Gelombang Panas Eropa Tewaskan Ribuan Orang, Belanda Catat Hampir 3.000 Kematian Akibat Suhu Ekstrem
LINGKARMEDIA.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan Eropa Barat pada akhir Juni hingga awal Juli 2026 menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Belanda menjadi salah satu negara yang mencatat lonjakan angka kematian paling signifikan, dengan hampir 3.000 orang meninggal dunia dalam periode tersebut.
Data dari Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) menunjukkan sebanyak 2.964 orang meninggal selama akhir Juni hingga awal Juli 2026. Angka itu sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata jumlah kematian pada periode musim panas dalam kondisi normal.
Dalam keterangannya, RIVM menyebut penyebab pasti setiap kematian memang belum dapat dipastikan. Namun, lembaga tersebut menilai sangat besar kemungkinan bahwa suhu panas ekstrem menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya angka kematian.
Gelombang panas kali ini menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah Belanda. Pada puncaknya, suhu udara di sejumlah wilayah mencapai 40 derajat Celsius, bahkan menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Wilayah bagian selatan dan timur Belanda menjadi daerah yang paling terdampak karena mengalami suhu lebih tinggi dan durasi gelombang panas yang lebih lama dibandingkan wilayah lainnya. Akibatnya, angka kematian di kedua kawasan tersebut tercatat paling tinggi.
RIVM mengungkapkan kelompok yang paling rentan terhadap cuaca panas ekstrem adalah lansia berusia di atas 80 tahun. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh dalam mengatur suhu menurun, produksi keringat berkurang, serta risiko mengalami dehidrasi meningkat secara signifikan.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Selain lansia, penderita penyakit kronis seperti gangguan jantung, pembuluh darah, paru-paru, maupun penyakit pernapasan lainnya juga menghadapi risiko lebih besar ketika suhu udara melonjak drastis.
Kualitas udara yang memburuk selama gelombang panas turut memperparah kondisi tersebut. Tingginya kadar polusi dan ozon di atmosfer meningkatkan risiko gangguan pernapasan serta penyakit kardiovaskular, terutama bagi kelompok rentan.
Selama periode 22 hingga 28 Juni 2026, Belanda mencatat 586 kematian berlebih, atau lebih dari 100 kasus di atas perkiraan normal. Sementara pada 29 Juni hingga 5 Juli, tercatat tambahan 325 kematian berlebih.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Menurut RIVM, sebagian korban meninggal pada pekan kedua merupakan dampak lanjutan dari paparan suhu ekstrem. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami komplikasi kesehatan akibat gelombang panas meskipun suhu udara telah mulai menurun.
Para ahli menjelaskan bahwa suhu panas ekstrem dapat memicu gangguan serius pada sistem tubuh manusia. Saat cuaca sangat panas, hipotalamus mengalihkan aliran darah menuju permukaan kulit untuk membantu proses pendinginan tubuh. Akibatnya, organ-organ vital seperti otak, jantung, ginjal, hati, dan saluran pencernaan menerima pasokan darah yang lebih sedikit.
Kondisi tersebut dikenal sebagai iskemia, yaitu berkurangnya aliran darah ke jaringan tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan organ. Selain itu, suhu tinggi juga dapat menyebabkan sitotoksisitas, yakni kerusakan langsung pada sel-sel tubuh akibat panas berlebih.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Kedua mekanisme tersebut dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari gagal ginjal, gangguan fungsi jantung, stroke, hingga Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) atau respons peradangan sistemik yang dapat berujung pada kegagalan multiorgan dan kematian.
Gelombang panas tahun ini juga menjadi yang pertama membuat badan meteorologi Belanda, KNMI, mengeluarkan peringatan cuaca pada level tertinggi akibat suhu ekstrem. Menariknya, peringatan serupa bahkan tidak pernah diterbitkan ketika Belanda mencatat rekor suhu tertinggi pada tahun 2019.
Belanda bukan satu-satunya negara yang mengalami dampak buruk dari cuaca panas ekstrem. Sejumlah negara Eropa lainnya seperti Belgia, Inggris, Prancis, Spanyol, hingga Jerman juga melaporkan ribuan kematian berlebih selama gelombang panas berlangsung.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Di Jerman, suhu udara bahkan mencapai 42,6 derajat Celsius, memecahkan rekor nasional sebelumnya sebesar 40,5 derajat Celsius. Belgia juga mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarahnya, yakni 40,7 derajat Celsius di wilayah Beitem.
Minimnya penggunaan pendingin ruangan turut memperparah kondisi di Eropa. Berbagai laporan menyebut hanya sekitar lima persen rumah di Eropa yang memiliki fasilitas pendingin udara (AC). Banyak bangunan publik juga belum dilengkapi sistem pendingin yang memadai sehingga masyarakat kesulitan mencari tempat berlindung dari suhu ekstrem.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan. Layanan transportasi di sejumlah negara terganggu akibat rel kereta yang memuai karena suhu tinggi, sementara pemerintah setempat mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan mencari tempat yang lebih sejuk.
Di Prancis, gelombang panas juga memperparah risiko kebakaran hutan. Sedikitnya 1.300 hektare kawasan hutan Fontainebleau, sekitar 60 kilometer di tenggara Paris, hangus dilalap api. Hutan bersejarah yang berstatus Cagar Biosfer UNESCO itu mengalami kebakaran besar yang mengganggu lalu lintas jalan raya dan perjalanan kereta api saat musim liburan.
Sekitar 600 petugas pemadam kebakaran dikerahkan bersama pesawat pemadam yang melakukan ratusan kali penyiraman air dari udara untuk mengendalikan kobaran api. Kepolisian Prancis juga menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam aksi pembakaran yang memicu kebakaran hutan tersebut.
Sementara itu, kelompok ilmuwan World Weather Attribution menyatakan bahwa gelombang panas yang melanda Eropa pada Juni 2026 hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim. Menurut mereka, pemanasan global telah meningkatkan peluang sekaligus intensitas terjadinya cuaca panas ekstrem di berbagai wilayah dunia.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa perubahan iklim kini bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan telah memberikan dampak nyata terhadap kesehatan, lingkungan, dan keselamatan masyarakat di berbagai negara.
Penulis: Ramses
Editor: Samsu








