Enam Pemilik Media Undang Wartawan Pokja Jurnalis Kota Batu Dalam Buka Bersama

IMG-20250325-WA0174

Kota Batu, lingkarmedia.com – Sebanyak 6 pemilik media online menggelar acara buka puasa bersama di Nasi Tempong Desa Punten Kecamatan Bumiaji dengan mengundang awak media masing-masing yang melakukan liputan di wilayah Kota Batu dan Malang Raya , pada Selasa (23/3/2025).

Ke enam pemilik tersebut diantaranya dari media Jurnal Nusa, Seruling Media, SIAP TV, Edukasi RI, Pendidikan Nasional dan Lingkar Media baik yang tergabung dalam SMSI dan JMSI. Selain mengundang awak media tersebut ikut diundang dari beberapa rekan awak media yang tergabung dalam Pokja Jurnalis Kota Batu (PJKB) .

Buka puasa bersama sendiri bukan sekadar momen berbagi hidangan setelah seharian menjalankan tugas jurnalis di bulan puasa, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan sesama insan jurnalis.

Sebagai pemilik Seruling Media yang juga tergabung dalam JMSI sekaligus Ketua PJKB, Buang Supeno, menuturkan bahwa tradisi buka bersama ini menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan sosial, baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, maupun masyarakat luas. Dalam setiap kebersamaan yang tercipta, terdapat nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan kepedulian yang memperkuat ikatan antar individu.

” Berbuka puasa bersama mengajarkan arti penting berbagi. Tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga kebahagiaan dan kehangatan dalam interaksi sosial, ” ujarnya.

Sementara itu, Doi Nuri yang juga pemilik media Jurnal Nusa sekaligus Ketua SMSI Malang Raya mengatakan, ” dalam suasana seperti ini, semua orang duduk dalam satu meja, tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun budaya. Setiap individu mendapatkan kesempatan yang sama untuk merasakan kebersamaan dan saling menghargai “.

Hanya saja, di tengah makna luhur dari buka puasa bersama, terkadang muncul individu atau kelompok yang justru menciptakan perpecahan. Mereka yang menjadikan acara ini sebagai ajang politik, memperuncing perbedaan, atau menebar kebencian sejatinya tidak memahami esensi dari buka puasa bersama.

” Padahal, dalam ajaran Islam maupun dalam nilai-nilai kemanusiaan universal, berbuka puasa seharusnya menjadi sarana mempererat hubungan, bukan malah memisahkan, ” tambahnya.

Kalaupun ada yang mencoba mengotori makna buka puasa bersama dengan konflik dan perpecahan, maka perlu diingatkan kembali bahwa tujuan utama dari tradisi ini adalah menciptakan keharmonisan. Kepedulian terhadap sesama, kebersamaan dalam keberagaman, serta semangat untuk saling menghormati adalah inti dari buka puasa bersama.

” Oleh karena itu, marilah kita menjaga tradisi ini dengan penuh keikhlasan, menjadikannya sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi, dan menjauhkan diri dari segala bentuk perselisihan, ” tutur Ketua SMSI Malang Raya.

Buka puasa bersama adalah bukti nyata bahwa kepedulian dan kebersamaan dapat diwujudkan dalam tindakan sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi keharmonisan masyarakat. Selama kita memahami esensi dari berbuka bersama, maka tidak akan ada ruang bagi perpecahan. Sebaliknya, kita akan semakin kokoh dalam menjalin persaudaraan dan membangun kebersamaan yang lebih erat di tengah masyarakat.

(Ji)