UPLAND Kementan Dongkrak Produktivitas Bawang Merah di Kabupaten Malang, Panen Tembus 18 Ton per Hektare
LINGKARMEDIA.COM – Program Upland Agriculture and Livelihood Improvement Project (UPLAND) yang dijalankan Kementerian Pertanian Republik Indonesia terus menunjukkan hasil positif di Kabupaten Malang. Melalui pembangunan berbagai infrastruktur pertanian, program ini berhasil meningkatkan produktivitas bawang merah, memperluas akses petani terhadap sumber air, memperbaiki sarana transportasi hasil panen, hingga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan dataran tinggi.
Kabupaten Malang menjadi salah satu dari 14 kabupaten di Indonesia yang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan proyek UPLAND. Program tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui pengembangan sistem pertanian terpadu dari hulu hingga hilir (on-farm hingga off-farm). Selain memperkenalkan teknologi pertanian modern, UPLAND juga berorientasi pada penguatan infrastruktur, efisiensi produksi, serta peningkatan daya saing komoditas untuk pasar ekspor.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian RI, Dr. Ir. Hermanto, M.P, menegaskan bahwa Kabupaten Malang memiliki potensi besar sebagai sentra hortikultura nasional, khususnya untuk komoditas bawang merah. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja dan monitoring pelaksanaan Program UPLAND di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jumat (10/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Hermanto bersama jajaran pemerintah daerah meninjau langsung berbagai infrastruktur yang telah dibangun melalui Program UPLAND, mulai dari embung, sistem perpipaan irigasi, hingga Jalan Usaha Tani (JUT) yang kini memudahkan akses petani menuju lahan pertanian.
Menurut Hermanto, fokus utama Program UPLAND di Kabupaten Malang adalah pengembangan bawang merah secara terintegrasi dari proses budidaya, penyediaan sarana produksi, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran.
“Di Kabupaten Malang, fokus program ini adalah pengembangan bawang merah yang terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Kita tadi sudah melihat bersama-sama infrastruktur yang dibangun untuk mendukung sistem pengembangan budidaya bawang merah secara terintegrasi,” ujarnya.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Ia menjelaskan, sebelum adanya Program UPLAND, para petani bawang merah menghadapi berbagai persoalan klasik, terutama keterbatasan akses jalan menuju lahan pertanian dan minimnya ketersediaan air saat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat petani hanya mampu menanam satu hingga dua kali dalam setahun sehingga produktivitas dan pendapatan relatif rendah.
Melalui pembangunan embung, jaringan perpipaan irigasi, serta Jalan Usaha Tani, kondisi tersebut kini berubah secara signifikan. Ketersediaan air menjadi lebih stabil sepanjang tahun, sementara distribusi hasil panen maupun sarana produksi menjadi lebih mudah dan efisien.

“Sebelum adanya UPLAND, petani masih banyak menemukan kesulitan dan kendala dalam pengembangan budidaya bawang merah, terutama terkait akses transportasi dan ketersediaan air. Penanaman bawang merah hanya terbatas satu sampai dua kali dalam setahun,” ungkap Hermanto.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Setelah berbagai infrastruktur tersebut selesai dibangun, intensitas tanam meningkat menjadi tiga hingga empat kali dalam satu tahun. Bahkan, pada beberapa lokasi petani mampu mempertahankan produktivitas meskipun menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
Peningkatan frekuensi tanam tersebut juga berdampak langsung terhadap hasil produksi. Jika sebelumnya rata-rata produksi bawang merah hanya sekitar 11 ton per hektare, kini hasil panen mampu mencapai 16 hingga 18 ton per hektare setiap musim panen.
“Hasil panen melonjak cukup signifikan. Dari yang sebelumnya hanya menghasilkan 11 ton per hektare, sekarang sudah bisa mencapai 16 ton hingga 18 ton per hektare per panen,” jelasnya.
Hermanto menambahkan bahwa secara administrasi Program UPLAND akan memasuki tahap penutupan atau closing pada Oktober 2026. Karena itu, pemerintah daerah diminta menyiapkan strategi keberlanjutan agar seluruh infrastruktur yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan secara optimal.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Malang bersama masyarakat mampu menyusun exit strategy yang jelas, mulai dari aspek pemeliharaan, pengelolaan hingga pengembangan kawasan pertanian yang telah dibangun melalui Program UPLAND.
“Mengingat proyek ini akan memasuki tahap closing secara administrasi pada bulan Oktober, kami mengharapkan pemerintah daerah melalui Ibu Wakil Bupati dan Bapak Bupati dapat menyusun exit strategy untuk memastikan bahwa proyek UPLAND yang sudah dibangun dapat terus dirawat, dipelihara, dan dikembangkan secara mandiri oleh pemerintah daerah bersama masyarakat,” tegasnya.
Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti ketika pendanaan selesai, tetapi terus memberikan dampak jangka panjang terhadap peningkatan kesejahteraan petani, khususnya di Kecamatan Pujon dan Kecamatan Ngantang yang selama ini menjadi sentra utama budidaya bawang merah varietas unggulan Batu Ijo.
Sementara itu, Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian atas pelaksanaan Program UPLAND di Kabupaten Malang. Menurutnya, pemerintah daerah memiliki komitmen untuk menjaga keberlanjutan program tersebut serta memperluas manfaatnya ke wilayah lain.

“Pastinya kami berkomitmen untuk mengembangkan, kalau bisa tidak hanya bermanfaat untuk masyarakat di sini saja,” kata Lathifah.
Ia optimistis keberadaan embung, jaringan irigasi, serta Jalan Usaha Tani mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat desa.
Menurutnya, peningkatan frekuensi tanam dari dua kali menjadi tiga bahkan empat kali dalam setahun akan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi petani.
“Kalau sebelum UPLAND satu tahun dua kali penanamannya, kemudian sudah dikembangkan menjadi tiga kali bahkan ada yang empat kali. Otomatis akan membawa dampak secara ekonomi, memberdayakan masyarakat juga meningkatkan kesejahteraannya,” ujarnya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Ir. Avicenna Medisica Saniputera, M.T., M.H. menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi menjelang penutupan Program UPLAND pada tahun 2026.
Ia mengaku telah mendampingi pelaksanaan program sejak tahun 2022, sementara proses perencanaannya telah dimulai sejak 2021.

“Saya mulai mendampingi Program UPLAND sejak tahun 2022, meskipun perencanaannya sudah dimulai sejak 2021. Seharusnya program tahap pertama ini sudah ditutup pada tahun 2025 lalu,” katanya.
Namun demikian, lanjut Saniputera, pihak International Fund for Agricultural Development (IFAD) dan Islamic Development Bank (IsDB) menyetujui perpanjangan pelaksanaan program sehingga sejumlah usulan pembangunan tambahan dari Desa Tawangsari dan Desa Banjarrejo dapat direalisasikan.
“Hasilnya, proposal dari Desa Tawangsari dan Desa Banjarrejo dapat diterima,” jelasnya.
Program UPLAND di Kabupaten Malang sendiri terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama memiliki nilai anggaran sekitar Rp36,3 miliar, sedangkan tahap kedua mencapai Rp13,7 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan embung, revitalisasi embung lama, pembangunan Jalan Usaha Tani, jaringan perpipaan irigasi, hingga berbagai sarana pendukung lainnya.
Kabupaten Malang saat ini memang dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura terbesar di Jawa Timur. Pada tahun 2025, daerah ini berhasil meraih predikat sebagai penghasil sayuran terbesar di provinsi tersebut.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Untuk komoditas bawang merah, luas areal tanam mencapai sekitar 4.500 hektare. Lebih dari 2.000 hektare berada di Kecamatan Pujon dan Ngantang yang menjadi pusat pengembangan bawang merah varietas unggulan Batu Ijo.
Selain Program UPLAND, Kabupaten Malang juga memperoleh dukungan melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang bertujuan mencetak petani muda sekaligus mendorong regenerasi sektor pertanian.
Hingga saat ini terdapat sekitar 13.000 penerima manfaat Program YESS di Kabupaten Malang. Pemerintah daerah menilai keberadaan petani milenial tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing sektor pertanian di masa mendatang.
Saniputera menilai tantangan berikutnya adalah menciptakan ekosistem yang mampu mendukung para petani muda, baik melalui pendampingan teknis, akses permodalan, maupun pengembangan pasar.
“Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Kita harus mampu menciptakan ekosistem yang baik bagi anak-anak muda ini melalui pendampingan dan permodalan agar intervensi pemerintah benar-benar bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Tawangsari Miftahul Anwar mengungkapkan bahwa manfaat Program UPLAND tidak hanya dirasakan oleh petani bawang merah, tetapi juga masyarakat secara umum.

Menurutnya, pembangunan Jalan Usaha Tani telah membuka akses ke berbagai wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau kendaraan. Dampaknya, aktivitas ekonomi masyarakat ikut tumbuh karena distribusi hasil pertanian menjadi lebih cepat dan biaya transportasi menurun.
“Dengan program ini semua warga merasakan, bukan hanya petani bawang merah saja bahkan pedagang pun ikut merasakan. Dengan dibangunnya jalan usaha tani maka jalur yang awalnya tidak bisa dijangkau kendaraan sekarang bisa,” ujarnya.
Keberhasilan Program UPLAND di Kabupaten Malang menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur pertanian yang terintegrasi mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat, keberlanjutan program diharapkan terus terjaga sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh generasi petani berikutnya.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses







