Karnaval Budaya Merti Desa Tulungrejo, Warga Rayakan Satu Abad Selamatan Desa dan HUT RI ke-81

IMG_20260805_203331

LINGKARMEDIA.COM – Ribuan warga memadati sepanjang rute Karnaval Budaya Merti Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rabu (5/8/2026). Kegiatan yang menjadi puncak rangkaian Selamatan Desa Tulungrejo ini berlangsung semarak sekaligus menjadi perayaan satu abad tradisi selamatan desa serta memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Karnaval budaya yang digelar setiap dua tahun sekali tersebut diikuti 37 kontingen dari lima dusun di Desa Tulungrejo, yakni Dusun Wonorejo, Junggo, Gerdu, Gondang, dan Kekep. Selain itu, peserta juga berasal dari unsur PKK Desa Tulungrejo, Karang Taruna, lembaga pendidikan, hingga siswa taman kanak-kanak yang turut menampilkan beragam atraksi budaya.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/ritual-puja-manusuk-shima-sangguran-ke-5-digelar-teguhkan-tekad-pulangkan-prasasti-sangguran/

Sejak pagi, masyarakat telah memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan berbagai penampilan peserta. Beragam kostum tradisional, kesenian daerah, hingga miniatur budaya Nusantara ditampilkan dengan penuh kreativitas. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya masyarakat yang rela berdiri di sepanjang jalan demi menyaksikan iring-iringan karnaval.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, mengatakan Karnaval Budaya Merti Desa bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat persatuan masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya desa.

“Karnaval budaya ini merupakan rangkaian acara selamatan desa sekaligus memeriahkan HUT RI ke-81. Semoga dengan karnaval ini semakin mempererat kebersamaan dan melestarikan budaya leluhur,” ujar Suliono dalam sambutannya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Ia menambahkan, tema yang diangkat tahun ini, “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti”, memiliki makna mendalam tentang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta ajakan untuk menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu. Nilai tersebut diharapkan terus hidup di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut Suliono, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap gotong royong, toleransi, dan kebersamaan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat dilibatkan dalam pelaksanaan Merti Desa agar rasa memiliki terhadap budaya lokal semakin kuat.

Salah satu kontingen yang menjadi perhatian masyarakat adalah rombongan RW 03 yang menghadirkan Anggota Komisi A DPRD Kota Batu dari Fraksi PDI Perjuangan, Khamim Tohari. Dalam kesempatan tersebut, Khamim tampil mengenakan kostum Patih Majapahit yang menarik perhatian ribuan penonton.

Kostum yang dikenakannya merupakan koleksi Gong Production asal Madiun dengan desain menyerupai busana kebesaran pejabat Kerajaan Majapahit. Penampilannya menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam karnaval karena menghadirkan nuansa sejarah kerajaan besar yang pernah berjaya di Nusantara.

Khamim menjelaskan bahwa keikutsertaannya bukan sekadar untuk memeriahkan acara, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.

“Ini bukan sekadar acara seremoni saja, tetapi juga sebagai upaya uri-uri budaya leluhur yang saat ini mulai terlupakan,” ungkapnya.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Ia menilai kegiatan seperti Merti Desa memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah, tradisi, dan budaya kepada generasi muda. Dengan mengenal budaya sejak dini, diharapkan muncul rasa bangga serta keinginan untuk menjaga warisan leluhur.

“Kami ingin generasi muda saat ini dapat memahami sejarah dan perjuangan pendahulu kita serta memiliki semangat melestarikan budaya leluhur,” katanya.

Lebih lanjut, Khamim menjelaskan bahwa tokoh Patih Majapahit yang diperankannya memiliki filosofi kepemimpinan, pengabdian, dan tanggung jawab dalam menjaga kerajaan. Filosofi tersebut dinilai masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

“Patih Kerajaan Majapahit bertugas menjaga dan mengawal ratu. Filosofinya adalah menjaga serta melindungi kekayaan kerajaan. Semangat kami adalah menghidupkan kembali budaya yang mulai dilupakan masyarakat,” ujarnya.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Selain menjadi sarana hiburan rakyat, Karnaval Budaya Merti Desa juga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha mikro dan pedagang lokal. Selama kegiatan berlangsung, kawasan sekitar lokasi dipenuhi pedagang makanan, minuman, hingga produk kerajinan yang ramai dikunjungi masyarakat.

Bagi warga Tulungrejo, Merti Desa merupakan tradisi yang memiliki nilai spiritual sekaligus sosial. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi, keselamatan, dan harapan agar desa senantiasa diberikan keberkahan serta kemakmuran. Karena itu, setiap pelaksanaannya selalu mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Perayaan satu abad Selamatan Desa Tulungrejo tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kebersamaan sekaligus menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat, pemerintah desa berharap tradisi Merti Desa tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan Kota Batu.

 

Penulis: Samsu

Editor: Ramses