Ruwat Banyu ke-210 di Giripurno, Pesan Pelestarian Sumber Air Disampaikan Lewat Wayang Kulit

IMG_20260906_121658

Kota Batu, Lingkarmedia.com – Sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, warga Dusun Sabrang Bendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggelar tradisi Ruwat Banyu ke-210, Sabtu (5/9/2026).

Tradisi tahunan tersebut dikemas melalui pagelaran wayang kulit dengan mengangkat tema “Umbul Banyu”. Selain menjadi bagian dari pelestarian budaya dan ungkapan rasa syukur masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga sumber air serta kelestarian lingkungan.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/polemik-sumber-air-gimbo-belum-temui-titik-terang-warga-minta-alat-bor-dikeluarkan/

Pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah pesatnya pembangunan dan perkembangan sektor pariwisata di Kota Batu. Masyarakat berharap pembangunan tetap memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam, terutama mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga.

Dalang Ki Ompong yang membawakan lakon “Umbul Donga” menegaskan bahwa air tidak hanya memiliki nilai dalam tradisi masyarakat Jawa, tetapi juga merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga keberadaannya.

“Saya mengambil tema Umbul Donga ini dengan maksud agar menjadi pesan yang sangat penting kepada umat manusia untuk terus melestarikan alam, khususnya sumber air sebagai sumber kehidupan. Jangan merusak alam, sebab karma alam itu sangat dahsyat jika manusia lalai terhadap alam,” tegasnya.

Dalam filosofi Jawa, umbul donga dimaknai sebagai upaya “menaikkan” doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi tersebut menjadi simbol permohonan keselamatan, ketenteraman dan kesejahteraan, sekaligus ungkapan syukur masyarakat terhadap sumber kehidupan yang diberikan oleh alam.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Namun, pesan yang disampaikan dalam Ruwat Banyu ke-210 tidak berhenti pada aspek ritual dan spiritual. Masyarakat juga menjadikan kegiatan budaya tersebut sebagai media untuk menyampaikan kegelisahan terhadap arah pembangunan Kota Batu yang dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap lingkungan apabila tidak dilakukan secara bijaksana.

Ketua Pelaksana Ruwat Banyu, Robiyan, mengatakan pagelaran budaya tersebut sengaja dijadikan sebagai pemantik kesadaran berbagai pihak, khususnya Pemerintah Kota Batu, agar keberadaan sumber-sumber air tidak diabaikan demi kepentingan investasi maupun peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Gelaran kebudayaan ini agar menjadi pemantik bangkitnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga sumber air yang ada di Kota Batu. Jangan sampai Pemerintah Kota dengan mudah memberikan izin kepada para pemodal yang masuk ke Kota Batu tanpa mempelajari secara detail dan rinci dampak-dampak pengembangan pariwisata yang sangat merugikan masyarakat,” tegas Robiyan, yang juga Ketua Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN).

Menurut Robiyan, perjuangan mempertahankan alam, khususnya sumber mata air, tidak selalu harus dilakukan melalui aksi langsung. Kebudayaan juga dapat menjadi sarana untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengingatkan masyarakat dan pemerintah mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam.

“Perjuangan melestarikan alam dan mempertahankan sumber mata air dapat dilakukan lewat pagelaran budaya yang memiliki pesan yang tegas,” tandasnya.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Ia menilai pembangunan tidak semestinya hanya diukur berdasarkan besarnya investasi maupun peningkatan PAD. Aspek ekologis, keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam setiap kebijakan pembangunan.

Pesan tersebut semakin kuat karena rangkaian pagelaran wayang kulit dilanjutkan pada sore hingga malam hari dengan lakon “Mudune Wahyu Pulung Sejati Sri Rejeki”, yang dimainkan dalang Ki Mugo Utomo.

Dalam tafsir filosofi Jawa, Mudune Wahyu Pulung Sejati Sri Rejeki menggambarkan turunnya anugerah, keberuntungan, kewibawaan serta jalan menuju kemakmuran. Namun, keberuntungan tersebut tidak dimaknai sebagai alasan untuk mengeksploitasi alam ataupun menyalahgunakan kekuasaan.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Sebaliknya, anugerah harus dijaga melalui laku yang baik, kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

“Ketika wahyu dan pulung sejati turun, terbukalah jalan Sri Rejeki. Tetapi keberkahan itu harus dijaga dengan laku utama,” menjadi pesan filosofis yang mengiringi lakon tersebut, disampaikan Ki Mugo Utomo.

Ia menjelaskan, Mudune Wahyu Pulung Sejati Sri Rejeki dapat dimaknai sebagai datangnya anugerah luhur dan keberuntungan sejati yang membuka jalan menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Namun, kemakmuran tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga kehidupan. Dalam konteks Kota Batu, pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan pembangunan dan pariwisata.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Pembangunan dan pariwisata boleh berkembang, tetapi jangan sampai mengorbankan sumber air, lingkungan serta ruang hidup masyarakat.

Filosofi Jawa mengenal prinsip “Memayu Hayuning Bhawana”, yakni menjaga keselamatan, ketenteraman dan kebaikan kehidupan. Prinsip tersebut menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak atas alam, melainkan sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan.

Melalui Ruwat Banyu ke-210, warga Dusun Sabrang Bendo menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya menjadi warisan masa lalu. Kebudayaan juga dapat menjadi ruang refleksi untuk mengingatkan seluruh pihak bahwa keberkahan sumber air harus dirawat bersama agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.

 

Penulis : Samsu