Puncak Selamatan Desa Bumiaji Ditandai Ritual Ider Dungo

IMG_20260704_011826

LINGKARMEDIA.COM – Puncak rangkaian Selamatan Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ditandai dengan ritual sakral “Ider Dungo” atau antar doa yang digelar pada Jumat (3/7/2026) malam. Tradisi tahunan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat ini berlangsung khidmat dengan melibatkan perangkat desa, tokoh adat, sesepuh, dan warga

Ritual dimulai dari Balai Desa Bumiaji, di mana Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto, bersama jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga berjalan kaki menuju sejumlah punden dan makam leluhur yang tersebar di wilayah desa.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/wawali-batu-heli-suyanto-hadiri-istighosah-dan-pengajian-akbar-selamatan-desa-sumberbrantas/

Prosesi ini bukan sekadar perjalanan keliling desa, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini telah berjasa membangun dan menjaga Desa Bumiaji sejak masa lampau.

Dalam ritual tersebut, Edi Suyanto menjalani lelaku khusus berupa “Poso Bisu” dan “Poso Ngalam”, sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun dan menjadi syarat utama bagi pemimpin desa saat menjalankan prosesi Ider Dungo.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Menurut Edi, “Poso Bisu” memiliki makna penyelarasan antara pikiran, ucapan, dan perilaku manusia. Sementara “Poso Ngalam” merupakan bentuk pendekatan spiritual manusia kepada alam semesta sebagai sumber kehidupan.

“Yang kita bawa itu semata-mata adalah doa. Di samping itu ada beberapa sumber air yang menurut kami memiliki karomah dan berkah dari Allah SWT,” ujar Edi.

Ia menjelaskan, air dalam ritual tersebut memiliki simbol sebagai sumber kehidupan. Dalam prosesi Ider Dungo, seluruh peserta diwajibkan menjaga keselarasan hati, pikiran, dan perilaku sambil memanjatkan doa secara khusyuk di dalam hati.

Lihat juga:https://www.facebook.com/shar

“Doa-doa ini kami khususkan untuk keselamatan Desa Bumiaji, kesejahteraan masyarakat, dan penghormatan kepada para leluhur yang telah memberikan manfaat besar bagi desa ini,” lanjutnya.

Salah satu bagian penting dalam ritual ini adalah penggunaan air dari tujuh sumber mata air yang ada di Desa Bumiaji. Dalam filosofi Jawa, angka tujuh atau “pitu” memiliki arti “pitulungan” atau pertolongan.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Ketujuh sumber air itu diyakini membawa berkah dan menjadi simbol harapan agar masyarakat senantiasa mendapat perlindungan serta pertolongan dari Tuhan.

Selain tujuh sumber tersebut, ada pula Sumber Songo atau sembilan sumber yang memiliki makna filosofis mendalam. Menurut Edi, angka sembilan berkaitan dengan istilah “Babakan Hawa Songo” yang menjadi bagian penting dalam pemahaman hidup masyarakat Jawa.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

“Ini adalah simbol perjalanan hidup manusia yang penuh nilai luhur. Filosofi ini menjadi pengingat agar manusia tetap menjaga keseimbangan dengan sesama, alam, dan Tuhan,” jelasnya.

Tradisi Ider Dungo sendiri telah dilaksanakan secara rutin setiap tahun sejak 2011. Edi mengungkapkan, cikal bakal ritual ini mulai dirintis pada 2010 bersama para sesepuh desa dan tokoh masyarakat.

Kala itu, mereka bersepakat untuk menghidupkan kembali tradisi peninggalan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

“Pada 2011, para sesepuh mengajak agar acara ini dibuat lebih mendalam dan sesuai dengan warisan leluhur. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, para pemimpin desa terdahulu sudah menjalankan tradisi ini,” ungkap Edi.

Ia berharap Desa Bumiaji dapat terus berkembang menjadi desa maju tanpa meninggalkan akar budaya yang diwariskan para pendahulu.

“Desa Bumiaji ini adalah cikal bakal Kota Batu. Kami ingin terus maju, tetapi tetap menjaga nilai-nilai luhur budaya warisan leluhur,” tegasnya.

Di sisi lain, tokoh adat sekaligus sesepuh Desa Bumiaji, Ahmad Ruba’i (74), menjelaskan bahwa setiap peringatan 1 Muharam atau 1 Suro, masyarakat Bumiaji menjalankan tiga tahapan ritual utama.

Tahapan pertama adalah Ngunduh Tirto, yakni mengambil air dari tujuh sumber mata air yang dianggap memiliki karomah. Tahap kedua adalah Palereman Tirto, yaitu meletakkan air tersebut di Balai Desa sebagai tempat peristirahatan air sebelum digunakan dalam prosesi puncak.

Sedangkan tahap terakhir adalah Pigunaning Tirto, yaitu pemanfaatan air suci tersebut dalam puncak ritual sebagai simbol berkah dan keselamatan bagi seluruh warga desa.

“Pertama Ngunduh Tirto, mengambil air dari tujuh sumber. Kedua Palereman Tirto, air itu ditaruh di balai desa. Dan malam ini adalah Pigunaning Tirto, artinya air itu digunakan dalam puncak acara,” terang Ahmad Ruba’i.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam prosesi Ider Dungo terdapat tradisi membawa pusaka-pusaka peninggalan leluhur atau yang dikenal sebagai Ider Pusoko.

Pusaka tersebut dibawa mengelilingi desa sambil diiringi doa-doa sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah dan perjuangan para pendahulu.

Selain itu, masyarakat juga membawa 14 tumpeng yang nantinya disuguhkan kepada warga sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.

“Budaya ini hanya meneruskan dan meniru budaya luhur para pamong desa zaman dulu. Ini adalah warisan yang harus tetap dijaga,” pungkasnya.

 

Penulis: Shereen

Editor: Samsu