Rupiah Diprediksi Kembali Melemah, Sentuh Rp18.120 per Dolar AS akibat Tekanan Global dan Domestik

IMG_20260605_184922

LINGKARMEDIA.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (5/6/2026) setelah sehari sebelumnya mencatat pelemahan signifikan hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.

Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 82 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp18.049 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut terjadi meskipun indeks dolar AS justru terkoreksi 0,10 persen ke level 99,42.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan tren depresiasi rupiah masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian global dan berbagai sentimen negatif dari dalam negeri.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/rupiah-terus-melemah-nyaris-rp18-000-per-dolar-as-dampaknya-langsung-terasa-oleh-rakyat/

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Investor global masih cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Meskipun pemerintah Amerika Serikat mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, pasar masih menilai situasi tersebut penuh ketidakpastian. Kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian aksi permusuhan oleh kelompok Hizbullah.

Di sisi lain, pasukan Israel dilaporkan terus memperluas operasi militernya di wilayah Lebanon selatan yang menjadi basis kekuatan Hizbullah. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan meningkatnya risiko geopolitik.

Selain faktor konflik, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Investor menunggu rilis data ketenagakerjaan non-pertanian atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Sebelumnya, data perusahaan pengolah penggajian ADP menunjukkan sektor swasta AS berhasil menambah 122.000 lapangan kerja sepanjang Mei 2026. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Data ketenagakerjaan yang kuat berpotensi memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut biasanya memberikan dukungan terhadap dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga masih membayangi pasar. Lonjakan harga minyak mentah dunia dinilai meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal Indonesia yang mendekati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Selain itu, pasar juga mencermati kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah terhadap sektor komoditas serta ketidakpastian terkait status pasar modal Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hingga saat ini belum ada keputusan pasti mengenai evaluasi yang dilakukan MSCI terhadap pasar Indonesia.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sebelumnya memproyeksikan bahwa dalam skenario optimistis rupiah masih berpeluang berada di level Rp17.089 per dolar AS sepanjang tahun ini.

Namun dalam skenario pesimistis, rupiah berpotensi melemah hingga Rp17.834 per dolar AS atau bahkan lebih rendah apabila berbagai risiko terus meningkat.

Menurut Nafan, faktor yang dapat memperkuat rupiah antara lain intervensi agresif Bank Indonesia, disiplin fiskal pemerintah, independensi bank sentral, serta masuknya aliran modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik.

Sebaliknya, intervensi politik terhadap Bank Indonesia, meningkatnya defisit transaksi berjalan, kebijakan hawkish The Fed, konflik geopolitik berkepanjangan, serta keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia menjadi risiko utama yang dapat menekan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah.

 

Penulis: Indra

Editor: Samsu