El Nino 2026: terpantau 1.805 hotspot di seluruh Indonesia, BMKG Ingatkan Bahaya Karhutla
LINGKARMEDIA.COM – Berdasarkan data dari satelit NASA, terpantau ada 1.805 hotspot di seluruh Indonesia selama periode 1 Januari-6 Maret 2026. Jumlah hotspot tersebut lebih banyak empat kali lipat daripada tahun El Nino 2023.
Total luas karhutla di Indonesia pada 1 Januari-28 Februari 2026 mencapai 32.537 hektare atau lima kali lebih luas dibandingkan tahun El Nino 2023, dengan sekitar 53 persen karhutla terjadi di kawasan hutan. Sisanya, 47 persen karhutla terjadi di area penggunaan lain (APL).
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Thomas Nifinluri mengungkapkan, karhutla pada awal 2026 terjadi di beberapa provinsi dengan wilayah yang biasanya tidak terbakar. Daerah yang dimaksud meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Tenggara, dan Sulawesi Tengah.
Provinsi dengan pola karhutla pada awal tahun, seperti Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Barat, saat ini mulai menimbulkan kabut asap. “Ini merupakan pola baru dari kejadian karhutla di awal tahun,” ujar Thomas.
Ia memperingatkan bahwa karhutla di wilayah tanpa pengelolaan kawasan (open access) berisiko menimbulkan konflik dan meluas tak terkendali.
Menurutnya, karhutla disebabkan oleh berbagai faktor, terutama anomali positif di sebagian besar wilayah Indonesia pada bulan Januari-Maret 2026, dengan 82 stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) mencatat suhu yang lebih hangat dari normalnya.
Januari-Februari 2026 menjadi bulan terpanas ke-9 sejak 1991, dengan musim kemarau kering atau El Nino lemah terjadi pada Juni-Agustus dan diproyeksikan akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius menyusul terdeteksinya lonjakan drastis sebaran titik panas di wilayah Sumatera Utara. Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat tajam pada area yang memiliki suhu ekstrem serta tutupan lahan yang kering.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, jumlah titik panas kini menyentuh angka 33 titik, meningkat signifikan dibandingkan hari sebelumnya yang hanya mencatatkan 15 titik.
Sebaran fenomena suhu tinggi ini terdeteksi di sejumlah kabupaten kunci, meliputi Deli Serdang, Dairi, Karo, Labuhanbatu, Mandailing Natal, Padang Lawas, Samosir, Serdang Bedagai, dan Toba.
Prakirawan BBMKG Wilayah I, Juliana, menjelaskan bahwa kemunculan titik panas tersebut tertangkap oleh instrumen penginderaan jauh yang sangat akurat.
“Titik panas tersebut terpantau berdasarkan pantauan sensor medis, yakni Satelit Tera, Aqua, SNPP, dan NOAA20,” ujar Juliana di Kota Medan, Selasa (24/3/2026).
Mengingat sebagian besar wilayah Sumatera kini mulai memasuki siklus musim kemarau, BMKG mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan.
Otoritas cuaca meminta warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar atau meninggalkan sisa api di lahan kosong, guna mencegah terjadinya bencana ekologis yang lebih luas.
Curah hujan rendah melanda wilayah Indonesia di atas garis khatulistiwa. Khususnya, wilayah terdampak efek kenaikan suhu muka air laut di sepanjang pantai timur Sumatera dan Kalimantan Barat. Sedangkan curah hujan tinggi mengguyur wilayah Indonesia yang berada di bawah garis khatulistiwa.
Penulis: Tim Keadilan Ekologis
Editor: Ramses








