KPA Bangun Pabrik Penggilingan Padi Mandiri, dari Petani Kecil Untuk Buruh

IMG-20251102-WA0017

Jakarta, lingkarmedia.com – Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) membangun pabrik penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) secara mandiri bersama petani gurem di lahan seluas 2.000 meter persegi dan pabrik itu mereka namakan RMU Lumbung Agraria Nusantara atau disingkat RMU Lanusa.

Gabah hasil panen petani gurem ditawar oleh RMU Lanusa lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar. Gabah Kering Giling (GKG), dibeli Rp 8.200 per kilogram (kg). Saat itu, tengkulak hanya menghargai GKG Rp 8.000 per-kg.

Pabrik ini tidak mengenakan ongkos kirim untuk membawa panen petani dari sawah. Sebelumnya, jika petani menjual pada tengkulak, harus membayar Rp 500.000 untuk ongkos angkut gabah dari sawahnya ke pinggir jalan yang bisa dilintasi mobil. Ini cara RMU Lanusa untuk membantu petani kecil.

RMU Lanusa adalah buah dari perjalanan panjang yang dilakukan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) selama empat tahun terakhir.

Berkaca dari beratnya ketahanan pangan petani dan buruh saat pandemi Covid-19, mereka sepakat membangun usaha bersama melalui ekonomi kerakyatan berbasis reforma agraria yang diwujudkan melalui penggilingan padi.

Nantinya, RMU Lanusa akan melakukan hilirisasi pangan melalui usaha pertanian pangan, pengolahan gabah, dan distribusi beras yang bertujuan menyambungkan peran petani sebagai produsen dan buruh sebagai konsumennya.

Tercatat petani yang menjadi langganan pabrik gilingan padi ini berasal dari Koperasi Serikat Petani Majalengka (SPM) yang juga merupakan koperasi yang dibina KPA. Terdapat sejumlah koperasi tani di Majalengka dan Indramayu (Jawa Barat) serta di Batang (Jawa Tengah) yang dibina dan didampingi KPA.

Tidak hanya senang hasil panen milik petani gurem dibeli dengan harga tinggi, banyak petani bangga saat diberi tahu kalau gabah itu nantinya akan dibeli buruh di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) hingga Bandung Barat.

Harga beras produksi pabrik rakyat ini dijual jauh lebih murah daripada beras premium lainnya. Sekarang Rp 14.900 per kg, sedang harga di pasar bisa lebih mahal Rp 1.000-Rp 2.000 per kg

Berdasarkan hasil assessment yang dilakukan KPA pada 2021 dengan metode purposive random sampling di KASBI dan KPBI di sekitar Jabodetabek, Karawang, dan Bandung, hasilnya kebutuhan beras terbilang tinggi. Potensi di anggota KASBI sebanyak 80 ton per bulan dan anggota KPBI sebanyak 8,5 ton per bulan.

Untuk sementara RMU Lanusa baru akan menggiling 30 ton beras dari 50 ton GKP per bulan atau berasal 12 hektar lahan sawah yang dimiliki banyak petani gurem. Kebutuhan ini akan terus bertambah seiring semakin banyak panen petani di berbagai lumbung padi.

Beras didatangkan dari Majalengka dan Indramayu serta dari Batang di Jawa Tengah. Konsumennya adalah buruh di kantong industri Jabodetabek dan Bandung Barat.

Menurut KPA, produksi beras bisa dibilang masih kecil. Namun, kolaborasi petani dan buruh ini menjadi solidaritas besar untuk memperjuangkan keadilan pangan berbasis reforma agraria.

Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika mengatakan, RMU Lanusa menjadi badan usaha ekonomi pertama yang mereka kelola. Kehadirannya menjadi wujud ikhtiar KPA dan kelompok buruh memajukan pembangunan pangan. Sudah sepantasnya, kata dia, potensi sentra pangan dikelola dan dinikmati keuntungannya merata untuk semua warga.

Gabah kami kumpulkan dari sawah-sawah kecil produktif petani yang sebelumnya selalu menjadi korban terimpit konflik dan berada dalam ketidakpastian masa depannya,” katanya.

Tidak hanya itu, para petani juga mengalami ketimpangan penguasaan tanah. Saat ini, mereka hanya bisa menggarap lahan-lahan kecil, 2.000-3.000 meter persegi. Kondisi itu membuat mereka sulit mendapatkan akses pemerataan ekonomi, tapi terus-menerus berada dalam kemiskinan struktural.

Dalam konteks politik pangan, mereka juga sebelumnya terbilang kesulitan mengakses berbagai macam hal pendukung pertanian. Mulai dari kesulitan mendapat pupuk, benih, hingga menikmati kemudahan permodalan, infrastruktur pertanian, hingga akses pasar yang adil.

”Lewat RMU, kami hendak memperlihatkan kalau reforma agraria sangat potensial mendukung swasembada pangan terbaik bangsa ini,” kata Dewi.

Ke depan, Dewi mengatakan, RMU serupa dirancang bakal berdiri di lumbung pangan lainnya, mulai dari kawasan pantura hingga Priangan, Jabar.

”Selain membuka pasar, kami juga akan memberikan edukasi kepada petani tentang berbagai ilmu pertanian yang tak mereka dapatkan sebelumnya. Harapannya, mereka terus menghasilkan panen terbaik,” ujarnya.

Kini petani lebih disiplin memilih benih IR bersertifikat. Ini demi memastikan berasnya premium dan masuk kualifikasi RMU. Mulai dari gabah kering panen dengan kadar air 25 persen hingga gabah kering giling maksimal 14 persen,” katanya.lingkarmedia.com

Petani juga sekarang lebih percaya diri menggunakan pupuk organik. Ada banyak petani menggunakan pupuk yang sama dan hasilnya memuaskan. Tidak bergantung lagi pada pupuk kimia yang mahal dan merusak kesuburan tanah.

Penulis : Ramses

Editor: Samsu