Ratusan Perahu Serukan Hentikan Kekerasan Ke Masyarakat Adat
LINGKARMEDIA.COM – Kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace memimpin rombongan 200 perahu dari 60 negara yang menyerukan penghentian kekerasan terhadap Masyarakat Adat di tengah penyelenggaraan COP30 terkait isu utama tentang Keadilan Iklim. Mereka berlayar menyusuri Sungai Amazon pada Rabu, 12 November 2025.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa jika dunia gagal menurunkan emisi sebelum tahun 2050, maka kemungkinan untuk mencapai ambang pencairan es yang akan menaikkan permukaan laut setidaknya 0,4 meter mencapai lebih dari 50 persen. Bahkan, kenaikan bisa menembus 0,5 meter, tergantung pada seberapa besar panas diserap oleh samudra.
Rainbow Warrior adalah kapal ikonik yang dimiliki oleh Greenpeace. Pertama kali diluncurkan pada tahun 1978, kapal ini telah menjadi pusat perhatian dalam berbagai kampanye lingkungan, termasuk kampanye anti-penangkapan ikan paus dan anti-pembuangan limbah radioaktif. Kapal ini juga memiliki fasilitas untuk melakukan riset dan dokumentasi lingkungan.
Rainbow generasi pertama berlayar dari Inggris pada 1978. Sayangnya, kapal ini hancur pada 1985 karena dibom oleh seorang agen rahasia Perancis. Kapal itu digantikan dengan generasi kedua yang bertugas selama 22 tahun. Pada 2011, Rainbow Warrior generasi kedua dipensiunkan dan diganti dengan yang sekarang bertugas. Generasi ketiga diklaim lebih ramah lingkungan dan dapat bertahan di segala cuaca.
Kapal-kapal Greenpeace memainkan peran penting dalam aksi pembelaan lingkungan mereka. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai pusat operasi untuk melakukan protes, riset, dokumentasi, dan kampanye-kampanye yang bertujuan untuk melindungi lingkungan alam dan memperjuangkan keberlanjutan.
Dengan kehadiran kapal-kapal ini, Greenpeace dapat mencapai lokasi-lokasi yang sulit diakses dan memperluas jangkauan aksi mereka di laut dan di sepanjang pantai. Selain Rainbow Warrior ada 4 kapal lain yang juga aktif mengkampanyekan Anti Pengrusakan Lingkungan di seluruh dunia yakni kapal Arctic Sunrise, Esperanza, Beluga II dan Rainbow Warrior III.
Kapal-kapal Greenpeace menjadi simbol keberanian dan komitmen dalam melawan kerusakan lingkungan, sementara juga menjadi sarana yang efektif untuk menyuarakan perubahan dan mempengaruhi kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan internasional
Lebih dari 5.000 perwakilan masyarakat adat turut serta dalam penyelenggaraan COP30, termasuk Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi dan Fransiska Rosari Clarita You dari Pulau Papua. Dalam kampanye itu, Rukka menegaskan bahwa masyarakat adat adalah kunci solusi krisis iklim yang berkelanjutan, tetapi suara mereka kerap dipinggirkan dan terancam oleh kriminalisasi. AMAN mencatat 687 konflik agraria dalam satu dekade terakhir di wilayah adat seluas 11,07 juta hektare, yang mengakibatkan lebih dari 925 warga adat dikriminalisasi.
Dari kampanye global itu berbagai kasus terbaru kembali mencuat diantaranya :
Sengketa 11 warga adat Maba Sangaji di Halmahera dipenjara lantaran memprotes tambang nikel.
Kasus pemuda Poco Leok yang menghadapi kriminalisasi berulang akibat proyek geothermal.
Kasus 19 warga Togean terseret proses hukum terkait penolakan zonasi taman nasional.
Tujuh warga adat Sikka yang ditetapkan tersangka terkait sengketa dengan korporasi perkebunan.
AMAN kembali mendesak pemerintah segera mengesahkan RUU Masyarakat Adat yang telah mangkrak sejak tahun 2009 lalu.
Sementara itu, konvoi perahu dari berbagai penjuru Amerika Selatan turut memperkuat seruan tersebut.
Kapal Yaku Mama dari Ekuador menempuh 3.000 kilometer membawa pesan “Akhiri Bahan Bakar Fosil – Keadilan Iklim Sekarang”.
Dari selatan, The Answer Caravan yang dipimpin masyarakat adat Rãoni Metuktire dan aktivis Alessandra Korap Munduruku menyoroti ancaman monokultur kedelai serta rencana pembangunan jalur kereta Ferrogrão.
Flotilla 4 Change dari utara berlayar melintasi Atlantik dengan konsep “nol karbon”, disusul Laraçu Scientific River Caravan yang digagas institusi akademik Prancis–Brasil.
Direktur Eksekutif Greenpeace Brasil, Carolina Pasquali, menyebut ribuan masyarakat adat dalam armada ini sebagai bukti kuatnya gerakan global yang bersatu menghadapi krisis iklim sekaligus ketidakadilan akibat eksploitasi perusahaan. Ia menegaskan perlunya COP30 menjadi konferensi yang berisi aksi nyata: untuk iklim, hutan, dan manusia.
Penulis: Ramses
Editor: Panji








