Serangan Militer AS-Israel ke Iran Didasarkan Laporan CIA Ungkap Posisi Khamenei
LINGKARMEDIA.COM – Rencana serangan militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terjadi di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung. Rencana tersebut, menurut laporan The New York Times yang dikutip Rabu (4/3/2026), beberapa kali dibahas langsung oleh Donald Trump dengan Benjamin Netanyahu.
Laporan tersebut juga mengurai peran badan intelijen Amerika, Central Intelligence Agency (CIA), yang disebut memantau secara ketat pergerakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
CIA mengetahui bahwa Ayatollah Khamenei dijadwalkan berada di kompleks kediamannya di pusat Teheran pada Sabtu pagi sebelum rudal menghantam kediamannya. Pada waktu yang sama, sejumlah pemimpin sipil dan militer senior Iran juga disebut akan berkumpul di lokasi tersebut.
Informasi intelijen itu kemudian diteruskan CIA kepada Israel. Berdasarkan laporan tersebut, Trump dan Netanyahu memutuskan untuk memulai perang dengan serangan “pemenggalan kepala” yang dilakukan secara terbuka di siang hari.
Trump memberikan perintah resmi untuk memulai serangan saat terbang menuju Corpus Christi pada Jumat sore untuk menyampaikan pidato tentang energi. Setibanya di lokasi, Trump memberi sinyal bahwa jalur diplomasi telah menemui jalan buntu. Ia bahkan menyampaikan ketidakpuasannya terhadap proses negosiasi.
Selama beberapa dekade, katanya, Iran telah “meledakkan kaki rakyat kita, meledakkan wajah rakyat kita, senjata kita. Mereka telah menghancurkan kapal-kapal kita satu per satu dan setiap bulan selalu ada hal lain.”
Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap yang semakin keras terhadap Teheran, meskipun pembicaraan diplomatik masih berlangsung.
Meski terdapat berbagai indikasi bahwa Amerika Serikat tengah mempersiapkan kemungkinan serangan, empat pejabat Iran yang dikutip dalam laporan itu menyebut pihak Teheran meyakini serangan di siang hari kecil kemungkinannya terjadi.
Saat itu Sabtu pagi, awal pekan kerja di Iran. Anak-anak berada di sekolah dan aktivitas perkantoran berjalan seperti biasa. Para pejabat yang menghadiri pertemuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi bahkan tidak merasa perlu berkumpul di bunker bawah tanah atau lokasi rahasia lainnya yang mungkin tidak diketahui oleh mata-mata Amerika atau Israel.
Menurut para pejabat tersebut, Ayatollah Khamenei sebelumnya telah menyampaikan sikapnya kepada lingkaran terdekatnya jika perang benar-benar pecah, ia memilih tetap berada di tempat dan siap menjadi martir, ketimbang dicatat sejarah sebagai pemimpin pengecut yang bersembunyi.
Ia berada di kantornya di bagian lain kompleks saat para pejabat senior berkumpul untuk rapat, dan meminta untuk diberi laporan setelah pertemuan itu selesai.
Namun, rudal-rudal AS-Israel menghantam tak lama setelah rangkaian peristiwa tersebut dimulai, menandai agresi militer ke Iran. Khamenei dan keluarga nya serta beberapa petinggi militer Iran gugur di awal serangan itu.
Penulis: Tim Ekopol
Editor: Ramses








