.
Menurut Karmanto, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan serikat buruh masih sangat relevan dan dibutuhkan sebagai wadah perjuangan bersama. Melalui organisasi yang kuat dan solid, pekerja memiliki sarana untuk menyampaikan aspirasi serta memperjuangkan hak-haknya secara konstitusional.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal KBBI, Musrianto, berharap Kongres III SARBUPRI dapat melahirkan kepemimpinan yang memiliki integritas tinggi, keberanian, serta komitmen kuat dalam memperjuangkan kepentingan buruh perkebunan di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
“Kami berharap hasil Kongres III SARBUPRI mampu melahirkan gagasan-gagasan progresif yang semakin memperkuat gerakan buruh Indonesia sebagai kekuatan moral, sosial, dan ekonomi yang independen serta berpihak kepada kepentingan pekerja,” kata Musrianto.
Ia menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi pekerja saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan klasik ketenagakerjaan, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan teknologi, digitalisasi industri, dan dinamika ekonomi global. Karena itu, organisasi buruh dituntut untuk semakin adaptif dan mampu memberikan perlindungan yang efektif bagi anggotanya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Dalam kesempatan tersebut, KBBI juga mengajak seluruh buruh perkebunan di Indonesia yang belum tergabung dalam organisasi serikat untuk mulai bergabung dan memperkuat gerakan pekerja di lingkungan kerja masing-masing.
Menurut Musrianto, hak untuk berserikat merupakan hak dasar setiap pekerja yang telah dijamin oleh konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan. Dengan menjadi bagian dari serikat buruh, pekerja memiliki ruang untuk memperjuangkan kepentingan mereka secara kolektif melalui mekanisme yang sah dan bermartabat.
Ia menegaskan bahwa berbagai hak yang saat ini dinikmati pekerja merupakan hasil dari perjuangan panjang gerakan buruh di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Hak atas upah yang layak, jaminan sosial ketenagakerjaan, pembatasan jam kerja, perlindungan keselamatan kerja, hingga kebebasan berserikat tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui perjuangan yang panjang dan berkelanjutan.
“Sejarah telah membuktikan bahwa berbagai hak yang dinikmati pekerja hari ini tidak lahir begitu saja. Hak atas upah yang layak, jaminan sosial, pembatasan jam kerja, perlindungan keselamatan kerja, hingga kebebasan berserikat merupakan hasil perjuangan panjang gerakan buruh. Karena itu, jangan pernah menghadapi persoalan ketenagakerjaan sendirian. Berserikat adalah jalan untuk memperkuat posisi tawar pekerja,” tegasnya.
KBBI juga mengingatkan bahwa dunia kerja ke depan akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Digitalisasi industri, meningkatnya fleksibilitas hubungan kerja, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga perubahan regulasi ketenagakerjaan menjadi tantangan yang memerlukan respons kolektif dari seluruh organisasi buruh.
Untuk itu, KBBI mengajak seluruh pekerja perkebunan dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperkuat solidaritas dan persatuan tanpa memandang perbedaan latar belakang, wilayah, maupun afiliasi organisasi.
“Kami mengajak seluruh buruh perkebunan, dari Sabang sampai Merauke, untuk bersatu dalam organisasi serikat buruh. Perbedaan latar belakang, daerah, maupun organisasi tidak boleh menjadi penghalang dalam memperjuangkan kepentingan kaum pekerja. Persatuan adalah kekuatan terbesar buruh, dan solidaritas merupakan fondasi utama untuk mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik,” lanjut Musrianto.
KBBI meyakini Kongres III SARBUPRI akan menjadi tonggak penting dalam memperkuat gerakan buruh perkebunan yang lebih modern, demokratis, independen, dan responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pekerja saat ini maupun di masa mendatang.
Di akhir pernyataannya, KBBI berharap seluruh rangkaian Kongres III SARBUPRI dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang mampu memperluas gerakan serikat buruh di sektor perkebunan. Selain itu, kongres diharapkan dapat memperkuat perjuangan mewujudkan hubungan industrial yang adil, bermartabat, serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan seluruh buruh Indonesia.
Penulis: Ramses
Editor: Samsu








